Pengkhianatan Dalam Pernikahan

Pengkhianatan Dalam Pernikahan
Kejahatan Lahir dari Pengkhianatan


__ADS_3

''Sayang!'' panggil Marko yang mencari keberadaan Anjani dirumah, ia mencari keseluruh penjuru bangunan mewah itu, tapi tak kunjung menemukan istrinya.


Dari kamar, dapur, sampai halaman belakang tidak terlewatkan. Marko merasa dia tidak bisa berdiam diri dan menunggu Anjani menceraikannya.


Dia akan berusaha untuk mendapatkan maaf dari Anjani, walaupun itu sulit. Karena dia tahu bagaimana kecewanya Anjani terhadapnya terlihat dari raut wajahnya. Ia sadar kalau disalah, dan maka dari itu ia akan memburu maaf dari Anjani.


''Ibu belum pulang, Pak,'' ucap seorang pembantu.


Marko menghela nafasnya lelah, lalu mengibaskan tangannya mengisyaratkan untuk pembantu itu pergi. Ia lelah mencari Anjani kesana kemari tapi ternyata memang Anjani belum pulang.


Ponsel berdering, ia lihat siapa ya g menghubunginya, dan yang dia lakukan adalah menggeser icon itu kewarna merah, ya dia menolak panggilan itu. Tapi rupanya di penelpon itu tidak menyerah, ponsel kembali berdering. Yan pada akhirnya Marko mengangkatnya.


''Stop hubungi saya!'' bentak Marko pada sang penelepon.


''Marko! kenapa kamu begini. Kita melakukannya dengan sama-sama mau. Bukan aku yang menggoda mu!'' balas di penelpon itu yang tak lain adalah Suci.


''Tapi jika kau menolak, ini tidak akan terjadi!''


Mereka saling menyalahkan satu sama lain tanpa sadar kalau diantara mereka tidak ada yang benar. Perselingkuhan itu terjadi karena keduanya memiliki sifat yang tamak.


''Lalu, apa kau tidak bersalah. Disini kau yang paling bersalah, Marko! aku jamin Anjani juga tidak akan memberikan maaf untuk mu maupun aku!''


Merasa muak mendengar apa yang Suci gaungkan, akhirnya Marko memutuskan sambungan telepon. Membanting gawainya kesembarangan arah. Ia marah pada dirinya sendiri, entah apa yang akan terjadi nanti.


Marko memutuskan untuk kembali mencari Anjani, tapi pada saat ia akan keluar. Orang yang sejak tadi ia cari akhirnya muncul sendiri.


Mata Marko berbinar, ia bersiap akan memeluk Anjani yang berjalan kearahnya, tapi ternyata istrinya melewatinya begitu saja. Tdiak ada lagi senyuman manja dari wanita lembut itu, rautnya kian berubah dingin. Tidak memedulikan Marko disana.


Marko yang merasa diabaikan langsung menarik tangan Anjani tapi ia tidak menyangka kalau Anjani malah menghempaskan tangannya dengan kasar.

__ADS_1


''Sayang aku tau kamu marah, jadi aku mohon maafkan aku!''


Anjani berbalik dengan senyuman meledek. Seakan permohonan maaf dari Marko sebuah lelucon yang tidak sama sekali membuatnya terhibur, melainkan merasa muak.


''Maaf?''


Marko mengangguk cepat. ''Iya, aku menyesal … kau mau memaafkan ku 'kan. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.''


''Cih! Kenapa kau berpikir aku akan memaafkan mu?''


Alis Marko turun, menandakan sebuah rasa keputusasaan. Karena memang kesalahan apapun bisa terselesaikan dengan kata maaf, tapi tidak dengan perselingkuhan.


Dosa apapun akan terampuni kecuali menduakan Tuhan. Apalagi Anjani, seorang insan biasa memiliki hati yang rapuh walaupun selama ini ia menunjukkan pada dunia bahwa dirinya wanita yang kuat tetapi nyatanya tidak.


Kekuatannya seketika hancur terbawa arus penghianatan dari Marko. Entah nanti ia akan seperti apa, ia memasrahkan dirinya kepada takdir.


''Anjani, kita suami istri harus saling memaklumi dan memaafkan, bukan?''


Memaklumi perselingkuhan sama dengan orang yang bodoh! Dan Anjani? ia adalah wanita yang pintar, mandiri dan tahan banting. Segala cobaan sudah ia rasakan dan ia mampu melewatinya, maka pengkhianatan ini, Anjani bertekad akan menghadapinya dengan elegan, seperti apa yang dikatakan Roger padanya.


''Memaklumi pengkhianatan kalian? kau tau Marko, perselingkuhan adalah penyakit. Penyakit yang tidak akan pernah sembuh. Jika hari ini aku memaafkan mu, kelak kau akan terus mengulangi lagi. Jadi kalau kamu berharap dimaafkan dan dimaklumi, kamu tidak akan dapatkan itu dari ku. Permisi!''


Anjani berlalu begitu saja, tapi Marko terus mengejarnya, berusaha membujuknya. Anjani masuk kekamar, Marko masih mengikuti kemana Anjani pergi.


Dan dia semakin panik ketika melihat Anjani yang tengah membenahi pakaian lalu dimasukkannya kekoper. Marko mengambil alih koper itu dan mengeluarkan isinya lagi, tapi Anjani terus mengeluarkan pakaiannya dari dalam lemari dan Marko terus mengeluarkan lagi hingga ketika Anjani pun berteriak karena kesal.


''Marko!!''


''Baik, kamu tidak perlu pergi karena aku yang akan pergi. Aku akan biarkan kamu menyendiri dan aku akan merenungi kesalahan ku.'' Marko berlalu dengan rasa penyesalan yang bahkan sudah sangat terlambat.

__ADS_1


Anjani tidak menghalanginya, ia mendudukkan bokongnya ditepian ranjang. Menyeka air matanya yang kembali menetes. Dan ia mengeluarkan gawainya lalu menghubungi seseorang. ''Hallo, Pak Dery. Tolong amankan semua aset milikku, dan bantu aku. Aku ingin bercerai.''


Anjani menyimpan kembali ponselnya, menghela nafasnya berat. Matanya menatap dengan pandangan kosong, karena dia tidak pernah menduga kalau ternyata pernikahannya hanya sebatas ini, usia pernikahan yang masih seumur jagung harus kandas begitu saja.


Matanya melirik kearah cermin, ia beranjak dan melangkahkan pelan. Memperhatikan wajah dan bentuk tubuhnya, lalu bertanya-tanya dalam hatinya, ''Apa yang harus ku benahi? apa wajahku begitu buruk? apa aku sangat membosankan, sampai kamu mengkhianati ku.''


Anjani turut menyalahkan dirinya sendiri. Dan mencari apa kurangnya dia sehingga Marko pun mencuranginya. Tapi yang sebenarnya, Anjani itu wanita yang cukup sempurna, hanya saja ia salah memilih pria dan menjadikannya suami sehingga membutakan matanya. Jika saja bayangan dirinya bisa berbicara, dia akan mengatakan ''Tidak ada yang kurang dari dirimu, Anjani. Marko yang kurang bersyukur!''


Hari itu akan menjadi sebuah sejarah bagi Anjani. Hari yang dimana ia melihat langsung dengan mata kepalanya, kalau suami dan sahabatnya sedang bersenda gurau tanpa menggunakan busana. Sangat menyakitkan memang.


Tapi Anjani tidak boleh terpuruk, ia harus kuat dan tegar. Maka dari itu, sepagi ini ia sudah sangat rapih, menggunakan setelan jas wanita yang sopan. Dan sudah bersiap untuk pergi kesuatu tempat.


PT Jan's, itulah tujuannya. Para karyawan menyambutnya dengan sangat ramah tapi mereka juga merasa heran. Karena Anjani yang datang tdiak dengan Marko dan sepagi ini?


Anjani tersenyum pada Pia yang juga tersenyum kearahnya. Dia berjalan melewati meja kerja Suci yang masih kosong, entah tidak akan datang atau memang dia akan menebalkan wajahnya untuk tetap bekerja disana.


Anjani memasuki ruangan itu, lalu duduk dimeja kebesaran yang biasa Marko tempati.


Tapi baru saja ia duduk, pintu diketuk dari luar.


Tok tok tok


''Masuk!''


Beberapa orang berseragam kebersihan masuk keruangan dan langsung menata kembali ruangan itu dan Anjani? ia hanya duduk ditempatnya.


Suara bising dari para pekerja itu membuaat seseorang yang sedang tertidur merasa terganggu. Ia keluar dari kamar rahasia, matanya yang semula masih setengah terbuka seketika melebar, melihat banyak orang yang sedang menata ulang ruangan kerjanya.


Ya malam tadi Marko memutuskan tidur dikantor.

__ADS_1


''Heh! kalian sedang apa? apa-apaan ini! keluar!!''


''Kau yang harusnya keluar, Marko!''


__ADS_2