
Makan dengan tenang, 3 orang dewasa dan satu gadis yang baru beranjak dewasa itu tidak ada yang berbicara, mereka semua makan dengan hening.
Tapi tiba-tiba pria berambut blonde bersuara dengan menceletuk, "Kenapa makanan dia berbeda dengan kita?'' tanya Axel penasaran dan membuat semua menatap kearahnya lalu melirik ke makanan yang juga baru mereka sadari juga terkecuali Anjani.
Roger menoleh kearah Anjani begitu juga Pia yang menunggu jawaban Anjani. ''Oh, makanan kalian pakai bawang putih tapi makanan Roger tidak,'' jawab enteng Anjani membuat ekspresi dari ketiga manusia itu berbeda-beda.
Pia dan Axel yang memicing, namun tidak dengan Roger, ia justru tersipu karena perhatian Anjani yang entah sengaja atau tidak.
''Bu, Anda tahu dia tidak suka bawang putih?'' tanya Pia melirik kesal pada kakaknya yang mendelik tajam kearahnya.
''Jaga sopan santun mu ya, aku ini kakak mu!'' sungut Roger.
''Ck, gila hormat!'' sindir Axel yang membela Pia dan melanjutkan makannya.
''Iisssh dua orang ini, awas kalian!''
''Sudah-sudah! selesaikan makan kalian, tidak baik berdebat didepan makanan,'' sela Anjani dan merekapun menurut dan melanjutkan makannya dengan tertib dan hening.
Sampai makanan di piring masing-masing sudah tandas, merekapun pergi keruang tengah yang terdapat tipi datar yang menempel di dinding dengan estetik.
Tapi disela-sela acara nonton bersama, Pia beranjak membuat Axel dengan cepat melontarkan pertanyaan. ''Kamu mau kemana?''
''Pulang,'' jawab singkat Pia. Tubuhnya berputar kearah Anjani berada seraya berkata, ''Bu, saya mohon pamit, terima kasih sudah menampung saya istirahat sejenak dan terima kasih juga makanannya, sangat lezat,'' puji Pia pada makanan sembari berpamitan dengan sopan.
''Lho, kenapa pulang? kamu bermalam saja disini. Bi Mirna sudah menyiapkan kamar untuk kalian.'' Anjani mencegah karena memang hati juga sudah sangat larut.
''Tapi, saya tidak mau merepotkan Anda,'' ujarnya pelan.
''Tidak sama sekali, tetaplah disini, oke?''
__ADS_1
''Benar apa yang dikatakan bos mu, lagipula ini sudah malam,'' timpal Axel. Dan Roger? ia bahkan hanya asik memakan cemilan sembari menyimak pembicaraan mereka.
Ya memang begitu interaksi Pia dan Roger. Walaupun memang mereka adalah saudara kandung, tapi mereka saling bersikap cuek tetapi didalam lubuk masing-masing, mereka saling mempedulikan dan saling mengkhawatirkan satu sama lain.
''Baik Bu … sekali lagi terima kasih sudah mau direpotkan.'' Anjani tersenyum lalu menganggukkan kepalanya dan kembali duduk disamping Anjani.
''Oh ya Pia, bisa tidak kalau tidak sedang di kantor panggil aku jangan sebutan Ibu, misalnya kakak?'' Pia, Axel dan Roger menoleh kearah Anjani. Mendengar permintaan Anjani membuat semua orang kagum, ya Anjani memang rendah hati.
''Apa tidak apa-apa, Bu?''
''Iya, kalau di kantor boleh lah kamu panggil itu, oke tidak?''
''Baik, k-kak.'' Pia berkata dengan ragu, tapi ia mencoba agar terbiasa.
Drama yang sedang di tonton akan segera berakhir, tapi Pia sudah memohon pamit untuk tidur lebih dulu, karena memang tidurnya tadi tidak nyaman dan terganggu. ''Semuanya aku mohon pamit ya untuk tidur duluan.''
''Oh iya silahkan, tidak perlu sungkan anggap saja rumah sendiri. Bii …'' Anjani memanggil pembantunya dan tidak lama wanita bernama Mirna pun datang.
''Baik, Bu. Mari non!''
Pia pun berlalu pergi dengan diantar Mirna. Namun, mata Axel tidak sama sekali berpaling dari punggung Pia yang menjauh, sebenarnya ia sangat ingin mengantar Pia, tapi merasa tidak enak karena disana bukanlah rumahnya.
Tidak berselang lama drama pun selesai, Anjani yang sejak tadi terus menguap akhirnya tidak lagi bisa menahan kantuknya, dan berpamitan untuk tidur.
''Haaahhh … selesai juga. Drama apa lagi yang bagus?'' seru Axel.
''Kalian lanjutkan saja nontonnya, aku pamit ya, sudah tidak bisa lagi nahan kantuk,'' ucap Anjani sembari beranjak.
''Biar ku antar,'' ucap Roger dan Anjani mengangguk.
__ADS_1
Anjani dan Roger hanya berjalan bersebelahan, tidak ada yang memulai pembicaraan. Roger terus memandangi Anjani yang sebenarnya ia tahu kalau mata Roger terus menatapnya.
Tapi, entah kenapa surat yang Marko kirim melalui Endy terus saja terbayang di benaknya. Rasanya ia sangat ingin berbagi cerita dengan Roger tapi ia ragu. Dan pada akhirnya ia memutuskan untuk tetap diam.
''Ini kamar mu?'' pertanyaan Roger membuat Anjani terkejut karena memang ia sendiri tidak menyadari kalau sudah berada didepan pintu kamarnya.
''Hmmm, sebenarnya sebelumnya kamar disana, tapi aku memutuskan untuk pindah kamar.'' Tunjuk Anjani pada sebuah pintu yang besar. Pintu kamar yang besar berbeda dari yang lainnya seolah memberitahu pada semua orang kalau kamar itu memang kamar utama miliknya dan Marko. Tapi Anjani memilih untuk pindah kamar karena satu hal, yaitu tidak ingin lagi mengingat momen manisnya dengan Marko yang akan membuat hari-harinya terus mengingat sakit hatinya itu.
''Hmm, masuklah. Selamat malam!'' Roger menggedikkan kepalanya dan mengusap kepala Anjani dengan sangat lembut.
''Selamat malam, aku tidur duluan. Dan kalian jangan tidur terlalu larut,'' ucap Anjani dan Roger hanya memberikan anggukan.
Setelah pintu tertutup, Roger menghela nafasnya panjang, ia tahu kalau ada sesuatu yang membuat Anjani terus melamun, tapi dia juga tidak bisa memaksa Anjani untuk mengatakan apapun itu padanya.
Roger kembali ke ruang tengah, dan belum juga sampai, Axel melambai kearahnya. ''Cepat kemarilah!'' panggil Axel sedikit berbisik.
Roger mengernyit, ''Ada apa?''
Alex melihat ke sekeliling memastikan kalau tidak ada orang lagi disana kecuali mereka berdua, ''Semua orang sudah tertidur 'kan?''
''Entahlah, kenapa memangnya?''
''Tidak ada lagi drama yang seru, bagaimana kalau kita menonton ini?'' Axel menyeringai menunjukkan sebuah kaset yang dimana disana terpampang jelas gambar panas. Ya kaset itu adalah kaset yang akan memutar film biru.
Mata Roger terbelalak, ''Kau dapat dari mana itu?!'' panik Roger.
''Ini punya ku, aku juga belum menontonnya. Ini ku dapatkan dari teman ku di Maroko, bagaimana?''
''Jangan gila kau, Xel!''
__ADS_1
''Sudahlah sobat, kau juga butuh buat referensi 'kan. Tidak lama lagi kau pasti membutuhkannya,'' ucap Axel dengan diselingi tawa kecilnya.