PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
40. Langkah Baru Aya


__ADS_3

Suara telepon yang terus berbunyi dengan berisik, membangunkan Arjuna yang tidur nyenyak di sofa.


"Apa sih! Pagi-pagi sudah mengganggu orang tidur!" sergahnya masih dengan mata terpejam.


"Bahkan jika ini tengah malam, kau tetap harus bangun! Anak si*lan! Bikin malu keluarga!" Ucapan penuh amarah terdengar dari seberang sana.


Mata Arjuna langsung membuka. Mulutnya menggertak penuh emosi. "Ada urusan apa menelponku! Bukankah sudah kukatakan, kita tak punya urusan satu sama lain yang bisa dicampuri!" balasnya kasar.


"Kau memang tak pantas jadi bagian keluarga kami. Jika bukan Dewa yang menyebutmu, kami juga tak perlu tahu kalau kau ada!" Kata-kata kasar saling bersahutan antara mereka.


"Pertunanganmu dengan Gayatri sudah dibatalkan oleh keluarganya. Semua itu salahmu! Jadi jangan menyalahkan siapapun. Sekarang kau bebas. Dan kami tidak akan punya urusan apapun lagi denganmu!"


Sambungan telepon itu terputus. Arjuna sedikit kebingungan. Batal? Dia sudah tak bertunangan lagi dengan jandanya Dewa?


"Bukankah itu bagus? Dewa, karena dia yang memutuskan, maka itu bukan salahku. Jika kau tak senang, maka silakan datangi mantan istrimu itu!" celetuknya dengan senyum tersungging.


"Dilihatnya deretan panggilan tak terjawab dan beberapa pesan masuk dari ayah kandungnya. Dengan sebal dia hendak menghapus pesan-pesan masuk yang diperkirakannya adalah deretan omelan dan sumpah serapah.


Sampai pada pesan ke dua, tangannya yang akan menghapus tombol delete, terhenti. Dengan penasaran dibukanya file video yang dikirimkan. Kemarin ibunya sudah mengomelinya dengan menyebut-nyebut video. Apakah ini video yang sama?


Setelah memutar video yang dikirim, Arjuna menggaruk-garuk kepalanya. Dia tak melihat ada adegan aneh di situ. Tapi ya ... Teman kencannya memang duduk di atas pangkuannya.


"Mantan istrimu sangat kuno!" gerutunya. Kemudian video dan pesan-pesan lain dihapus.


Kemudian Arjuna ingat bahwa Gayatri tidur di apartemen tadi malam. Dia bangkit dari sofa dengan cepat dan bergegas ke kamar.


"Hei kau! Biang kerok!" teriaknya dengan nada tinggi sambil membuka pintu kamar. Namun dia tak menemukan siapapun di dalam ruangan itu. Dilihatnya selimut yang tadi malam dibentangkannya untuk menyelimuti Aya, terlipat rapi kembali di tempatnya semula.


"Apakah tadi malam aku berkhayal?" pikirnya bingung. Dia masuk ke kamar dan memperhatikan tempat tidur yang sangat rapi, seperti tidak ditiduri oleh siapapun tadi malam.


"Aku mulai gila gara-gara dia. Baguslah jika memang kami tidak harus saling berhubungan dekat lagi. Wasiatmu terlalu membebani!" ujarnya sambil menengadah ke atas. Seakan dia sedang bicara pada Dewa.


Sambil bersiul-siul bahagia, dia menutup dan mengunci pintu apartemen. Dia harus pulang, mandi dan bersiap-siap kembali ke kantor.


*


*


"Apakah Gayatri sudah sampai? Suruh dia langsung ke ruanganku!" perintah Arjuna saat melewati meja Luna.


"Bu Aya tidak masuk, Bos," jawab Luna cepat. Dikejarnya Arjuna ke ruangan pria itu.

__ADS_1


"Dia terlalu sering tidak masuk. Kerja kok sesuka hatinya. Aku akan mempertimbangkan untuk menurunkan gajinya!" ancam Arjuna sambil mengehentakkan tasnya di atas meja.


Luna menyodorkan surat elektronik yang dikirimkan Aya. "Bu Aya mengundurkan diri, Bos!" jelas Luna segera.


"Apa! Tidak bisa dia mengundurkan diri seenaknya. Perusahaan ini ide dari mantan suaminya. Dia harus ikut bertanggung jawab dan bekerja di sini!" Arjuna tak bisa lagi menahan diri untuk tidak marah.


Tadi pgi dia mendapat kabar Aya membatalkan pertunangan mereka. Sekarang wanita itu juga mengundurkan diri dari perusahaan. Lalu siapa yang akan mengerjakan semua pekerjaan ini? Sementara dirinya paling tak suka bekerja di balik meja.


"Panggil dia kembali! Kalau perlu ancam!" perintah Arjuna kesal.


"Boleh saya katakan sesuatu, Bos?" Luna terlihat ragu.


"Apa!" sahut Arjuna.


"Tapi jangan marah ya," ajuk Luna.


"Katakan dulu, baru bisa kuputuskan. Harus marah atau tidak!" nada suara Arjuna kembali na.


"Belum apa-apa, Bos sudah marah. Ya udah, enggak jadi aja," Luna berbalik untuk meninggalkan ruangan itu.


"Hei! Jangan bicara setengah-setengah. Tak sopan jika sengaja membuat orang penasaran!" Arjuna menahan langkah Luna.


Arjuna terdiam. Sekarang dia yakin bahwa pengunduran diri ini juga ada kaitannya dengan batalnya rencana pernikahan mereka.


"Ya sudah kalau begitu. Biarkan saja dia berhenti!" balasnya dongkol. "Sana! Lakukan pekerjaanmu!"


Luna kembali ke mejanya. Sekarang, di bagian itu hanya ada dia dan Bos Arjuna. Ruangan Aya kosong dan sunyi. Luna sedikit kehilangan. Karena tanpa Aya, bagian kantor itu terasa sepi. Tak akan ada lagi perang dunia antara Aya dan Arjuna yang memeriahkan hari-hari kerjanya.


***


Hari itu, Aya mengisi hari dengan mencari lowongan pekerjaan baru. Dia tak mendapatkan hasil hari itu. Jadi hanya menemani mami merawat tanaman kesayangannya.


Dengan cekatan dan terampil. Aya kembali menyalurkan kesukaannya merangkai bunga. Beberapa bunga di halaman dipetik dan disusun dalam vas kecil. Kemudian diletakkan di atas meja makan.


"Bagaimana kalau mami modalin kamu membuka toko bunga? Rangkaian bungamu sangat bagus hlo. Artistik!" puji mami.


"Lihat semua rangkaian bunga hias dalam vas lainnya di rumah ini. Semua hasil karya tanganmu itu." Mami menunjuk ke dalam ruangan. Sebuah vas besar di sudut ruang makan, diisi bunga hias yang dirangkai oleh Aya.


"Aya masih belum memikirkan hal itu, Mi. Jika ijazah Aya masih bisa diandalkan, itu lebih baik. Aya enggak mau Mami dan Papi mengeluarkan uang lagi untuk Aya," tolaknya.


"Itu bukanya mengeluarkan uang percuma. Itu memberimu modal. Kau bisa mengembalikannya nanti, jika usahamu sudah berjalan dengan lancar!" desak mami.

__ADS_1


"Biar Aya pikirkan dulu ya, Mi. Membuka toko bunga juga butuh perencanaan matang," jelas Gayatri.


"Kamu pikirkanlah masak-masak. Mami akan cerita dulu ke papi. Jika kamu memang menginginkannya, katakan saja."


"Terima kasih, Mi." Aya tersenyum haru pada wanita ayu itu. Keduanya melanjutkan keasikan hobby di taman belakang.


***


Minggu berikutnya, Aya kembali mendapatkan pekerjaan baru di sebuah perusahaan besar. Hari-harinya kembali cerah. Dia pergi kerja dengan bersemangat.


"Langkah baru, hidup baru, lepas dari tekanan dan paksaan untuk menikah. Aku yakin Tuhan telah menyiapkan jodoh yang tepat untukku," bisiknya lirih sebelum memasuki gedung megah tempat perusahaannya berada.


"Fighting!" ujarnya menyemangati diri sendiri.


Staf HRD menerimanya dan mengantarkan ke ruangan besar yang diisi oleh sekitar lima pegawai.


"Di sini Divisi Perencanaan. Disebelah sana ada meja yang kosong. Anda bisa menempatinya. Dan ...."


Staf Hrd itu celingukan mencari-cari seseorang. "Di mana Pak Desta?" tanyanya pada seorang staf yang duduk di dekat tempatnya berdiri.


"Sedang meeting dengan bagian Disain dan Pemasaran," jawabnya cepat.


"Oh." Dia mengangguk pada pria yang menjawab tadi. Lalu kembali menoleh pada Gayatri.


"Pak Desta adalah Kepala Divisi Perencanaan ini," jelasnya.


"Tolong perhatiannya sebentar," ujar Staf Hrd. Semua menoleh ke arahnya.


"Ini Bu Gayatri. Mulai sekarang akan menjadi bagian dari Divisi ini," jelasnya.


Aya mengangguk dan tersenyum. "Salam kenal semua. Mohon kerja samanya," ujarnya ramah.


Tapi sambutan yang diapatnya tidak seperti perkiraannya. Teman-teman barunya itu hanya menganggukkan kepala saja. Sama sekali tak tertarik untuk membantu Aya memulai hari barunya.


"Saya tinggal ya."


Aya mengangguk. "Terima kasih," sahutnya. Lalu berjalan menuju meja kosong yang diberi sekat antar meja, agar tidak saling mengganggu staf lain yang sedang bekerja.


"Semangat, Aya. Bismillah," ujarnya dalam hati.


*******

__ADS_1


__ADS_2