PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
38. Diusir Eyang


__ADS_3

Pukul lima pagi Aya terbangun. Tubuhnya pegal karena tidur bergelung. Dikerjapkannya mata untuk membiasakan melihat dalam kegelapan. Disingkirkannya selimut yang menutupi tubuhnya. Kemudian melipatnya dengan rapi.


"Sudah jam berapa ini ya? Jangan sampai terlambat pulang!" Tergesa-gesa dirapikannya seprei yang kusut. Meraih ponsel di dalam tas kecil di meja nakas.


"Ya Tuhan! Sudah pagi. Bakalan kena marah deh," gumamnya melihat pesan dan panggilan tak terjawab yang berderet di ponselnya.


Bergegas dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Kemudian mengambil tas dan keluar dari apartemen tanpa menoleh lagi.


Dengan memesan taksi, Aya pulang. Sepanjang perjalanan, dia menyiapkan hati dan mereka-reka jawaban yang masuk akal.


Setengah jam kemudian, suara klakson taksi mengusik ketenangan pagi kediaman itu. Security membuka pintu. Dilihatnya wajah Gayatri muncu di balik jendela kaca yang diturunkan setengah.


"Mbak, dari mana saja? Seisi rumah bingung mencari. Jika sampai siang tak kembali, Eyang akan lapor polisi hlo." Security memberi tahu tanpa ditanya.


Aya hanya diam tak membalas. Langkahnya dipercepat. Dia tak menyadari Eyang yang sedang berdiri di sudut teras.


"Dari mana saja kamu?"


Gelegar suara Eyang mengagetkan Aya. Langkahnya langsung terhenti dan membalikkan badan menghadap pria tua itu.


Belum sempat Aya menjawab, Eyang sudah menyambung perkataannya lagi.


"Menghilang tanpa kabar, dan baru pulang pagi hari!"


Aya memilih diam dan mendengarkan omelan Eyang hingga selesai. Jika perkataan Eyang tak dibiarkan hingga selesai, Eyang justru akan tambah marah.


"Apa kamu masih belum bisa bersikap dewasa? Bertanggung jawablah sedikit. Jangan terus menyusahkan keluarga! JIka ingin menjalani hidup sesuka hatimu, sebaiknya kau pergi dari sini!"


Aya terkejut, tak menyangka Eyang sekejam itu. Bibirnya bergetar dan terkatup rapat menahan semua kata yang ingin ditumpahkannya.


"Pak!" Suara mami terkejut mendengar ultimatum Eyang.


"Kita harus dengarkan dulu jawabannya sebelum mengatakan hal seperti itu!" sela mami.


"Huh! Kau terlalu memanjakannya. Meskipun berkali-kali dia mempermalukan keluarga, masih saja kau bela!" ujar Eyang marah. Pria tua itu masuk dan meninggalkan putrinya yang memandang dengan tak percaya.


"Aya putriku! Jika aku tidak membelanya, siapa lagi?" jawab mami sengit. Tapi Eyang sudah menghilang di balik pintu rumah.

__ADS_1


"Ayo masuk dulu. Kamu pulang saja mami sudah bersyukur. Kamu pasti punya penjelasan yang masuk akal." Mami menarik tangan Aya menuju rumah.


Aya bertahan dan matanya menyiratkan tentang ucapan Eyang. Mami mengerti keengganan Aya. "Lupakan kata-kata tadi. Eyang hanya sedang cemas!" bujuk mami.


Dengan enggan Aya mengikuti mami masuk ke rumah. Keduanya langsung masuk kamar di bawah tatapan heran Papi dan Radit. Namun kedua pria itu tak menanyakan apapun. Mereka bisa melihat bagaimana mami sedang menjaga Aya dari intimidasi siapapun di rumah itu.


"Bajumu masih sama dengan kemarin. Apa kau menginap di tempat teman?" tanya mami lembut.


Aya menggeleng. "Kemarin Aya pulang lebih sore. Lalu ingat bahwa cucian di apartemen Dewa belum diangkat. Jadi Aya ke sana. Kemudian menyetrika semuanya. Aya cuma bermaksud berbaring sejenak karena lelah. Enggak tahu kalau langsung tertidur. Tadi terbangun pukul lima, langsung periksa ponsel di dalam tas. Terus cari taksi pulang ke sini," jelas Gayatri.


Mata mami melihat kebenaran dari mata anak gadisnya itu. Aya sama sekali tidak berbohong. Mami mengangguk. "Kalau begitu, kau pasti sangat kelaparan. Tidur tanpa makan malam."


"Pergi mandi, terus ke ruang makan. Mami siapin bubur hangat untukmu." Mami berdiri dan segera keluar kamar, meninggalkan Aya sendiri.


"Bagaimana Mi?" tanya papi yang sudah menunggu di luar kamar.


"Bagaimana apanya?" tanya mami acuh.


"Aya ke mana tadi malam?"


"Mami percaya?" tanya Radit. Mami mengangguk.


Radit dan papi saling pandang. Kemudian saling mengangkat bahu. Jika mami sudah bilang begitu, maka seperti itulah. Tak ada lagi yang membantah.


"Sekarang mami mau ngapain?" tanya papi yang melihat istrinya langsung sibuk di dapur.


"Begitu lelahnya dia, sampai lupa makan malam dan tertidur begitu saja. Kalau tidak diberi bubur hangat, dia bisa masuk angin nanti."


Mami terus berkutat di dapur. Bahkan papi tak bisa menginterupsinya saat putri kesayangan itu sedang butuh perhatian khusus.


Pukul setengah tujuh, Aya sudah rapi dengan baju kerjanya. Dia menuju ruang makan. Memang perutnya sudah sangat lapar. Harum masakan mami menggugah seleranya.


"Sudah siap Nduk?" tanya mami dengan senyuman hangat. "Ini bubur ayam untukmu. Ayo makan selagi hangat."


Semangkuk bubur dengan suwiran ayam dan kuah soto didorong ke hadapan Aya. Lalu teh rempah yang harum dan hangat disandingkan dengan mangkuknya.


"Habiskan tehnya, agar tidak masuk angin!" pesan mami. Wanita itu kembali sibuk menyiapkan sarapan papi.

__ADS_1


"Terima kasih, Mi." Aya menatap punggung mami dengan haru. Mami adalah yang paling pengertian. Pelan-pelan disesapnya teh rempah yang dibuatkan mami. Kehangatan yang membuat nyaman perutnya yang kosong sejak malam.


"Apakah sarapannya sudah selesai?" Itu suara papi yang menyapa. Pria paruh baya itu juga sudah tampak rapi. Sudah siap untuk pergi bekerja.


"Ya. Radit mana?" Mami bertanya balik. Papi mengedikkan bahu tanda tak tahu. Lalu duduk di sebelah Aya. Melihat minuman khusus putrinya dengan bibir mengerucut.


"Buatkan aku minuman yang sama dengan Aya," pintanya.


"Hemm ...." sahut mami yang tengah menuangkan minuman itu tanpa diminta.


"Ini." Cangkir porselen cantik diletakkan di depan sang suami. Kemudian mami membalikkan tubuh untuk mengambilkan sarapan papi.


"Antarin Aya ke kantor sekalian." Aya dan papi tahu, bahwa itu bukanlah kalimat permintaan, tapi perintah. Hanya boleh satu jawaban. "Iya," sahut papi cepat.


"Kemarin ke mana?" tanya papi sambil lalu. Diangkatnya cangkir sambil menyeruput minuman rempah hangat buatan mami.


"Aya ketiduran di apartemen Dewa, Pi. Gak bermaksud bikin panik semua keluarga. Enggak bilang ke sana, karena rencananya juga mau pulang. Cuma istirahat sebentar, ehh ... ketiduran. Makanya pas bangun pagi tadi Aya langsung naik taksi pulang."


Sekali lagi, dia menjelaskan kejadian tadi malam. Papi mengangguk mengerti. Pria itu menghela napas panjang. Mungkin dia dapat merasakan apa yang dipikirkan putrinya itu. Suami baru meninggal, tapi sudah didesak untuk menikahi pria lain. Meskipun Arjuna adalah kembaran Dewa, namun tetap saja berbeda dengan almarhum menantunya yang sangat tahu sopan santun itu.


"Eh, kemarin papi juga telepon Arjuna menanyakanmu. Apakah tertahan di kantor hingga larut. Katanya kau pulang pukul lima sore."


Aya mengangguk sambil menyuapkan bubur ke mulut. "Karena pulang sore itulah, makanya Aya mampir ke apartemen untuk merapikan yang waktu itu belum selesai dikerjakan," beber gadis itu lagi.


"Oo ... Begitu ceritanya."


"Meskipun begitu, sebaiknya Mbak Aya tetap memberitahukan rencana mau mampir di mana setelah pulang kerja. Biar gak kecarian lagi seisi rumah. Eyang jadi sewot begitu." Radit menimpali. Pria itu ikut duduk di meja makan sambil menggendong putrinya.


"Maafin ya, merepotkan semuanya. Nanti Aya akan beritahu jika ada rencana mampir setelah pulang kerja," janjinya.


"Begitu dong, putri papi." Bahu Aya ditepuk-tepuk papi dengan lembut, untuk menenangkannya.


"Pi, boleh enggak kalau Aya tinggal di apartemen Dewa?" tanya gadis itu ragu.


Semua mata mendadak memandang Aya dengan pandangan tak percaya.


******

__ADS_1


__ADS_2