PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
11. Kehilangan Dewa


__ADS_3

H-3.


Laporan Dewa tadi malam tidak mengecewakan. Tapi juga tidak sesuai dengan keinginan awalnya. Progress yang disampaikan Dewa masihlah merupakan rencana pembalasan korban lain. Bukan pembalasan yang dilakukan Dewa untuknya. Namun Aya tahu, bahwa memang, jika Dewa ceroboh, maka hal itu hanya akan menjeratnya dalam tindakan kriminal.


Pria waras dan logis yang tidak mencintainya, pasti tidak mau mengambil resiko tersebut. Dewa tidak mencintainya. Ini hanya perjodohan keluarga yang pria itu tak bisa tolak. Sama seperti dirinya yang tak bisa menolak kehendak eyang.


"Memangnya apa yang kuharap? Aku saja tidak menyukainya. Masa mengharap dia tergila-gila padaku hanya karena melihat foto?" Aya tergelak sendiri di kamarnya. Dia bisa bersantai sejenak sebelum Mbok Darmi kembali datang dan melakukan ritual untuk calon penganten.


"Semoga dia mendapat hasil yang lebih bagus hari ini," harap Aya.


"Ahh ... terserahlah. Jika dia gagal, aku juga tak rugi!" ujarnya kesal.


Aya mulai kesal karena gara-gara kesepakatan itu, dia jadi lebih sering memikirkan pria itu. Dan itu terasa sangat menyebalkan baginya.


H-2.


Gayatri merasa gelisah pagi ini. Satu harian kemarin Dewa tidak menghubunginya sama sekali.


"Apa saja sih yang dikerjakannya?" kesal Aya.


"Dia bahkan tidak melaporkan perkembangan urusan itu!" geramnya.


Hari ini, Gayatri tampak kehilangan moodnya. Dia uring-uringan sejak pagi. Semua art yang masuk kamar dan membawakan makan ataupun perlengkapannya, kena semprot. Hingga mami terpaksa turun tangan.


"Kamu kenapa, Nduk?" tanya mami lembut.


Dalam tiga hari belakangan, sikap Aya sudah cukup kooperatif menurut mami. Tapi kenapa pagi ini justru berulah lagi?


"Apa kamu mau haid?" tanya mami.


"Enggak. Aya cuma kesal. Si Dewa itu bahkan tidak menghubungiku sekali pun kemarin!" katanya dengan nada emosi.


Mami tersenyum mendengarnya. "Apa kau mulai menyukainya?" ajuk mami.


"Suka apanya? Kami punya perjanjian. Tapi dia bahkan tak memberi kabar apa-apa!" Aya berusaha meluruskan pemikiran mami.

__ADS_1


"Kalau suka juga enggak apa-apa kok," goda mami lagi.


"Huh! Mami susah diajak bicara!" gerutu Aya.


Dia tidur menelungkup di tempat tidur. Bosan dengan semua persiapan di rumah dan juga karena dia masih terus dikurung si dalam kamar.


"Kalau kamu ndak punya masalah, maka mami mau keluar. Masih banyak yang harus disiapkan di luar." Mami bangkit berdiri.


"Persiapan apa lagi sih? Bukannya hanya acara kecil saja?" celetuk Aya malas.


"Besok acara siraman kamu. Jangan lupa. Dan jangan berbuat macam-macam lagi!" Mami memperingatkan.


"Membosankan!"


Aya bergulingan di tempat tidur dan kembali membuat sepreinya kusut. Mami hanya bisa mengurut dada dan meninggalkan kamar Aya dengan dongkol.


Malam hari, Dewa masih belum juga menghubunginya. Gayatri benar-benar gelisah dibuatnya. Pikirannya kalut.


"Apa dia kabur dan membatalkan pernikahan kami?" Kening Aya mengerut.


"Ini tidak benar!" kesalnya.


"Kan seharusnya aku yang menolak. Kenapa dia yang menghilang?"


Malam itu, Gayatri tidur dengan gelisah. Berbalik ke kanan dan ke kiri.


H-1.


Sejak pagi rumah itu sudah sibuk. Beberapa kerabat sudah datang dan membantu. Hari ini acara siraman gadis keluarga Sangaji. Ini adalah prosesi siramannya yang ke tiga kali.


Beberapa lelucon terdengar. "Mbak Aya hatrik!" ujar mereka lalu tergelak dengan ramainya.


Meskipun mami tersenyum, tapi tak urung hatinya juga sakit putrinya diledek seperti itu.


Pukul sepuluh pagi acara siraman akan dimulai. Tapi Dewa masih tak juga menelepon. Tak ada kabar apapun, bahkan dari keluarganya.

__ADS_1


Gayatri sudah merasa tak yakin dengan rencana pernikahan esok hari.


"Ayo, sudah waktunya. Nanti kegiatanmu hari ini akan sangat padat. Jadi lebih naik ritualnya dimulai sejak pagi, biar kamu bisa cukup istirahat saat malam," jelas mami.


"Bagaimana kalau pernikahan ini dibatalkan saja, Mi?" bujuk Aya.


"Ya ampun. Kamu ini keterlaluan ya. Pernikahanmu itu tinggal besok. Kok mau dibatalin gimana? Berapa hari sebelumnya kamu baik-baik aja. Kenapa sekarang begini lagi?" tanya mami heran.


"Apa kamu mau dinikahkan eyang dengan pria beristri?" selidik mami.


"Ish ... ogah banget!" Aya menunjukkan ekspresi penolakan yang tegas dan jelas tentang ide itu.


"Makanya, ayo kita mulai. Jangan bikin ulah lagi. Kamu itu sudah dewasa. Harusnya bisa berpikir lebih jernih.


"Dewa tidak menghubungiku berhari-hari! Jangan-jangan dia yang kabur dan melarikan diri!" Gayatri membeberkan alasan sikapnya.


"Itu tak beralasan sama sekali. Ibunya masih menanyakan kabar mami kok," bantah mami.


"Ayo! Mami tak mau mendengar alasan apapun lagi. Dan satu hal yang harus kamu ingat. Jika kamu tak menginginkan sesuatu, jangan mulai menimpakan kesalahan pada orang lain, agar rencana ini batal. Itu bukan hal yang baik!" tegas mami.


Gadis itu hanya bisa diam. Dengan masa lalunya dan penolakannya sebelumnya, mami pasti tak akan percaya kalau Dewa yang kabur dan membatalkan pernikahan tanpa bicara apa-apa.


Gads itu mendesah. Tak ada yang bisa dilakukannya untuk mencegah keluarga ini melangsungkan acara pernikahan besok, meskipun menurutnya, Dewa jelas-jelas tak sebaik yang keluarganya kira.


"Huh! Pria bunglon itu! Licik sekali." Geram Aya dalam hati.


Pura-pura baik, lalu meninggalkannya di hari pernikahan. Dan itu, akan tetap jadi kesalahan Aya! Tak ada yang akan menyalahkan pria baik yang setuju menikah sejak awal. Kecuali Aya mempengaruhi Dewa untuk membatalkan acara.


"Nasib ... nasib ...." gumam Aya.


Rangkaian acara hari itu berlangsung dengan lancar. Mulai dari pagi hingga petang, barulah acara selesai. Malam ini kukunya sudah dihias dengan sangat cantik.


Hingga gadis itu tertidur. tak ada satupun telepon dari Dewa. Hal itu kembali membawa mimpi yang tak mengenakkan di hatinya.


******

__ADS_1


__ADS_2