PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
72. Robert Giles


__ADS_3

Tangannya dengan cepat membuka amplop coklat dari Dewa. Sebuah anak kunci menggelinding jatuh ke atas meja. Mata Arjuna menatap tak percaya.


"Kunci? Apa ini kunci brankas yang diserahkan Pak Salam waktu itu?" gumamnya.


"Aku lelah. Besok pagi saja periksa brankas itu. Sekarang ayo tidur!" katanya pada diri sendiri. Hari sudah pukul sebelas malam sekarang.


*


*


Arjuna langsung membuka laci meja kerja, dimana dia meletakkan brankas milik Dewa. Kotak besi kecil itu kini sudah ada di atas meja. Dirogohnya saku jas dan mengeluarkan aplop coklat yang sudah robek.


Diperiksanya amplop itu. Tak ada pesan apapun, selain sebuah kunci yang dilihatnya tadi malam.


"Coba sajalah." Arjuna memasukkan anak kunci yang didapatnya dari amplop coklat ke lubang kunci pada brankas.


"Brankas biasanya menggunakan kode selain kunci. Tapi Dewa tidak ada menulis kode apapun. Bagaimana bisa membukanya," keluh Arjuna sambil melihat anak kunci yang tergantung di lubang kunci.


Diambilnya lagi amplop coklat dan memotong setiap sisi lipatannya dengan hati-hati. Kemudian dibentang lebar di atas meja. Diperiksanya setiap sudut kertas amplop yang sudah melebar itu. Tak ada kode tersembunyi yang ditulis Dewa di sana.


"Hah! Kau sangat suka membuat teka-teki!" kesal Arjuna. Diremasnya amplop coklat itu dan dilempar ke tempat sampah. Pria itu menggeleng dengan senewen.


"Ah iya ... coba tanggal ulang tahun kami saja," katanya dengan senyum terkembang. Maka kunci itu diputar sesuai tanggal ulang tahun mereka berdua.


"Klik!" Bunyi itu terdengar jelas, sebelum bagian atas besi brankas terbuka.


Arjuna menggeleng. "Amatir!" cibirnya.


Hampir semua orang amatir akan menggunakan tanggal ulang tahun sebagai pin rahasia yang sebenarnya jadi tidak rahasia jika ada yang mengetahui tanggal ulang tahunnya.


Dibukanya kotak dan melihat beberapa kertas. Buku catatan penting, juga artikel dan berkas resmi satu negara, dengan peringatan confidensial berwarna merah di atasnya.


Mata Arjuna langsung tertuju pada berkas itu. Matanya terbelalak. Di berkas itu ada pas foto seorang pria dengan garis wajah bule. Nama yang tertera membuatnya terkejut. Itu Robert Giles!


"Bagaimana pemeriksaan Dicky dan Dewa bisa sampai pada orang yang sama? Siapa dia?" Arjuna membaca berkas berbahasa Inggris itu dengan seksama.


"Seorang pengusaha kelas atas yang menjadi rekanan pemerintah suatu negara. Orang penting dan dilindungi sebagai akibat dari bidang usaha senjata yang dijalaninya.


Arjuna terpaku. "Bagaimana orang sepenting ini bersedia mengotori tangan dengan menculik dan menyakiti Aya?" tanyanya heran.

__ADS_1


"Apakah dia menyukai Aya, lalu ingin merebutnya dari Dewa. Kemudian Dewa dibunuh? Tapi karena Aya akhirnya menikah denganku, lalu dia memutuskan untuk menculik dan membawanya lari?"


Arjuna terus bergumam, mempertimbangkan berbagai kemungkinan.


"Apakah bayi itu miliknya? Dia memaksa Aya?" geram Arjuna. Emosinya meningkat!


"Tidak! Jika dia menyukai istriku, maka Aya tidak akan kehilangan ingatan!" bantahnya sendiri.


"Aarrggghhhh!" Dengan sangat kesal, Arjuna mengusap rambut dan meremasnya hingga kepalanya sakit sendiri.


Setelah beberapa saat, Arjuna kembali tenang dan mulai memeriksa catatan yang ditulis tangan oleh Dewa sendiri.


"Apa!" serunya tak percaya. Tapi matanya terus bergerak cepat untuk membaca semua catatan Dewa tentang Robert Giles.


Tangannya menutup mulut, agar tidak sampai berteriak dan mengumpat setelah membaca semua catatan Dewa hingga selesai.


"Dia anak papa dengan pacar bulenya? Dan demi menjaga nama baik keluarga besar mama, papa tidak pernah mau mengakui anak itu," desisnya tak percaya.


"Dia pantas marah pada papa karena tidak diakui dan ditelantarkan, dibuang dan mungkin hidup sulit. Tapi aku, Dewa, dan Aya tidak ada sangkut pautnya. Kenapa dia mengganggu semua orang yang berhubungan denganku!"


"Sialan kau Robert. Aku tak akan mengampunimu! Meski kau orang yang sangat penting sekalipun!"


Arjuna langsung mengemasi lagi semua berkas ke dalam brankas dan menguncinya. Menyimpan di laci meja serta menguncinya lagi. Berkas itu memang sangat rahasia.


Disambarnya jas dan langsung keluar ruangan. "Aku mau ke kantor polisi!" katanya sebelum Luna bertanya.


"Baik, Bos!" Luna hanya melihatnya menghilang, dengan keheranan.


"Aku sudah tahu siapa itu Robert Giles. Dia orang yang berbahaya. Apapun link yang kau buka untuk mencarinya, hapus!" perintah Arjuna pada Dicky.


"Seberbahaya itu? Ok. Thanks untuk informasinya," jawab Dicky.


"Dari mana Anda mengetahuinya? Dia tak akan ditemukan dalam pencarian internet!" tanya Dicky ingin tahu.


"Catatan Dewa!" sahut Arjuna singkat.


"Anda di mana sekarang?" tanya Dicky setelah diam cukup lama.


"Menuju kantor polisi. Dua tahanan itu mungkin akan berada dalam bahaya!" jelas Arjuna sambil menyetir.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin!" bantah Dicky. "Mereka kan orangnya sendiri!"


"Orang sekeji itu, mampu melakukan apa saja!" Arjuna menyimpulkan.


"Baiklah. Anda juga harus berhati-hati, Bos. Aku khawatir, Dewa dilenyapkan karena mencari tahu tentang dirinya!" Dicky memperingatkan.


Arjuna sedikit tersentak mendengarnya. "Mungkinkah itu?" batinnya.


Sesampainya di kantor polisi, tidak mudah bagi Arjuna untuk bisa bertemu dengan tahanan itu lagi. Terutama karena berkas kedua orang itu sudah dikerjakan dan dia tak membawa pengacara.


"Baiklah. Karena hari ini pengacaraku tak bisa datang, maka aku hanya ingin mengatakan. Mereka berdua bekerja untuk orang yang berbahaya. Jadi, jagalah dengan benar. Jika terjadi sesuatu, maka kasus penculikan istriku bisa buntu!" kata Arjuna kesal.


"Anda bisa berikan informasi yang anda dapatkan pada kami, ntuk mempermudah penyelidikan," kata polisi.


"Kembaranku, Dewa, tewas setelah menyelidiki orang itu! Anda sanggup menerima konsekwensinya?" Mata Arjuna menatap polisi itu tak berkedip. Bukan pandangan mengancam tapi pandangan keseriusan akan kata-kata yang diucapkannya.


Polisi itu diam sesaat. Tapi kemudian mengangguk. "Itu resiko pekerjaan!" jawabnya enteng.


"Hah!" Arjuna menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Tak percaya jika kesungguhannya dianggap lelucon oleh polisi itu. Dia menyerah.


Diambilnya kertas, menyobeknya sedikit dan menuliskan nama Robert Giles disana. Kertas itu diangsurkan di bawah tangan pada polisi.


"Hanya ini yang bisa saya bagi! Sisanya cari sendiri, kalau mau uji nyali!"


"Saya akan kembali besok pagi ke sini, dengan pengacara. Saya ingin bertemu dengan dua tahanan itu, sekali lagi."


Polisi mengangguk dan melihat lagi sobekan kertas yang diberikan Arjuna tadi. Dilihatnya pria tampan itu berjalan pergi dengan tergesa-gesa.


"Apakah orang ini seberbahaya yang dikatakannya?" Jari polisi itu mulai melakukan pencarian atas informasi yang didapatnya barusan.


Satu jam berlalu, tak ada petunjuk apapun yang muncul tentang nama itu. Seperti tidak pernah ada orang dengan nama Robert Giles di dunia ini. Setiap kali dia mendapatkan setitik harapan, setiap kali juga dia terbentur peringatan CONFIDETIAL!


Polisi itu menghentikan pencarian saat jam kerjanya berakhir. Ditutupnya pencarian dengan rapi dan menghapus semua jejak. Setelah terbentur dengan informasi rahasia berulang kali, dia merasakan sedikit kekhawatiran juga.


Sebelum pulang, dilihatnya keadaan tahanan yang sedang beristirahat. Tapi polisi itu tak mengatakan apapun. Dia pergi dengan harapan, bahwa semua yang ditakutkan Arjuna tidak akan menjadi kenyataan.


Jalanan ramai di jam pulang kantor petang itu diwarnai insiden maut. Seorang polisi tewas setelah motor yang dikendarainya kehilangan kendali dan terjun dari jalan layang!


Arjuna yang mendengar berita itu dari radio mobil, terkejut. "Apakah dia polisi yang kuberi informasi tadi siang?" batinnya penuh penyesalan.

__ADS_1


********


__ADS_2