Pengkhianatan Dalam Pernikahan

Pengkhianatan Dalam Pernikahan
Figura Yang Pecah


__ADS_3

Pinggiran mata yang agak menghitam yang saat ini Roger alami. Karena film yang sahabatnya putar malam tadi membuat Roger tidak dapat tidur, bahkan untuk bergerak pun rasanya tidak nyaman. Tapi, biang kerok yang membuatnya seperti itu sampai menjelang subuh ini, sedang bermimpi indah sampai air liur pun keluar dari sudut bibirnya.


Roger terus memaki axel, walaupun yang dimaki pun tidak mendengarnya karena memang Roger memakinya dengan suara pelan.


''Brengsek, anak kampret! bisa-bisanya dia tidur tenang, sedangkan aku? Ck, sial! ini sesak sekali!'' gerutu Roger dengan pandangan mata yang menatap kearah celananya yang terlihat tonjolan mengembang disana.


Film sudah usai, dan kaset juga sudah di ambil dari tempatnya oleh si pemilik durjanah, tapi Roger masih saja merasakan akibatnya dari film biru itu.


Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 04.30 pagi tapi untuk terlelap Roger benar-benar tidak bisa, adegan yang ada di film biru itu terus berputar seperti hantu yang bergentayangan dan menunjukkan diri dan terlihat di ujung matanya.


''Ah sial!'' Bugh!


Roger melemparkan bantal yang sejak tadi ia gunakan untuk menutupi tonjolan besar pada celananya ke Axel. Tapi pria berambut blonde itu sama sekali tidak terusik, justru ia semakin terlelap.


Roger semakin frustasi, dan di saat ia masih saja merutuk pada sahabatnya. Suara langkah kaki terdengar menggema dan Roger pun menoleh ke arah suara tersebut yang ternyata suara itu adalah langkah kaki dari pemilik rumah, yang tak lain adalah, Anjani.


Roger pun panik ia segera mengambil bantal sofa yang ia lempar ke arah Axel. Lalu segera Ia letakan di atas tonjolan besarnya.

__ADS_1


Langkah kaki itu semakin dekat, dekat dan dekat. Anjani sedikit terkejut karena ternyata Roger masih terjaga dari tidurnya. Dengan baju tidurnya yang bahkan tidak membentuk lekukan tubuh tapi Roger sampai menelan ludahnya, ya karena Roger sudah berada di atas angan sejak tadi, dan kedatangan Anjani bagaikan seekor burung camar yang membuat pandangannya semakin indah dari atas angannya.


Anjani mendekat sembari mengikat rambutnya tinggi-tinggi, dan lagi-lagi Roger harus menelan ludahnya susah payah, juga, menekan bantal sofa yang ada diatas pahanya erat-erat.


''Kau sudah bangun, Roger?'' tanya Anjani.


''E–eeee … i–iya,'' jawab Roger begitu gugup.


Anjani menoleh kearah Axel yang masih tertidur pulas dan tidak sedikitpun terusik dengan suara apapun itu disana. ''Kalian kenapa tidak tidur dikamar?'' tanyanya lagi yang membuat Roger semakin panik karena takut kalau Anjani tahu apa yang dia dan Axel tonton malam tadi.


''I–iya, kami ketiduran karena nonton film,'' jawab Roger sekenanya bahkan ia sendiri merutuki jawabannya sendiri.


Pertanyaan Anjani semakin memojokkan Roger, dia semakin panik dan gugup, duduknya gelisah takut kalau Anjani terus bertanya-tanya. Tapi tiba-tiba suara benda jatuh membuat perhatian Anjani teralihkan yang otomatis membuat Roger bisa menghela nafasnya lega.


Praannkkk!!


Anjani menolehkan kepalanya terkejut dan langsung menghampiri suara tersebut. Dan karena terkejut akhirnya tonjolan tangan ada pada celana Roger bisa sedikit berkurang, dan Roger pun menyusul Anjani.

__ADS_1


Dan disana, Anjani sedang berjongkok seperti sedang memunguti sesuatu, dengan segera Roger menghampirinya dan ternyata Anjani tengah memunguti pecahan kaca dari sebuah figura.


Mata Roger melihat foto yang ada pada figura itu yang ternyata adalah sebuah potret Anjani bersama Marko.


''Jani, kau tidak apa-apa?'' tanya Roger ikut berjongkok.


Anjani menoleh dan tersenyum, seraya menjawab, ''Tidak apa-apa, mungkin Bi Mirna melewatkan Poto ini untuk dibuang,'' jawab Anjani dengan santai.


''Di buang?''


''He'um, dibuang. Lalu untuk apa aku simpan, 'kan?'' Roger merasa senang mendengar jawaban Anjani. Tapi dia tidak tahu apa yang sebenarnya Anjani rasakan, karena pecahnya Poto itupun membuat Anjani sedikit sedih dan mengingat momen dimana potret itu diambil.


''Ya sudah, lepaskan itu! biar aku yang bereskan. Ini bahaya bisa melukai tangan mu!'' Roger mengambil alih pecahan kaca yang sudah sebagian di punguti Anjani dan kemudian membersihkan itu dengan hati-hati.


Anjani memperhatikan Roger yang sedang memunguti kaca itu, dan diapun berinisiatif mencari pengki dan sapu. ''Pakai ini!'' Anjani memberikan pengki dan sapu.


Roger mengangguk dan setelah siap, kaca-kaca dan bingkai sudah berada didalam pengki, ditangannya masih memegang foto Anjani yang bersama Marko. Roger berniat mengembalikan itu pada Anjani, tapi siapa sangka tanggapan Anjani justru menyodorkan pengki yang berarti meminta Roger ikut memasukkan foto itu kedalam sana.

__ADS_1


''Oh, oke.''


Anjani berlalu kearah tempat sampah yang ada didapur untuk menuang sampah kaca itu kedalam sana. Dan Roger ikut membuntut dari belakang.


__ADS_2