
Roda mobil berhenti tepat didepan pintu besar yang menjulang tinggi keatas. Ya disanalah kediaman Anjani, rumah impian yang Anjani peroleh dari hasil kerja kerasnya. Rumah dimana ia dapatkan tanpa ada campur tangan dari Marko, mantan suaminya. Yang bahkan Marko lah yang selama ini menumpang hidup padanya, tapi dengan tega dan tanpa tahu diri ia justru mengkhianati cinta Anjani.
Tapi Anjani sudah tidak lagi memikirkan itu, yang dia mau hanya untuk melanjutkan hidupnya yang entah bagaimana kedepannya. Merana kah atau justru sebaliknya?
Diluar mobil Anjani menatap sendu rumah besarnya, rumah memadu kasih ia bersama Marko, yang pasti tidak akan terulang kembali oleh orang yang sama. Anjani menghela nafasnya sejenak yang tiba-tiba ada tangan besar mengusap lengannya, ya dia adalah Roger, pria yang mencintainya sejak lama.
''Kenapa bengong?'' tanya Roger.
''Enggak apa-apa, masuk yuk!'' ajak Anjani pada semuanya, Roger, Alex dan Pia.
Seorang pembantu rumah tangga menyambut kedatangan nyonya nya begitu hangat, mempersilahkan tamu-tamu pemilik rumah untuk duduk diruang tamu yang segera ia siapkan makanan dan minuman yang menyegarkan.
''Berikan biji selasih di minumannya ya Bi, biar segar!'' seru Anjani dan diiyakan oleh pembantu rumah tangganya.
''Lex, kalau kamu masih jet lag kamu bisa tidur dikamar tamu,'' ucap Anjani yang tidak tega melihat wajah Alex yang kian memucat.
__ADS_1
''Boleh kah, Nona?'' tanya Alex memastikan.
''Ehhm, tentu saja. Pia antar Alex ya!'' dengan rasa malas Pia pun mengiyakan-nya, lagipula yang menyuruhnya bosnya kan, dia tidak bisa menolak walaupun sangat ingin menolaknya.
''Ya sudah cepat, ayok!'' Pia beranjak dan berlalu lebih dulu meninggalkan Alex yang berusaha bangkit dari sofa dengan tubuhnya yang lemas.
''Hei botol kecap! tunggu aku, papah lah aku!!'' teriak Alex begitu berlebihan. Pia berbalik dan mendelik ia benar-benar kesal dengan tingkah kekanak-kanakan Alex. Tapi entah kenapa hatinya malah merasa gemas.
Anjani dan Roger saling menatap, dan tertawa kecil melihat kedua manusia itu. Pia yang cuek dan Alex yang konyol membuat keduanya terasa cocok dan itu disadari oleh Roger, walaupun memang Roger sendiri tidak yakin dengan Alex, sahabatnya.
''Heum. Tapi …'' Roger menjeda ucapannya.
''Tapi? tapi apa?'' timpal Anjani.
''Aku belum yakin pada Alex untuk Pia, pasalnya aku tahu bagaimana Alex, dan bagaimana Pia,'' ujar Roger yang meragukan keduanya.
__ADS_1
Anjani menghela nafasnya panjang, dia tahu bagaimana perasaan Roger, bagaimanapun sikap Roger pada adiknya, Pia. Namun, Roger adalah Kakak yang perhatian dan penyayang pada adiknya, dan sangat wajar jika Roger mengkhawatirkan adiknya, bukan?
''Sudahlah, Roger. Pia sudah besar, dan Alex bersikap seperti itu mungkin karena mengimbangi Pia. Kamu hanya perlu mendukungnya dan perhatikannya dari jauh. Kalau kamu masih belum percaya, aku siap bertanggung jawab!''
Roger menatap dalam Anjani, dia tidak mengerti kenapa Anjani bisa seyakin itu. Tapi karena ucapan wanita pujaannya itu rasa yakin dan percayanya muncul dalam sekejap.
''Baiklah, aku akan percaya pada mereka,'' ucap Roger dengan lembut dan Anjani pun merasa senang.
''Kalau begitu aku akan masak untuk kalian, pasti kalian lapar,'' ucap Anjani yang sudah beranjak dan akan berlalu ke dapur. Tapi sebelum Anjani benar-benar pergi, Roger menarik tangan Anjani hingga Anjani terjatuh di atas pahanya.
Aroma parfum Anjani membuat candu untuk Roger. Wangi persik, ya entah dari parfum atau dari sabun, tapi yang dia tahu, kalau Anjani memang wanita yang perfek.
''Jangan membiasakan diri untuk bekerja keras, ada kalanya kau hanya perlu bersantai dan menunggu pekerjamu melayani mu dengan baik, hmm?'' ucap Roger begitu lembut, hari tangannya menyelipkan rambut coklat Anjani ke belakang telinganya.
Anjani tersipu, sungguh sikap Roger sangat berbeda dengan Marko. Dan tanpa Anjani sadari, lagi-lagi ia terus membandingkan antara Roger dan Marko. Entah ia belum melupakan Marko atau memang ia sudah bisa menerima Roger disisinya menggantikan posisi Marko nantinya.
__ADS_1