
Dikamar tamu, Alex yang diantar Pia dan dibantu untuk merebahkan tubuhnya, meminta Pia memijat sebentar kepalanya yang terasa berdenyut. Awalnya Pia menolak, tapi setelah dipaksa Alex untuk menyentuh keningnya, ia baru percaya kalau Alex tidak sedang bersandiwara untuk mencuri kesempatan dalam kesempitan darinya.
''Kepala ku benar-benar sakit, Sivia …'' lirih Alex.
Pia terdiam, merasakan suhu yang tidak biasa pada kening Alex. ''Keningnya panas sekali,'' batin Pia. Dan iapun mulai memijat ringan kening Alex yang sedikit meringis karena pijatannya.
''Apa kamu selalu begini, Kak?'' tanya Pia cuek.
Alex membuka satu matanya, menatap langsung Pia yang berada disampingnya. ''Selalu begini apa maksudmu?'' tanya Alex lemas.
''Jet lag.''
Alex bergumam sejenak, tangannya meraih jemari Pia agar berhenti memijat keningnya. ''Tentu saja tidak, tapi entahlah, ini baru pertama kalinya, mungkin karena kondisi ku sedang tidak vit juga,'' jawab Alex yang masih menggenggam tangan Pia.
Pia menganggukkan kepalanya samar, dia belum menyadari kalau tangannya masih digenggam oleh Alex. Beberapa saat kemudian, Pia kembali menundukkan kepalanya ingin melihat Alex yang masih tiduran disampingnya. Tatapannya berubah teduh kala melihat Alex yang sudah tertidur dengan tangan yang menggenggam tangannya.
Pria berambut blonde itu sangat tampan dan mempesona jika tidak banyak tingkah seperti ini, pikir Pia. Tapi seperkian detik kemudian, ia mengusir pikiran itu. Dan berniat akan pergi dari sana, tapi ternyata tangannya justru digenggam erat oleh Alex.
''Isssh, bagaimana ini!'' Pia bergumam sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Alex.
Tapi Alex justru menggenggamnya dengan erat, dan Pia pun merasa tidak tega jika harus membangunkan Alex untuk melepaskannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian justru Pia ikut tertidur dengan posisi bersandar disandaran ranjang.
Sementara itu, di ruang tamu kedua orang dewasa tersebut tengah memadu kasih dengan bibir yang saling bertaut. Seakan dunia milik berdua, dan yang lainnya ngontrak! Anjani menyudahi permainan lid-dah mereka ketika ada suara mesin mobil yang berhenti didepan rumahnya.
Dengan pipi yang merona, Anjani bangkit dari atas pangkuan Roger. Merapihkan rambut dan pakaiannya yang sedikit berantakan lalu melangkah pergi meninggalkan Roger yang tengah berbunga-bunga.
Kedua kalinya Anjani tidak menolaknya, walaupun memang untuk yang pertama Anjani sedikit berada dalam pengaruh obat perangsang. Tapi Roger sudah cukup bahagia karena terlihat Anjani yang sudah mulai membuka hatinya.
''Endy?'' gumam Anjani setelah melihat pria yang turun dari mobil itu.
''Bu Anjani,'' sapa Endy dengan sedikit membungkukkan badannya dengan hormat.
Sedikit terdengar tidak nyaman mendengar pertanyaan Anjani. Namun, sebisa mungkin Endy bersikap se- profesional mungkin, walaupun tidak ada sambutan baik dari bos nya itu.
Jangankan tersenyum, mempersilahkan masuk pun tidak. Ya itu semua karena rasa gugupnya Anjani yang baru saja lepas dari kungkungan panas Roger.
''Maaf, Bu. Jika saya menganggu waktu istirahat Anda. Saya kesini hanya untuk memberikan ini pada Anda.'' Endy memberikan sebuah amplop coklat yang segera Anjani buka dan lihat isinya.
Sebuah senyuman getir tersirat diwajah cantik Anjani. Ya senyuman yang dia sendiri bingung dengan arti perasaannya saat ini. Bahagia kah, atau malah melara karena saat ini ditangannya sebuah berkas pernyataan statusnya, yang tak lain adalah Janda karena bercerai. Dan berikut beberapa berkas lainnya yang menyatakan kalau Anjani tidak lagi memiliki hubungan dengan Marko, selaku mantan suaminya.
''Dan ini juga Bu.'' Endy menyerahkan satu lagi kertas yang hanya dilipat dua.
__ADS_1
''Apa ini, Endy?'' tanya Anjani yang menerima kertas tersebut.
''Kalau isinya saya tidak tahu, Bu. Tapi itu saya terima dari pengacara Pak Marko.'' Anjani tersentak lalu segera membaca isi suratnya.
...*Anjani, wanita ku. Maafkan aku, aku benar-benar menyesal karena telah mengkhianati istri sebaik dirimu. Jujur, nafsu setan ku sangat sulit dikendalikan. Bukan, bukan karena aku tidak puas padamu, tapi memang karena aku yang bodoh karena tidak sabar menunggumu. Sekali lagi aku benar-benar minta maaf, aku sulit tidur karena terus memikirkan dosa-dosa ku padamu. Jika berkenan aku sangat ingin bertemu denganmu, aku merindukanmu, Anjani....
^^^Marko mantan suamimu*.^^^
Anjani menghela nafasnya panjang, rasanya dadanya tiba-tiba sesak. Lubuk hatinya yang terdalam sebenarnya ia juga merindukan Marko, tapi mengingat pengkhianatan yang Marko lakukan membuat kebencian itu terasa mendarah daging.
Sedangkan didalam sana, ada pria yang mencintainya dengan tulus, apa dia juga harus meragukan Roger juga? entahlah Anjani pun merasa bingung.
Anjani menyimpan kembali secarik kertas itu.
''Kalau begitu saya pamit ya, Bu. Hanya itu yang ingin saya serahkan. Permisi,'' ucap Endy yang akan berlalu.
''Terima kasih ya, Endy,'' ujar Anjani begitu lembut, ditambah dengan senyuman yang begitu manis. Siapapun yang melihat pasti akan terpanah, tidak terkecuali dengan Endy. Tapi Endy cukup tahu diri, siapa dia dan siapa Anjani.
Kalau menurut kalian, Anjani lebih cocok sama siapa? Roger kah, atau dengan Endy, atau kembali pada Marko?
tulis komentar kalian yaaa, aku tunggu😘
__ADS_1