
Setelah dibantu beberapa penunggu lain, Aya akhirnya sadar dari pingsannya. Kepalanya terasa melayang. Lalu seseorang menyodorkan segelas teh hangat ke arahnya.
"Kau lebih mebutuhkan ini ketimbang aku!" katanya ketus.
Aya menoleh ke arah orang di sebelahnya. Itu Arjuna. Diterimanya gelas teh hangat dari tangan pria itu. "Terima kasih," ujarnya. Kemudian meneguk minuman hangat dan manis itu pelan-pelan.
Kehangatan teh itu menjalar di perutnya yang terasa kosong. Memberi rasa nyaman dan hangat. Menambahkan tenaga untuk tubuhnya.
"Bagaimana dengan Dewa? Apa dia sudah keluar?" tanya Aya. Arjuna menggeleng.
"Kau mendonorkan dua kantong darah. Kurasa, sebaiknya kau mengambil istirahat. Atau pergi makan ke kantin untuk memulihkan kondisimu. Aku tak akan mampu mengurus dua orang yang sakit sekarang."
Kata-kata Aya terasa tidak mengenakkan di telinga Arjuna. "Apa kau mau bilang kalau aku lemah?" tuding pria itu salah paham.
"Mungkin kau perlu memeriksakan telingamu di THT!" ujar Aya sebal.
"Kau!"
"Sssttttt!" tegur para penunggu lain mendengar nada suara tinggi Arjuna yang terasa mengganggu ketenangan ruang tunggu.
Aya membuang muka, tak membalas tatapan mematikan yang dilemparkan kembaran suaminya itu. Keduanya duduk saling membelakangi dan menunjukkan sikap tak suka satu sama lain.
Satu jam kembali berlalu. "Keluarga Pak Dewa!" kembali terdengar panggilan.
Kedua orang itu terlonjak kaget. "Apakah minta darah lagi?" gumam Aya kalut.
"Kalau minta darah lagi. gunakan darahmu saja! Kau kan istrinya!" geram Arjuna. Pria itu melangkah maju, menuju pintu ruang operasi.
Tak lama pintu terbuka. Sebuah brankar didorong keluar. Seorang pria yang penuh dengan balutan perban di sana sini, didorong ke luar dengan hati-hati.
"Keluarga Pak Dewa!" panggil perawat yang membawa sebuah map berkas.
"Ya!" sahut keduanya serempak.
Aya ikut bangkit dari duduk dan mendekati brankar itu. Dia tak dapat mengenali pria yang wajahnya lebam penuh luka dan perban.
"Ikut saya mengantar pasien ke ruangan," ujar perawat itu. Dia mendorong brankar, ditolong petugas lain. Arjuna dan Gayatri mengekori dari belakang.
Mereka tiba di ruangan rawat yang sudah dipesan Arjuna saat memasukkan Dewa ke Rumah Sakit.
__ADS_1
"Apakah operasinya berhasil?" tanya Aya. Dia bahkan tak tahu bagian apa Dewa yag dioperasi. Saat dia tiba di sana, Dewa sudah berada dalam kamar operasi.
"Nanti akan datang dokter untuk menjelaskan kondisi pasien, Bu," jawab perawat.
Jawaban itu menggelisahkan bagi kedua orang itu. "Apakah itu artinya Dewa tidak baik-baik saja?" Pikiran Aya kembali cemas.
Mereka telah sampai di kamar. Kedua perawat itu dengan cepat menggantungkan kantong cairan infus dan juga kantong darah di tiangnya. Sebuah alat dengan layar komputer dihubungkan dengan kabel-kabel ke tubuh Dewa.
Perawat menjelaskan "Ini gambaran detak jantungnya. Jika gambar di layar ini berubah dari yang terlihat sekarang, langsung pencet bel untuk memanggil perawat jaga!" pesan salah seorang perawat.
Arjuna mendengarkan penjelasannya dengan seksama. Tapi Gayatri hanya mengamati Dewa yang masih menutup matanya. Wajahnya lebam dan bengkak membiru. Sekeliling kepalanya dibalut dengan perban.
"Apakah tadi dia operasi kepala?" tanya Aya.
"Ya, Bu. Detailnya anda bisa tanyakan pada dokter bedah yang nanti akan berkunjung untuk memantau kondisi Pak Dewa," jawab perawat cepat.
"Separah apa kondisinya?" pikir Aya risau. "Akankah aku punya suami cacat yang harus kuurus seumur hidup? Apakah ini balasan atas pembangkanganku sebagai istri selama beberapa hari ini?" batinnya penuh penyesalan.
"Aku mau turun mencari makanan. Perutku lapar. Kau mau dibawakan apa nanti?" tanya Arjuna.
Aya menggeleng-geleng, membuang semua pikiran buruk di kepalanya. Dia tak mendengar sama sekali pertanyaan Arjuna.
"Tuhan, sembuhkan lagi suamiku. Aku berjanji akan bersikap baik padanya. Tidak akan lagi menyusahkan dirinya," doanya dalam hati.
Aya duduk dengan tenang di kursi sebelah tempat tidur. Kepalanya dibaringkan di tepi tempat tidur. Sementara tangannya menggenggam tangan Dewa, seakan dia benar-benar tak ingin kehilangan pria itu.
Arjuna yang datang setelah makan, tak ingin mengganggu keintiman keduanya. Dia membaringkan tubuhnya yang lelah di kursi panjang yang ada di ruangan itu.
Tidur mereka yang singkat terganggu oleh deringan suara ponsel Gayatri yang menjerit-jerit nyaring melengking.
"Apa kau gila? Memasang nada panggil seperti kuntilanak di ponsel? Berisik!"
"Apa kau bodoh? Kuntilanak itu tertawa, bukan menjerit!" balas Gayatri kasar. Diangkatnya telepon agar tidak mengganggu istirahat Dewa.
"Ya!" ujarnya.
"Bagaimana dengan Dewa?" Itu suara mami.
"Dewa sudah selesai operasi kepala. Tapi Aya tak tahu apa yang salah dengan kepalanya. Aya sedang menunggu dokter datang berkunjung untuk tahu kondisi Dewa yang sebenarnya," jelas Gayatri.
__ADS_1
"Semoga dia baik-baik saja dan bisa pulih seperti sedia kala." suara sedih mami tak bisa disembunyikannya.
"Bagaimana dengan papi?" tanya Aya ingin tahu.
"Papi sudah lebih baik. Dan akan lebih baik lagi jika mendengar kabar baik dari Dewa," jawab mami.
Aya terdiam. Aya tahu, papi lah yang sangat ingin perjodohan mereka berdua terjadi. Jelas peristiwa yang menimpa Dewa menyebabkan keterkejutan yang besar pada papi.
"Semoga operasi Dewa berhasil, Mi. Dan dia bisa sembuh lagi, biar papi tenang." Gayatri bahkan tak percaya dia bisa mengucapkan kata-kata sebijak itu.
Setelah panggilan terputus, Aya merenung. "Apakah aku wanita yang sangat sial? Dua kali gagal menikah. Yang ketiga kali, bahkan sebelum resepsi dan sebelum pernikahan sempurna, suamiku sudah mendapatkan cobaan seperti ini!"
"Itukah yang terbersit di pikiran papi, hingga kondisinya memburuk? Apa papi takut aku tak akan punya suami selamanya?" batinnya galau.
"Kau pergilah makan! Jeritan perutmu sama kencangnya dengan nada dering ponselmu tadi!" tegur Arjuna kasar.
Aya yang sedang berpikir sendiri, akhirnya menoleh ke arahnya dengan pandangan memusuhi.
"Apa kau tak pernah sekolah? Kata-katamu sagat kasar!" balas Aya emosi.
"Hah ... aku hanya akan bersikap lembut pada wanita yang kucintai. Sementara kau? Hanya perempuan yang menyusahkan saja. Bahkan kau tak mampu mengurus suamimu sendiri!" Arjuna membalas kata-kata pedas Gayatri.
"Kau!"
Mulut Aya terkatup rapat. Dia terlalu dan sedang amat sangat emosi. Rasanya ingin sekali dia menerjang dan menjambak rambut Arjuna, biar pria kasar itu tahu rasa!
Tapi dia hanya berdiam menahan emosi jiwa hingga tubuhnya bergetar hebat. Berjuang agar tak perlu berantem dengan kembaran Dewa di dalam ruangan rumah sakit.
"aku bukan orang tak beradab. Jadi aku akan mengabaikan kata-kata kasarmu kali ini. Tapi tidak ada lain kali. Kau ingat itu!" ancamnya geram.
"Hahahaa ...." Arjuna tertawa terbahak-bahak.
"Kau anak kucing yang ingin terlihat sebuas macan. Tapi cakar dan taringmu sama sekali belum pernah kau asah!" ejek Arjuna pedas. Pria itu keluar ruangan dan meninggalkan Gayatri yang emosinya telah meluap.
Aya ingin sekali menjerit dan berteriak, seperti yang selalu dilakukannya di rumah saat tak dapat menahan emosi. Tapi saat ini dia sedang di ruangan rawat rumah sakit. Bisa-bisa Dewa terbangun dan langsung lari jika mendengar jeritannya.
Tubuhnya yang gemetar jatuh ke lantai dan menangis tersedu-sedu. Yang mendengar pasti akan merasakan kepiluan dari nada tangisnya yang berirama.
*****
__ADS_1