PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
58. Keluarga Pak Salam


__ADS_3

Setelah akhirnya berkenalan singkat, Pak Salam memberi tahu bagaimana Dewa bisa mengenal keluarga itu.


"Kami mengenal Dewa sejak dia masih di SMA. Putra kami adalah teman sekolahnya. Begitu dekatnya hubungan mereka, hingga seperti saudara."


Pak salam menunjukkan foto-foto Dewa dengan seragam SMA, bersama dengan seorang teman pria tersenyum lebar saling merangkul pundak. Ada juga foto-foto lain dengan kedua suami istri itu di atas bufet ruang tamu.


"Jadi, saat Dimas putra kami satu-satunya meninggal akibat kanker yang dideritanya, Dewa membahasakan dirinya sebagai putra kami, pengganti Dimas."


"Bahkan saat dia melanjutkan kuliahnya di Belanda, kami selalu dikabarinya. Kami juga mendapat undangan untuk resepsi pernikahannya." Pak Salam menghela napas panjang.


Bu Salam datang dari kamar dan meletakkan sebuah kotak besi di atas meja.


"Saat itulah dia datang dengan membawa kotak ini. Dewa terlihat murung dan sedikit banyak pikiran," jelas pak Salam lagi.


Sekarang, di depan Arjuna ada sebuah brankas besi ukuran kecil, seperti yang umum ada di toko-toko untuk menyimpan uang atau perhiasan.


Arjuna memandangi kotak itu sambil berpikir. "Masalah berat apakah yang dihadapi Dewa tapi tak mau menceritakannya pada saudara kembarnya sendiri?"


"Apa dia mengatakan sesuatu tentang maslahnya atau brankas ini?" tanya pria muda itu.


Pak Salam menggeleng. "Dia hanya bilang titip untuk disimpan, karena dia tak ingin istrinya mencurigainya menyimpan suatu rahasia besar yang akan membuat gadis itu jadi banyak pikiran."


"Itulah terakhir kali kami melihatnya," Bu Salam menyusut air matanya.


"Apakah ada kuncinya?" tanya Arjuna setelah memeriksa bahwa kotak itu dikunci. Diyakininya, kunci itu menggunakan sandi.


Pak Salam kembali menggeleng. "Hanya itu saja yang dititipkannya. Sekarang kami kembalikan itu padamu. Mungkin bisa berguna."


"Sebelum meninggal, Dewa memintaku menikahi istrinya," ujar Arjuna tiba-tiba.


"Apa?" pasangan suami istri itu saling bertatapan tak percaya.


"Meskipun tidak langsung menikah, karena kami sama-sama keberatan, pada akhirnya Gayatri menjadi istriku juga." Helaan napas Arjuna yang berat, mengundang rasa ingin tahu Pak Salam.


"Apakah ada masalah dengan wanita itu?" tanyanya hati-hati.


Kepala Arjuna menunduk. Meski matanya tertuju pada brankas, Pak Salam tahu bahwa pikiran anak muda di depannya sedang terbang entah kemana.


"Seperti juga Dewa, jika kau punya beban yang sangat berat dan tak bisa kau tahan lagi, kau boleh menganggap kami orang tua dan menceritakan masalahmu," bujuk Pak Salam lembut.


Arjuna memejamkan matanya. Dia yang tumbuh dalam keluarga angkat memang kehilangan kasih sayang. Orang tua kandungnya sendiri membuangnya tanpa peduli.

__ADS_1


Sementara orang tua angkatnya tidak mampu menunjukkan rasa sayang dan kehangatan keluarga. Mereka akan memberinya apa saja, kecuali menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang layaknya orang tua pada anak.


Namun, tiba-tiba sepasang suami istri yang baru dikenalnya dua jam yang lalu, memberinya kehangatan keluarga yang tak pernah dirasakannya.


Melihat tubuh pria muda di depannya bergetar, Pak Salam mengerti. Dia beringsut duduk ke sebelah Arjuna dan mengulurkan tangan untuk memeluk pundaknya.


"Pria juga boleh menangis, Nak. Menangislah ... Jika beban itu sungguh berat unuk kau pikul sendiri," hiburnya sambil menepuk-nepuk punggung Arjuna halus, menenteramkannya.


Di seberang meja, Bu Salam menggulirkan air mata kembali. Lalu dia masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudian kembali dengan membawa tissu.


Hatinya merasakan kelegaan setelah menangis cukup lama. Kemudian dia menegakkan badan dengan perasaan malu. "Maaf ...."


Pak Salam menyodorkan tissu pada Arjuna. "Seorang anak selalu boleh menangis di depan orang tuanya. Kau bisa ke sini kapanpun kau mau, jika merasa pundakmu sudah lelah, Nak."


"Tidak ada yang salah dengan pria yang menangis. Itu menandakan dia masihlah manusia yang punya hati lembut dan peka," tambah Bu Salam, menghibur Arjuna.


Arjuna tersentuh dengan keluarga sederhana di depannya. "Betapa bahagianya dirimu, Dewa. Kau memiliki banyak cinta dalam hidupmu," batinnya.


"Ibu masak apa? Kami sudah lapar." Pak Salam mengalihkan pembicaraan.


"Ah ... ayo! Ada sayur asem, ikan mujair goreng dan sambel terasi. Mari kita makan. Ibu juga sudah lapar," ajaknya ramah untuk mengusir atmosfer murung di rumah itu.


"Ayo makan! Jangan biasakan makan terlambat dan tidak teratur," ujar pak Salam sambil menarik lengan Arjuna untuk ikut berdiri.


Arjuna terpana. Belum pernah dia merasakan kehangatan dan kedekatan seperti itu dalam hidupnya. Diikutinya sepasang suami istri itu ke ruang makan dan duduk di antara keduanya.


Acara makan malam yang semula kaku itu mulai mencair setelah Arjuna terbiasa. Dia tersenyum melihat kedua orang tua itu sibuk menawarkan aneka lauk atau bahkan menambahkan bakwan dan kerupuk ke piringnya.


Suara gelak tawa terdengar dari rumah sederhana di kompleks itu.


Arjuna menahan diri dari mengatakan tentang penculikan Gayatri. Dia tak ingin membuat sepasang suami istri itu jadi banyak pikiran. Pukul sepuluh malam barulah kunjungan itu berakhir. Dia pulang dengan hati yang lega serta bahagia.


"Apa kau dulu menitipkan Aya, agar aku bahagia?" tanya Arjuna, seakan Dewa duduk di kursi sebelahnya.


"Sekarang kau juga membawaku kepada keluargamu yang lain. Dan sungguh, mereka membuat hatiku bahagia. Terima kasih, Dewa."


"Andai Gayatri ada di sini. Dia juga akan bahagia mengenal keluarga Pak Salam," katanya yakin.


"Bisakah kau membimbingku menuju ke sana? Kita harus segera menyelamatkannya. Seperti halnya mami, aku juga khawatir Aya sedang sakit dan menderita di sana."


Malam itu, karena lelah dan juga tak memiliki kunci serta kata sandinya, Arjuna hanya meletakkan kotak besi itu di atas meja di samping tempat tidur, lalu beristirahat.

__ADS_1


Pukul enam pagi, Arjuna terbangun dengan bunyi telepon yang tak ada habisnya. Dilihatnya nama pemanggil yang tertera. Dengan malas diangkatnya telepon.


"Kau mengganggu tidurku!" hardiknya.


"Bos, sepertinya wanita itu sudah mau melahirkan," lapor pengawal Sandra.


"Ya biarkan dia melahirkan di sana! Jangan dilarang. Akan tetapi, tak ada fasilitas bintang lima untuk penipu sepertinya!" ketus Arjuna, lalu mematikan telepon.


Namun, telepon itu kembali menjerit mengganggunya. "Bos, maksud Anda, saya bisa panggil dokter untuk membantu persalinannya di sini?" tanya penjaga itu lagi ingin kejelasan.


"Apa kau bodoh? Kenapa tidak sekalian panggil wartawan dan polisi!" Arjuna menggeram marah melihat kebodohan orangnya.


"Panggil wartawan dan polisi? Orang yang mau melahirkan, hanya butuh dokter atau bidan, Bos!" suara dari seberang terdengar bingung.


"Panggil saja, kalau kau ingin dipenjara!" teriak Arjuna emosi.


"Tapi , Bos! Orang melahirkan itu bisa meninggal juga. Mamak saya meninggal saat melahirkan adik perempuan saya," orang itu kembali khawatir.


"Kalau mati, ya tinggal kubur sana di sana!" bentak Arjuna emosi.


Telepon itu tidak berbunyi lagi setelah itu. Tapi Arjuna sudah tak bisa melanjutkan tidurnya yang terganggu.


"Menjengkelkan!" ketusnya sambil bangkit dari tempat tidur. Dilihatnya brankas Dewa di meja nakas sambil berjalan ke kamar mandi.


"Bagaiman cara membukanya, ya," gumamnya sambil mandi. Pria itu terus memikirkan cara untuk membuka kotak besi terkunci itu.


*


*


"Luna, apa kau tahu cara membuka kotak ini?" Arjuna menunjukkan brankas itu pada Luna di kantor.


"Pakai kunci lah, Bos." Luna tersenyum geli. Yang sejelas itu pun masih juga ditanya.


"Seseorang memberikan kotak ini. Katanya punya Dewa. Aku tidak memiliki kuncinya," jelas Arjuna.


"Potong dengan gerinda!" sahut Luna enteng.


Arjuna terkejut mendapat jawaban tak terduga itu. "Bagaimana kau tahu tentang segala alat pertukangan? Apa kau dulu magang jadi tukang bangunan, sebelum kerja di sini?" kelakar Arjuna.


Tapi Luna bukannya tertawa dicandai. Dia malah terbengong. Bagaimana Bos galak di depannya bisa bercanda sekarang?

__ADS_1


"Semoga Bos tidak sedang kesambit setan," batinnya ngeri.


******


__ADS_2