
Dari tiga wanita yang sedang memelototi televisi, hanya istri Radit yang bergerak cepat. dia meraih ponsel dan menghubungi suaminya.
"Kami lihat breaking news di tivi. Mobil Dewa mengalami tabrakan beruntun di jalan tol! Kau cepat cari informasi dan susul ke rumah sakit. Kabarin kami!" perintahnya tanpa menunggu reaksi Radit.
"Kau yakin?" tanya Radit.
"Aku lihat wajah dan kenal mobilnya yang ringsek!" jawab istrinya.
"Bagaimana dengan Mbak Aya dan mami?" tanya Radit lagi.
"Mereka shock!" Cepat cari tahu. Dan gak usah kasih tau papi dulu. Nanti ikutan shock juga!" pesan istrinya.
Setelah mendapat jawaban dari Radit, Telepon terputus. Dilihatnya dua orang yang tak melepaskan pandangan dari televisi.
"Dewa ... Dewa ...." desis mami dengan suara lirih hampir tak terdengar.
Sementara wajah Gayatri berubah pucat pasi. Matanya berkedut-kedut, namun tak ada setetes juga air mata yang jatuh.
"Nangis akan melegakan hati, Mbak," bisik adik iparnya lembut. Tangan ibu muda itu sudah terulur untuk memberikan pelukan empati buatnya. Tapi Aya justru melihatnya dengan mimik bingung.
"Apa aku harus menangis, sekarang?" tanyanya dengan mimik yang sulit dimengerti.
Adik iparnya tak tahu harus menunjukkan reaksi apa atas pertanyaan itu. Tangannya yang terulur akhirnya melayang ke samping dan segera memeluk tubuh mami yang bergetar hebat melihat menantunya berhasil dikeluarkan dari mobil ringsek dalam keadaan tak sadarkan diri dan kepala penuh darah.
"Dewa ... Dewa ...." air mata mami akhirnya jatuh berderai. Dia merasa sangat sedih, karena rasa khawatir dan cemasnya tadi seperti sebuah pertanda.
Gayatri ikut melihat tubuh suaminya digotong banyak orang menuju ke pinggir jalan tol. Mungkin masih harus menunggu ambulance sampai ke lokasi yang pasti sudah sangat macet.
Gayatri lari ke kamar secepat kilat setelah bintik hitam matanya kembali bersinar.
"Mbak Aya, jangan bunuh diri!" teriak adik iparnya panik. Mami yang sedang menangis di pelukannya terlonjak kaget.
"Aya!" teriaknya lebih panik lagi. Begitu paniknya, mami sampai melompat ke arah kamar di mana putrinya menghilang.
"Sabar, Nduk. Kita cari tahu dulu gimana keadaannya. Jangan gegabah dan putus asa!"
Mami sudah berdiri d depan pintu kamar yang sedang terbuka. Dilihatnya Aya sedang melakukan panggilan telepon dan menunggu jawaban.
"Luna, ini Gayatri, istri Dewa. Apa kamu punya nomor telepon Arjuna?" tanyanya begitu telepon tersambung.
"Ada, Bu. Sebentar saya kirim ke nomer ibu," jawab gadis itu.
Tak butuh waktu lama sampai nomer telepon Arjuna didapat Gayatri. Dia segera menelepon nomer tersebut dan menunggu panggilannya diangkat.
__ADS_1
"Siapa?" tanya suara di sana malas.
Gayatri tiba-tiba merasa sebal mendengar suara pria itu. Dia bahkan mendengar suara orang menguap dari ujung telepon sana.
"Ini Aya, istri Dewa!" jawab Gayatri dengan terpaksa.
"Apa kau tak salah panggil nomer?" tanya pria di ujung telepon dengan malas.
"Apapun yang kau lakukan, hentikan sekarang. Dewa mengalami kecelakaan di tol. Dia hanya tergeletak di pinggir jalan. Tolong, kalau kau punya kemampuan, bawa dia pergi dari sana untuk mendapatkan pertolongan dokter segera!" teriak Gayatri kasar.
Dia kesal sekali. Apa benar mereka kembar? Apa ada saudara kembar yang tak menyadari keadaan kritis saudaranya? "Benar-benar orang yang buruk!" kesalnya sambil mengomel.
"Kau menghubungi saudara kembarnya?" tanya mami mendekat. Aya mengangguk.
"Dewa harus segera mendapatkan perawatan medis. Tak bisa hanya dibiarkan tergeletak tanpa bantuan sama sekali di sana!" Gayatri mondar-mandir. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
"Tidak!" tepisnya dalam hati. Dewa akan baik-baik saja. Aya yakin itu. Orang baik akan mendapatkan kesempatan kedua.
Sekarang hatinya mulai diselimuti kesedihan. Sudah lebih seminggu mereka menikah, Tapi dia bahkan belum memberikan apa yang menjadi hak pria itu.
"Apakah aku akan berdosa dan menjadi istri durhaka?" pikirnya kalut.
"Tolong, beri aku kesempatan kedua, Tuhan. Aku tidak akan keras kepala lagi padanya," doanya dalam hati.
"Aku tak ingin menjadi janda secepat ini. Kami bahkan belum melakukan resepsi pernikahan," gumamnya lirih. Tubuhnya sudah kehilangan daya dan jatuh begitu saja.
"Aya!" teriak mami.
Seorang art membantu mengangkat tubuh Aya yang pingsan ke atas tempat tidur.
"Reaksinya benar-benar lambat!" geleng adik iparnya.
Suasana rumah makin panik kala papi mengetahui hal itu tanpa sengaja dari berita yang sedang dibacanya di kantor. Pria paruh baya itu pingsan di kantornya dan dilarikan juga ke rumah sakit.
Diantar sopir, mami pergi sendirian untuk menjaga papi di rumah sakit. Sementara istri Radit menjaga Aya yang baru siuman.
"Minum dulu, Mbak." Adik iparnya mengangsurkan segelas air teh manis hangat padanya.
Aya segera menyambut gelas dan menghirup pelan isinya. Rasa manis yang membelai lidahnya, mengantarkan kesadarannya kembali.
"Bagaimana dengan Dewa?" tanyanya tiba-tiba.
" Mas Radit belum memberi kabar," geleng adik iparnya muram.
__ADS_1
"Adakah kabar dari Arjuna?" tanyanya penuh harap. Mata Aya menunjukkan kegelisahannya dengan nyata.
Adik iparnya kembali menggeleng lesu. "Apa saja yang mereka lakukan?" geramnya sambil mondar-mandir.
"Tenang, Mbak. Jangan panik." Ibu muda itu berusaha menenangkan kakak iparnya yang kini mulai bertingkah seperti sewajarnya keluarga korban kecelakaan.
Kemudian terdengar suara tangisan putrinya. Wanita itu beranjak keluar kamar. Sekarang dia harus bisa menjaga rumah dan seisinya.
Aya keluar kamar dan mendapati rumah sepi. "Mami di mana?" tanyanya pada seorang art.
"Tuan pingsan di kantor dan dilarikan ke rumah sakit. Jadi nyonya pergi ke sana diantar sopir," jawab art tersebut.
"Apa! Kenapa tak ada yang mengatakan hal itu padaku?" Matanya menatap tajam.
"Ini saya barusan mengatakannya," jawab art itu cepat.
"Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari tadi!" bentak Aya.
"Tadi Mbak Aya juga pingsan tho?" Art itu membela diri.
"Hah ... terserah. Papi di rumah sakit mana?" tanya Aya. Dia bergerak cepat menuju ke luar rumah.
"Mbak, Nyonya tadi bilang Mak Aya jangan ke mana-mana. Tunggu kabar Mas Dewa di rumah saja!" Art mengejar langkah cepat Aya yang sudah mencapai teras rumah.
"Aku mau lihat papi!" bentak Aya.
"Lalu Mas Dewa siapa yang lihat ke sana kalau ada kabar?" Art itu mengingatkan.
Aya bimbang sejenak. Tapi kemudian mata jelinya melihat mobil mereka masuk halaman.
"Pak, tadi habis anterin mami ke rumah sakit ya?" todongnya pada sopir yang baru masuk.
"Iya, Mbak." Sopir mengangguk jujur.
"Antar saya ke sana juga!" perintah Aya. Dibukanya pintu mobil dan duduk di jok belakang.
Sopir tua itu menghela napas panjang. Dia bahkan belum minum ataupun turun untuk pipis dulu, sudah diminta pergi lagi.
"Baik, Mbak," jawabnya patuh. Mobil segera memutari halaman dan keluar lagi.
"Mbak Aya! Ada pesan masuk dari Radit!" adik iparnya mengejar mobil yang terlanjur menghilang di baik pintu pagar.
"Aduh ... gimana ini ...." gumamnya kalut.
__ADS_1
**********