
Perjalanan yang panjang, 24 jam penerbangan membuat dua wanita cantik itu tepar dikamar sebuah hotel. Mereka sampai pukul 9 pagi, dan bertemu dengan para klien jam 11 siang nanti, mereka memiliki waktu 2 jam untuk meluruskan tulang pinggang yang bengkok.
Entah kenapa Anjani tiba-tiba melamun. Ya dia ingat betul, kalau hotel ini juga tempat ia menginap bersama Marko saat akan bertemu dengan para petinggi perusahaan.
Dan Pia tentu menyadari dari sebab Anjani melamun.
Pia menghampiri Anjani yang duduk menghadap jendela. "Bu, mau ku pesankan sesuatu?" Pia menawarkan jasanya.
Anjani menoleh dan tersenyum, "Kamu tau tempat ini—"
"Tempat Anda dan Pak Marko menginap?" tebak Pia yang seratus persen sangat benar.
__ADS_1
"Heum ... kala itu kami masih berpacaran, tapi kami berani mengambil satu kamar," cerita Anjani yang Pia sangat tahu kalau ternyata Anjani masih belum bisa melupakan Marko sepenuhnya.
"Anda belum bisa melupakannya, apa Anda juga akan bahagia dengan perceraian ini?" tanya Pia, walaupun Pia tahu jawabannya. Namun tetap saja, ia ingin bertanya.
Anjani sendiri juga bertanya-tanya apakah dia akan bahagia setelah Perceraian ini. Hatinya sudah patah oleh cintannya pada suaminya yang ternyata mengkhianatinya, mentalnya pun sudah nyaris hancur karena orang-orang yang dia percaya.
"Entahlah," lirih Anjani.
Tapi mau sehancur apapun dirinya, dia tidak akan pernah membiarkan orang lain tertawa melihat penderitaannya. Meskipun harus mamakai topeng tebal untuk menutup kesedihannya, Anjani akan melakukan itu. Mungkin awalnya sulit setelah bercerai, tapi seiringnya waktu ia yakin kalau dia akan bisa melupakan cintanya pada Marko. Anjani hanya memerlukan waktu saja.
''Salah kah aku menyesal menikah dengan dia?'' Pia tertegun mendengarnya. Bos nya sedang mengutarakan perasaannya yang menjanggal, ya Anjani tengah membutuhkan teman curhat.
__ADS_1
Seketika Anjani menundukkan kepalanya, Ia sangat malu, Karena pilihannya ternyata adalah salah.
"Jangan menyesalinya, Anda mencintai nya, bahkan kalian berpacaran lama, hanya saja takdir berkata lain. Jodoh hanya membiarkan Anda dengan pak Marko bertahan selama 10 bulan. Bu ... Jangan pernah menyesali sesuatu yang sudah kita jalani, karena itu akan menambah sakit di hati. Lebih baik ... Kita menata hati dan berfikir bagaimana cara kita bangkit untuk kehidupan selanjutnya,'' papar Pia seakan sedang memberikan masukan dan nasihat pada seorang sahabat, tapi nyatanya ia sedang bersama Bos nya.
Pia tidak lagi peduli, mau dibilang sok tau, ataupun lancang karena berani menasihati orang yang telah menggaji nya. Dia hanya menempatkan dirinya sebagai teman curhat Anjani.
''Kamu benar Pia, terima kasih sudah mau mendengarkan celotehan ku,'' ucap Anjani dan Pia hanya tersenyum simpul.
Keduanya sudah bersiap-siap, Anjani yang memakai gaun, dan Pia memakai setelan formal. Anjani sudah meminta Pia memakai gaun, tapi Pia yang agak tomboi tentu menolaknya. Ia lebih memilih memakai pakaian formal ketimbang gaun yang menurutnya ribet.
''Kamu yakin pakai itu saja?'' tanya Anjani pada Pia yang sudah bersiap dan menunggu Anjani selesai dengan bersoleknya.
__ADS_1
''Iya Bu,'' jawab Pia singkat. Pia mengangkat lengannya melihat jarum jam pada arlojinya. ''Sepertinya kita harus berangkat sekarang, Bu.''
Anjani pun ikut melirik icon waktu pada ponselnya. ''Ah iya, ayo!''