PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
55. Kehamilan Gayatri


__ADS_3

Empat bulan telah berlalu. Di suatu tempat di negara asing, seorang wanita muda berkulit pucat yang tengah berbadan dua, duduk di tebing karang. Dia memandang laut lepas dengan murung.


"Bagaimana keadaannya?" tanya seorang pria tampan berwajah indo dari teras sebuah rumah mewah.


Pagi tadi kembali pingsan, Tuan," jawab seorang pria muda berseragam pelayan.


"Dia masih menolak makan?" tanyanya dengan mengerutkan dahi.


Pelayan itu mengangguk. "Saat pingsan, kami telah memberinya makanan saring lewat selang serta beberapa vitamin untuk membuatnya kuat," jawab pelayan itu lagi.


"Tsk! Wanita keras kepala! Persis seperti papaku!" ujarnya tak senang.


"Lalu bagaimana, Tuan?" tanya pelayan itu saat melihat tuannya hendak pergi lagi.


"Kita lihat saja siapa yang mampu bertahan. Jika dia ingin membunuh bayinya, maka biarkan saja dia seperti itu!" Sahut pria berpakaian necis itu tak peduli.


Pelayan mengikuti tuannya ke lapangan kecil di belakang bangunan satu-satunya di pulau pribadi itu. Baling-naling helikopter mulai bergerak saat tuannya sampai.


"Aku datang minggu depan. Kau awasi saja dia. Tapi jangan sampai dia atau bayinya mati! Aku tidak sekejam pria tua itu!" dengusnya tak senang.


"Baik, Tuan." Pelayan pria itu mundur dan membiarkan heli itu terbang. Dihelanya napas pajang untuk melepaskan beban berat di pundaknya.


"Wanita itu membawa pengaruh buruk pada Tuan," lirihnya sambil melangkah kembali ke dalam rumah. Dilihatnya wanita muda yang selalu sedih dan menangis dalam diam di depan sana.


"Aku akan siapkan makan siang untuknya. Kau awasi dengan benar. Jangan sampai dia melompat lagi ke laut untuk bunuh diri!" pesannya pada seorang pengawal berkulit gelap.


"Baik!" pengawal itu pergi lebih dekat ke tempat wanita yang harus mereka jaga sejak empat bulan terakhir.


Dua jam kemudian, angin yang mengandung titik-titik air menyapu pulau itu.


"Cuaca mulai tak bersahabat, Nyonya. Sebaiknya anda kembali ke dalam dan beristirahat. Saya sudah menyiapkan makan siang lezat yang tepat untuk kesehatan dan pertumbuhan bayi anda!" bujuk pelayan.


"Untuk apa kau terus memasak makanan lezat, kalau tuanmu ingin membunuhku?" tanyanya dengan pandangan sendu.


"Tuan tidak sejahat itu, Nyonya," bela pelayan itu.


"Tidak? Dia bahkan sudah mengakui kalau dia yang menyebabkan kecelakaan di tol yang menewaskan Dewa!" wanita itu setengah berteriak.

__ADS_1


"Itu hanya kecelakaan dan di luar kendali manusia, Nyonya. Tuan tidak bermaksud membunuh suami Anda!" Pelayan itu tetap teguh dengan pendapatnya.


"Apapun yang kau kemukakan, perbuatannya itu sudah merugikan orang lain, merenggut beberapa nyawa, dan melukai banyak orang. Bagaimana kau masih bisa menyebut monster itu baik?" debat Gayatri.


Wajah pelayan itu memerah. Dia sangat ingin mendebat Aya dan kembali membela tuannya. Tapi yang dikatakan Aya tadi memang ada benarnya. Sejak bertemu wanita itu, tuannya berubah menjadi monster penuh dendam. Seakan wanita itu adalah kunci yang membuka dan mengeluarkan sisi iblis dalam diri tuannya.


Setelah menghela napas panjang dan kembali menegakkan tubuh tanda tak peduli, pria itu berkata.


"Nyonya bisa makan atau terus mogok makan dan membunuh bayi yang ditinggalkan suami Anda. Itu sama sekali bukan urusan saya. Jika bayi itu lahir cacat akibat ibunya yang keras kepala, maka jangan salahkan saya!" Pelayan itu berbalik dan bergegas kembali ke rumah.


Gayatri membuang muka dan kembali menatap lautan luas. Jika bukan karena dia sedang disandera, maka tinggal di rumah mewah di tepi pantai itu, pastilah sangat menyenangkan.


"Tapi kau bukan putra Dewa," bisiknya dengan penuh kebencian. Matanyanya menatap perutnya yang makin besar.


"Ayahmu juga sama monsternya seperti penculik itu!" geramnya marah.


Tiba-tiba gerimis datang dan pengawal berkulit gelap itu dengan sigap menarik tangan Gayatri dan mendukungnya ke pundak, untuk dibawa masuk rumah dengan paksa.


Aya hanya berteriak sebentar, karena kaget. Dia sudah menyerah mencoba melarikan diri. Dia bahkan sudah pernah lari serta terjun ke laut kemudian berenang, di bulan pertama dia diculik. Tapi pengawal rumah itu berhasil menemukan dan menolongnya lagi saat dia bahkan sudah ikhlas untuk mati di laut.


Setelah mengganti pakaiannya yang basah, Aya menyendokkan makanan ke mulut. Rasa makanan itu tidak buruk. Dan dia memang sudah sangat lapar.


Tuga hari kemarin, dia mogok makan dan berujung pingsan. Pelayan mengikatnya ke tempat tidur selama beberapa waktu. Mereka merawat serta memberi makan dengan selang, seakan Aya seorang pasien koma.


"Apa aku harus membiarkanmu hidup? Kau akan mengalami banyak kesulitan jika lahir!" gumam Aya.


"Mereka akan memanfaatkanmu untuk mencelakai Arjuna, seperti mereka membunuh Dewa!"


"Sialan kau, Arjuna! Seharusnya aku tak pernah mengenal Dewa, agar tidak terseret dalam dendam kesumat orang lain padamu!" umpatnya marah sambil memukul meja.


Di balik pintu kamar, pengawal terkejut mendengar suara kayu dipukul dengan keras. Pria itu masuk buru-buru.


"Apa anda terluka?" tanyanya khawatir.


"Apa pedulimu!" bentak Aya dengan wajah basah air mata.


Pengawal itu hampir terpancing emosi. Tapi melihat wajah kuyu dan tubuh kurus tawanan mereka, hatinya iba.

__ADS_1


"Kunci bertahan dalam tekanan adalah tetap kuat, Nyonya. Dengan tetap kuat dan sehat, anda bisa memikirkan cara-cara baru untuk melarikan diri."


"Kau sedang menyemangati atau mengejekku?"


Aya melemparkan sendok yang dipegangnya ke arah pengawal yang dengan sigap mengelak. Melihat lemparannya tak berguna, Aya kembali kesal dan makin kesal lagi saat ingin makan tapi sendoknya sudah entah di mana,


"Saya ambilkan sendok baru untuk anda, Nyonya," kata pengawal itu dengan senyuman.


******


"Lepaskan aku!" Teriak Sandra. Sekarang dia berada di sebuah gudang pengap, penuh debu dan tikus.


"Jika kau ingin keluar dari sarang tikus ini, maka kau harus katakan apa yang kau ketahui tentang penculikan istriku. Jangan harap aku akan mengasihanimu!" kata Arjuna dingin.


"Aku tak tahu apapun! Berapa kali lagi harus kukatakan?" suara Sandra menghiba.


"Yang kau lakukan ini bisa menyakiti bayimu!" bujuk Sandra dengan alasan klise.


"Bagaimana kalau kukatakan bahwa aku pria yang mandul?" tanya Arjuna sambil tersenyum sinis.


Pengakuan Arjuna itu tak diduga Sandra. Dia tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Jika diingat-ingat, selama setahun mereka intim, dia memang tidak pernah hamil.


"Tak mungkin! Kau hanya menggertakku! Lalu, bagaimana bayi ini bisa ada! Kau hanya ingin mengelak dari tanggung jawab!" sembur Sandra setelah otaknya kembali bisa dipaksa berpikir cepat.


Arjuna tak peduli. Dia mengedikkan bahu dan bangkit dari duduknya di kursi plastik. "Kau bisa mengatakan apapun yang kau tahu, jika memang ingin selamat. Tapi sekarang waktu satu jammu telah habis!"


Arjuna berjalan pergi. Aku akan datang lagi minggu depan!" teriak pria itu dari ambang pintu gudang terlantar itu.


"Tidak! Arjuna, jangan tinggalkan aku disini sendiri. Aku takut tikus!" teriaknya dengan nada putus asa.


Suara teriakannya masih terdengar, bahkan setelah pintu gudang dikunci rapat lagi.


"Jaga dia dengan baik. Hati-hati, dia cerdik dan licin seperti ular!" Arjuna mengingatkan penjaga.


"Baik, Bos!" sahut dua penjaga di sana.


*******

__ADS_1


__ADS_2