
Gayatri menunggui hingga malam hari, Dewa masih belum sadarkan diri. Rombongan Dokter datang pukul delapan malam. Memeriksa dengan serius laporan yang diberikan para perawat yang memantau sejak keluar ruang operasi.
Arjuna berbicara serius dengan dua dokter yang datang. Aya bisa melihat sekilas wajah murung Arjuna. Dia mendekat ke tempat mereka.
"Bagaimana keadaan suami saya? Kenapa dia masih belum sadar juga?" tanya Gayatri ingin tahu.
Dua dokter menatapnya dengan mata bertanya. Aya menyadari pertanyaan di mata kedua dokter.
"Saya istri pasien," ujarnya dengan suara tegas.
Dokter mengangguk mengerti. "Kami sudah menjelaskan kondisi suami anda pada saudara Arjuna. Anda berdua bisa mendiskusikannya nanti."
Dokter mengangguk ke arah Arjuna, kemudian keluar dari ruangan. Aya menoleh pada Arjuna. Matanya menuntut penjelasan.
Arjuna mendesah kesal. Kemudian menghempaskan diri di sofa. Dilihatnya tempat tidur. Saudara kembarnya terbaring tak berdaya dan menurut dokter, sangat tipis harapan akan pulih kembali seperti sedia kala.
"Katakan padaku bagaimana keadaannya!" desak Gayatri tak sabar dengan diamnya Arjuna.
"Dokter bilang kita harus kuat dan bersabar dengan kondisinya. Selain cedera kepala parah, tulang lehernya juga mengalami benturan keras yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh!" Arjuna mengulangi apa yang telah disampaikan dua dokter sebelumnya.
"Apa?"
Tubuh Aya langsung ambruk ke lantai mendengar penjelasan Arjuna. Berita itu sangat mengejutkan baginya. Harapannya semakin tipis.
"Dokter bilang, tunggu beberapa hari, hingga Dewa sadar. Setelah itu kondisinya akan dievaluasi kembali. Jadi kamu harus kuat. Kalau kamu selemah itu, bagaimana kamu bisa mengurus dia yang kemungkinan besar akan lumpuh seluruh tubuhnya!" cerca Arjuna pedas.
Aya merasa kakinya tak bertenaga mendengar Dewa divonis lumpuh karena cedera tulang lehernya. "Cedera otak, cedera tulang leher yang mengakibatkan lumpuh. Lalu kemungkinan terburuk apa lagi yang mungkin kudapatkan saat Dewa siuman?" Harapannya memudar.
"Inikah hukuman untukku yang selalu membangkang selama menjadi istrinya?" pikir Aya.
"Bangun! Aku tak mau mengurusmu jika kau sakit!" bentak Arjuna kasar.
"Aku masih punya keluarga. Tak perlu kau untuk mengurusku!" balas Aya sengit. Dia bangkit dari lantai dan mendekati ranjang di mana Dewa terbaring.
__ADS_1
Dilihatnya Dewa dengan segala penyesalan yang bisa dia sampaikan lewat tatapan mata. "Sadarlah ... kumohon. Aku akan berbakti padamu, jika kau bangun. Akan kuturuti semua yang kau katakan tanpa membantah!" isaknya penuh penyesalan.
"Maafkan aku," Digenggamnya jemari Dewa yang terasa dingin. Dialirkannya kehangatan lewat genggaman tangannya.
Gayatri meletakkan kepala di tempat tidur. Matanya terpejam, tapi bibirnya masih terus membisikkan harapan untuk Dewa.
Arjuna hanyamenunjukkan ekspresi mencemooh melihat sikap gadis itu. Dia merasa sebal dan tak suka pada gadis itu. Menurutnya, kehadiran Gayatri merebut perhatian Dewa darinya. Dewa yang biasanya selalu mengalah dengan ucapan-ucapannya, kemarin malam sudah berani berbantahan demi gadis itu. Itu sangat menjengkelkan Arjuna.
Sambil berbaring di sofa, dia menghandle semua urusan pekerjaan yang biasanya dipegang Dewa.
Pukul sepuluh malam, pesan mami kembali masuk ke ponsel Aya. "Bagaimana keadaan Dewa? Apa kata dokter?"
Gayatri menuliskan semua yang dikatakan Arjuna setelah dokter pergi. Air matanya mengalir deras.
Mami tak membalas lagi pesannya. Mungkin mami juga shock dan sedang menenangkan diri. Atau mungkin menjaga agar papi tidak mendapatkan kabar tentang keadaan Dewa sebelum kondisinya pulih lebih dulu.
Gayatri meletakkan kembali ponsel di meja nakas. Matanya yang tadi mengantuk kini kembali terang. Dia berdiri dan melihat Arjuna tertidur di sofa. Gayatri keluar untuk mencari kantin. Dia belum mengisi perut sejak siang tadi. Arjuna setiap kali pergi keluar, tak membawakannya makanan sama sekali.
Dengan lauk seadanya, Gayatri mengisi perutnya yang kosong. "Aku tak boleh sakit. Dewa butuh bantuanku sepenuhnya setelah dia sadar nanti. Aku harus kuat!" batinnya.
Gayatri kembali ke kamar setelah membeli beberapa roti dan air mineral untuk persediaan hingga besok pagi.
"Ke mana dia pergi?" desis Gayatri saat melihat sofa di kamar itu kosong. Dia menggeleng tak peduli. Kemudian kembali ke sisi Dewa dan mengecek apakah ada perubahan pada alat yang dipasang.
Dilihatnya sofa yang kosong, seperti memanggil-manggilnya untuk merebahkan diri dan beristirahat sejenak. Aya berjalan ke sana dan merebahkan tubuhnya yang lelah. Dalam sekejap dia sudah tertidur pulas.
Sekitar pukul dua belas malam, Arjuna kembali. Dia kembali mendengus kesal melihat tempat yang tadi digunakannya berbaring telah ditempati Gayatri. Gadis itu sudah tertidur pulas. Rasanya sangat tak beradab kalau membangunkannya karena dia juga ingin tidur di sana.
Akhirnya dia menuju pembaringan Dewa dan duduk di kursi. Meskipun terasa tak nyaman dan berkali-kali terbangun karena dia hampir jatuh saat tertidur pulas, tapi tak ada yang bisa dilakukannya lagi. Sangat tak mungkin untuk tidur di lantai yang dingin.
"Menyebalkan!" gerutunya.
*
__ADS_1
*
Pukul enam pagi, para perawat sudah sibuk melakukan pemeriksaan. Menyuntikkan obat, mengganti kantung infus dan melepaskan kantong darah yang sudah habis.
Gayatri sudah bangun dan mendengarkan instruksi perawat yang datang. Tak lama, kembali datang perawat lain yang membawa air panas untuk mengelap tubuh Dewa.
"Ibu mau kerjakan sendirim atau saya yang lakukan?" tanyanya.
Gayatri terlonjak. Mengelap tubuh Dewa? Mereka tidak sedekat itu, meskipun sudah menikah selama beberapa waktu. Untuk menghilangkan kecanggungannya, Gayatri mengelak.
"Suster saja yang lakukan. Saya takut kalau gerakan saya menyakitinya!"
"Baik. Ibu perhatikan ya. Jadi besok bisa melakukannya sendiri," ujar perawat itu.
"Iya!" jawabnya cepat.
Perawat itu menunjukkan cara mengelap tubuh Dewa yang terbaring tak sadarkan diri. Aya memperhatikan dengan seksama. Ini adalah langkah awalnya untuk berbakti pada Dewa.
Setelah semua proses itu selesai, Makanan untuk dewa juga diantarkan oleh perawat lainnya. Gayatri kembali memperhatikan bagaimana makanan halus itu dimasukkan lewat selang ke dalam mulut Dewa. Dia harus melakukannya sendiri setelah itu.
Meskipun sedikit bingung, tapi Aya yakin nanti bisa melakukan semua hal yang tadi dipelajarinya. "Aku harus bisa!" tekadnya.
Dilihatnya Arjuna yang melanjutkan tidur di sofa. Pria itu tidur sangat pulas, seakan dia begadang sepanjang malam. Gayatri tak ingin menganggunya. Jadi dia sarapan roti dengan diam-diam.
"Selamat pagi, Dewa. Apa yang kau rasakan sekarang?" sapa Aya. Tangannya kembali menggenggam jemari Dewa.
"Aku sudah mempelajari banyak hal dari para perawat. Kau bisa segera bangun. Aku bisa merawatmu, jangan khawatir," bisiknya lembut.
"Kau pasti bisa sembuh lagi. Dan aku tak akan bersikap keras kepala lagi. Maafkan sikapku selama ini ya," ujarnya lirih di dekat telinga Dewa.
Aya terus mengatakan banyak hal pada Dewa, untuk merangsang respon otak Dewa. Seperti itulah saran perawat tadi pagi. Pasien kemungkinan masih bisa mendengar suara-suara. Jadi akan lebih baik jika keluarga mengajak pasien berbincang untuk memberi rangsangan pada otaknya.
******
__ADS_1