Pengkhianatan Dalam Pernikahan

Pengkhianatan Dalam Pernikahan
Persidangan


__ADS_3

Roger yang sedikit tahu bagaimana selama ini Marko memperlakukan Anjani, tentu membuatnya emosi. Ingin sekali ia meninju wajah Marko, lalu dipendam dilumpur hidup. Tapi itu hanya angannya saja, karena yang sesungguhnya dia juga tidak berhak melakukan itu. Dia hanya bisa marah pada dirinya sendiri karena telah mengalah pada Marko dulu.


Andai saja, Roger terus memperjuangkan Anjani dan membuat Anjani jatuh cinta padanya. Tidak akan ada Anjani yang terluka.


Pertanyaan Roger tentang bekas luka cambukan itu, tidak dijawab oleh Anjani. Ia hanya mendapatkan sebuah kebisuan dari wanita dambaan hatinya itu.


Roger mendengus, ia memukul meja nakas cukup kuat, sehingga Anjani terjingkat kaget. Roger marah, tapi bukan marah pada Anjani yang tidak mau menjawabnya, ia marah para kegilaan Marko.


Anjani masih terdiam ditempatnya, Roger menoleh matanya menatap dengan tatapan yang hangat. Tangannya bergerak meraih tangan Anjani.


''Sekarang bersiaplah, hari ini jadwal persidangan mu 'kan? aku akan menemanimu,'' ucap Roger yang sudah berdiri. Anjani yang masih duduk mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan Roger dan tangannya yang saat ini digenggam.


Seperti terhipnotis, Anjani pun mengikuti apa yang diperintahkan Roger. Roger menuntunnya kekamar mandi, Roger mengantarkannya hanya sampai depan pintu kamar mandi.


Roger menggedikkan kepalanya samar seraya meminta Anjani segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terlihat kacau.


Setelah Anjani masuk kekamar kecil itu. Roger pun akan keluar dari kamar. Tapi saat keluar dan menuju ruang tengah, ia melihat adiknya yang tertidur dengan meletakkan kepalanya dipangkuan seorang pria, yang tentunya membuat Roger marah.


''Pia! bangun!! hei, kalian cepat bangun!!''


Bugh Bugh Bugh


Roger memukuli mereka berdua dengan bantal sofa, sehingga membuat kedua orang yang sedang bermimpi itu terbangun dengan gelagapan.


''Kakak, apa-apaan sih!'' protes Pia yang kesal dengan cara Roger membangunkannya.


''Kamu yang apa-apaan! Tidur di paha pria,'' Roger menyela.


Endy yang belum sepenuhnya terbangun, hanya bisa diam karena kepalanya yang terasa berdenyut karena cara bangunkan Roger yang sangat barbar.


''Kau siapa? kenapa adik ku bisa tidur di pangkuan mu?!'' tanya Roger tajam.


''Kakak, dia Endy orang kepercayaan Bu Anjani. Tadi malam kita menunggu Kakak yang ternyata sedang asik didalam bersama Bu Anjani!'' celetuk Pia yang keceplosan.


Wajah Roger memerah, tapi dengan pintarnya ia menyembunyikan rasa malunya itu.


''Sudah jam 8, apa tidak akan terlambat datang ke persidangan?'' tanya Roger sengaja mengalihkan perhatian mereka. Dan benar saja karena pertanyaannya, keduanya terbelalak dan langsung bangun dari sofa.

__ADS_1


''Astaga! saya permisi siap-siap dulu!'' Endy berlalu pergi keluar rumah.


Pia pun sama, ia segera menuju kamar mandi yang ada di dapur. Tidak, ia tidak mandi, ia hanya membersihkan mukanya saja, lalu kembali keruang tengah.


''Kakak enggak pergi bekerja?'' tanya Pia yang sedang menyiapkan berkas-berkas dan beberapa bukti yang menyita perhatian Roger.


''Apa itu?'' tanya Roger tanpa menjawab pertanyaan adiknya.


''Ini bukti kejahatan pak Marko, dan ini semua potongan rekaman cctv tadi malam. Persidangan ini akan terjadi bukan hanya kasus perceraian saja, tapi memasuki kasus kriminalitas pak Marko.'' Pia menjelaskannya sembari memasukan berkas-berkas penting itu kedalam tas.


Ya di atas meja berserakan kertas-kertas yang katanya adalah bukti untuk memperkuat Persidangan nanti. Karena memang Pia dan Endy semalaman suntuk mengerjakan semuanya hingga mereka kesiangan seperti ini.


''Baju Kakak mana?'' tanya Pia menyelidik. Roger gugup, ia mengingat bagaimana beringasnya Anjani tadi malam membuat wajahnya kembali memerah.


''Eem itu, anu! emm … kancingnya terlepas."


"Kok bisa? Bu Anjani mainnya galak ya, Kak?'' bisik Pia dan justru mendapatkan pukulan dikepalanya dari Roger.


''Issshh, aku cuma tanya!'' ketus Pia.


Pia memicing kesal. Dan tangannya mengambil sesuatu lalu dilempar ke Roger.


''Pakai itu!''


Roger menangkap paper bag yang dilemparkan Pia. Ia membukanya yang ternyata isinya adalah sebuah kemeja baru.


''Kau dapat dari mana ini?''


''Endy, dia tadi malam mengambil ini dari mobilnya. Setelah kami mengintip kalian!'' Pia melebarkan matanya dan tangannya menutup mulutnya sendiri. Lagi-lagi ia keceplosan.


''Astaga anak ini!'' Roger akan memukul Pia lagi, tapi suara Anjani membuat Roger menurunkan tangannya.


''Ada apa?'' tanyanya yang membuat Roger dan Pia menoleh.


Anjani yang berjalan dengan pakaian yang sudah rapih membuat Roger terpesona tapi tidak lama karena Pia yang mencubit pinggang Roger.


''Jaga pandangan mu, Kak. Masih istri orang tuh!'' ledek Pia dengan sangat menyebalkan.

__ADS_1


''Ibu sudah siap? kalau begitu kita langsung ke pengadilan atau bagaimana Bu?''


Anjani sejenak terdiam, ia masih merasa malu saat beradu tatap wajah dengan Roger. Dengan gugup ia pun mengangguk seraya berkata, ''Iya, kita langsung kesana. Endy dan Pengacaraku akan menyusul.''


Mata Anjani melirik kearah Roger yang tengah mengancingkan baju. Mengingat kegilaannya tadi malam, membuat Anjani sangat ingin menghilang dari muka bumi ini. Sangat memalukan!


''Kakak mau pergi kerja?'' tanya Pia lagi setelah melihat Roger yang sudah selesai merapikan pakaiannya.


''Aku ikut dengan kalian,'' Jawa Roger.


Di mobil, keheningan itu kembali. Roger yang menyetir dan disebelahnya Anjani yang duduk disana, dan Pia duduk dikursi belakang. Tapi pertanyaannya Roger yang tiba-tiba membuat keheningan itu perlahan lenyap.


''Apa kau tidak memiliki orang untuk membantu mu dirumah?'' tanya Roger.


''Ada. Kenapa?''


''Tadi malam mereka kemana?''


''Marko membuat peraturan dirumah. Kalau pekerja kebersihan ataupun para koki, dipulangkan kerumah pada malam hari. Dan akan kembali lagi pagi harinya,'' jelas Anjani.


Roger menoleh sejenak, ia melihat raut wajah penuh penekanan pada hidup Anjani. Tapi yang membuat Roger bingung, kenapa Anjani bertahan sampai sejauh ini. Kenapa dia menyetujui sampai menikah, padahal 2 tahun untuk mengenal satu sama lain sudah sangat cukup.


Tapi Roger tidak mempertanyakan itu. Karena memang sangat sensitif, dan dia tidak punya hak untuk itu.


Sesampainya di pengadilan agama. Endy dan pengacara Anjani sudah menunggu mereka.


Pria paruh baya yang memperkenalkan dirinya atas nama Sentot Wijaya sebagai pengacara Anjani melarang Roger untuk ikut masuk keruang persidangan.


''Kenapa Pak?'' tanya Anjani seperti keberatan.


''Maaf Bu Anjani. Posisi Anda yang masih menjadi istri dari tergugat, sangat sensitif terlebih lagi jika tergugat akan mempertanyakan siapa Pak Roger ini. Tapi kita juga akan membutuhkan beliau.'' Semuanya terdiam. Mereka mengerti dengan penjelasan Pengacara itu.


Persidangan pun mulai. Disisi kiri sudah ada Marko dengan pengacaranya, dan di sisi kanan ada Anjani yang juga bersama pengacaranya.


Hakim yang meminta agar kedua belah pihak agar mediasi terlebih dahulu, tapi pihak Anjani menolaknya dengan memberikan bukti-bukti yang pastinya memberatkan Marko.


Marko menolak perceraian ini. Tapi ketika hakim dan jaksa melihat bukti-bukti itu. Bukan hanya dikabulkan permohonan perceraian itu. Marko juga dituntut dengan kasus kriminal yang membuat Marko malah terjerat kasus yang cukup berat.

__ADS_1


__ADS_2