PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
6. Ultimatum Eyang


__ADS_3

Acara makan malam itu terasa menegangkan. Ada mami, papi, Eyang, Radit dan istrinya, juga Gayatri.


Gadis itu dapat mengira bahwa ini bukan makan malam biasa. Pintu ruang makan langsung dikunci, begitu dia masuk dan duduk di kursi. Dua security menjaga pintu yang biasanya terhubung ke ruang keluarga dan taman samping.


Gadis itu menunggu pidato Eyang kakung atau papi. Dia akan menebalkan wajah dan telinga, mendengarkan apapun yang dilontarkan nanti.


"Sudah malam, ayo makan," ujar Eyang Kakung. Mendengar itu, mami langsung menyendokkan nasi dan menawarkan lauk pada eyang, Kemudian papi mendapat giliran dilayani. Sesudah itu mami ambil makanan juga.


Seharusnya, setelah itu adalah giliran Gayatri mengambil makanan. Tapi Radit langsung menyodorkan piring pada istrinya, yang dengan cekatan diisi.


Gayatri tidak sakit hati mendapat perlakuan begitu. Dilangkahi Radit untuk menikah saja dia rela kok. Apa lagi cuma urusan mengambil nasi. Lagi pula dia juga tak terlalu ingin makan. Tapi demi menghargai keluarga, maka dia mengambil juga bagian makannya dan menikmatinya pelan-pelan.


Bom tidak akan diledakkan saat makan. itu adalah aturan tak tertulis di rumah ini. Jadi lebih baik dia ikuti saja.


Satu jam kemudian, acara makan itu selesai. Asisten masuk ke ruangan dan mengangkati piring kotor. Tapi tak ada anggota keluarga yang beranjak, jika Eyang belum bangkit dari duduk. itu juga aturan tak tertulis lainnya di rumah ini.


Mami melirik resah ke arah pintu yang terbuka lebar. Tapi Gayatri tidak ada keinginan untuk melarikan diri saat ini. Entah kenapa, keinginan itu padam. Dia berusaha percaya pada Dewa. Bahwa pria itu mampu membalaskan dendamnya. Jadi dia menunggu dan duduk dengan tenang.


Setelah pintu kembali ditutup dan istri Radit keluar karena putri mereka menangis, Eyang berdehem. Itu pertanda poin utama kegiatan akan segera dimulai. Semua menunggu dengan tenang.


"Gayatri, besok adalah acara lamaran resmi. Keluarga Dewa akan datang untuk melamar dan mengantar semua seserahan seperti yang seharusnya. Eyang tidak lagi mau melihat sikap tidak bertanggung jawab darimu. Jangan juga gunakan alasan tidak cinta di sini. Karena yang sebelumnya justru adalah pilihanmu sendiri. Namun kau sendiri yang membuat ulah dan lari dari pernikahan. Eyang tidak memberimu pilihan apapun. Kamu hanya harus menerima apa yang diputuskan keluarga!"

__ADS_1


Eyang langsung bicara pada masalahnya. Memberi tahu Gayatri bahwa usahanya berontak dan membuat ribut seisi rumah, adalah sia-sia.


"Setelah ini, kamu akan menerima semua perintah yang eyang katakan. Bukan begitu, Nduk?" tanya eyang.


Semua mata melihat ke arah gadis itu. Dan Aya bergeming dia tak mengangguk, tak juga menggeleng. Matanya menatap lurus ke hiasan bunga di tengah meja makan.


"Sikapmu keras kepala seperti biasa. Seakan mempermalukan keluarga adalah hal yang kau inginkan. Jika pernikahan ini gagal, eyang akan nikahkan kau dengan pria beristri!"


Papi dan mami jelas terkejut dan memandang eyang dengan pertanyaan tak terucap. Tapi eyang tak menggubris.


Pria tua itu berdiri dari kursinya. Sepertinya beliau sudah mengetahui jawaban Aya dari sikap diamnya yang sekeras karang. Itulah sebabnya keluar ultimatum tak masuk akal itu.


Papi melempar serbet yang dipegangnya ke atas meja dengan kasar. wajahnya merah menahan amarah. Kemudian pergi menyusul Eyang. Sementara mami mengeluh dan memandang Aya dengan ekspresi sedih tak terkatakan.


Aya menunggu reaksi Radit yang temperamental. Dan benar saja, adiknya kembali bicara kasar.


"Bisa gak sih Mbak Aya sesekali mikirin keluarga? Mbak itu udah tua! Tanpa masa lalu seburuk itu aja, udah sulit nyariin suami yang baik untukmu. Apa lagi setelah terkenal di seluruh kota sebagai pengantin yang membawa lari uang seserahan. Radit yakin gak bakal ada yang mau menperistri Mbak Aya, kecuali orang gak waras! Atau, pria yang tinggal jauh dan gak tahu apa-apa seperti Dewa!"


"Radit! Jangan kasar sama mbakmu!" tegur mami dengan suara tercekat. Tapi Radit langsung ngeloyor pergi tak peduli.


Gayatri masih diam seperti patung. Matanya menatap lurus ke pot bunga di tengah meja, seakan bunga itu baru pertama kali dilihatnya.

__ADS_1


"Sudah, jangan diambil hati ucapan adikmu. Dia sangat menyayangimu. Dia hanya ndak bisa mengekspresikan dengan benar. Mari mami antar ke kamar. Kamu istirahat dan tenangkan pikiran."


Aya tahu bahwa sekarang saatnya dia kembali ke penjaranya di kamar. Jadi dia berdiri dan mengikuti langkah mami yang memegang lengannya dengan kencang, seakan takut Aya melompat dan menghilang lagi.


Setelah semua keperluannya di kamar dipenuhi mami, maka pintu kamar kembali dikunci.


"Selamat datang kembali di penjara," gumamnya getir.


Dibaringkannya tubuhnya di tempat tidur yang sudah kembali rapi. Pasti saat dia keluar tadi, mami telah menyuruh salah satu art untuk membersihkan kamarnya.


"Mari kita tidur Aya, berharaplah semoga besok terjadi keajaiban," gumamnya lagi.


Sambil memeluk guling, air matanya mengalir diam-diam. Hening, tanpa suara isakan apa pun. Itulah tangis terpedih yang dirasakannya, ketika dia disalah pahami oleh seluruh anggota keluarga.


"Bagaimana kalau dia tak mampu memenuhi persyaratanku? Apakah keluarga tetap akan memaksa menikahkan kami? Atau Eyang akan mencarikan calon lain lagi?" pikirannya terus melayang ke mana-mana. Beranda-andai tentang segala sesuatu.


"Tapi satu hal yang jelas, Eyang tak akan menyerah mencarikan suami untukku."


Wajahnya suram. matanya perlahan terpejam dan tertidur dalam kegelisahan.


******

__ADS_1


__ADS_2