
Diluar kamar, Axel justru tertawa kecil mengingat wajah Roger yang terlihat sangat garang itu. Ia memasang kembali kancing kemejanya seraya berpesan pada kedua pria yang ditugaskan tadi menjaga pintu. Yang mana saat ini terlihat banyak luka di wajah mereka. ''Pastikan jangan dibuka sebelum fajar!''
''Baik Tuan!'' seru keduanya.
''Sekarang waktunya membebaskan rubah kecil itu!'' gumam Axel yang berjalan menuju lift.
Sudah hampir fajar. Dua penjaga yang semalaman berjaga akhirnya memutar kuncinya lalu pergi dari sana. Sedangkan didalam kamar tersebut, keduanya masih saling mendekap dibawah selimut yang sama.
Lelapnya mereka menandakan bahwa semalam habis bertarung panas diatas ranjang.
tuk tuk tuk ... paruh burung terus mengetuk jendela kamar, yang membuat penghuni ranjang raksasa itu terganggu, Anjani mengerjapkan matanya beberapa kali karena mendengar suara bising itu. Tangannya menekan kepalanya yang masih sedikit terasa nyeri, saat ia akan bangun, ia merasa ada sesuatu yang menahan perutnya. Dengan perlahan ia mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang menindih perut rampingnya.
Tangan besar berurat dan kekar. Anjani terkesip, ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi tadi malam, dan ingatannya pun bergulir disaat ia memohon pada Roger. ''Roger?'' gumam Anjani yang segera menoleh kesamping kirinya karena ingin melihat benar atau tidak, tadi malam ia bersama Roger.
''Astaga …'' lirih Anjani menutup mulutnya sendiri. Sungguh wajahnya sudah seperti kepiting rebus, merah padam, karena malu kala mengingat tingkah bodohnya tadi malam.
''Lagi?'' ucapnya lagi dengan penyesalan, ini kedua kalinya memang ia berada diatas ranjang bersama Roger, tapi kali ini mereka benar-benar melakukannya, dia ingat betul akan hal itu.
Anjani tidak menyalahkan Roger, karena dia tahu kalau dialah yang memaksa biarpun Roger terus mencoba menyadarkannya.
Matanya mencoba menatap Roger lagi yang masih terlelap. Satu hal yang baru ia sadari, kalau Roger sangatlah tampan, bahkan ketampanannya melebihi Marko, mantan suaminya. Walaupun memang permainan Roger malam tadi tidak sepanas Marko, tapi itu sangat dimaklumkan karena Roger bukanlah pria yang berpengalaman dan ini kali pertama untuknya.
__ADS_1
''Sudah! jangan terus menatap ku,'' suara Roger yang serak membuat Anjani tersadar dari lamunannya.
Anjani tidak membalas ucapan Roger, ia bahkan mematung tidak berani bergerak. Perlahan pemilik bulu mata lentik itu membuka matanya, tatapan sayu dan bibirnya yang tersenyum tipis membuat jantung Anjani berdetak lebih cepat dari biasanya.
Entah dari mana dia selama ini. Kenapa baru menyadari kalau Roger setampan ini. Tidak dipungkiri Anjani memang terus menutup mata dengan pesona pria lain selain Marko, pria yang dulu ia sangat cintai.
''Maafkan aku,'' ucapan Roger mampu membuat Anjani kembali menatap kearahnya lalu menggelengkan kepalanya samar.
''Sungguh aku benar-benar minta maaf. Aku tahu kamu marah—''
''Ssstt! tidak Roger, ini bukan salah mu!'' Anjani memotong ucapan Roger dengan meletakkan telunjuknya didepan bibir Roger agar pria itu berhenti bicara.
Karena semakin Roger bicara, semakin pula jantungnya tidak karuan berdebar. Terlebih lagi saat ini Roger kembali tersenyum padanya. Ah! sungguh Anjani sangat ingin melompat dari sana. Hatinya seperti ada ribuan kupu-kupu. Pesona Roger dipagi hari, benar-benar membuat mabuk kepayang.
Dan benar saja, Roger kembali berbalik, ia tersenyum gemas saat melihat Anjani yang sudah tenggelam dibawah selimut.
Setelah mendengar suara pintu tertutup, Anjani baru membuka selimutnya. Helaan nafas panjang Anjani lakukan, ia meraba dadanya yang masih terasa ramai itu. Tapi ia baru menyadari satu hal, ya dia memakai pakaian Roger, kemeja besar Roger melekat seksih ditubuhnya. Entah kapan dan bagaimana ia bisa memakai itu, tapi intinya dia sangat malu.
''Anjani kau bodoh sekali … bagaimana aku menunjukan wajahku didepan Roger,'' sesalnya.
Beberapa saat kemudian, Roger keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe. Matanya melirik kearah ranjang dimana Anjani masih menutup seluruh tubuhnya dibawah selimut. Roger tersenyum jahil dan …
__ADS_1
Srrretttt
Roger menarik selimut itu yang membuat Anjani terjingkat kaget dengan tingkah Roger.
''Roger!''
Hahahahha! ''Kamu kenapa? apa kamu marah sama aku?''
''Bukan!''
''Lalu?''
''Aku malu!''
Jawaban Anjani membuat Roger tertawa terbahak-bahak. ''Malu kok ngaku,'' goda Roger.
''Eh?'' Roger tertegun, jakunnya bergerak naik turun ketika melihat Anjani yang duduk dan memakai kemeja miliknya yang terlihat kedodoran ditubuh mungil Anjani.
''Ekhemm!'' Roger pun berdehem, ia merasa tenggorokannya serat.
Ketika pintu terdengar, Roger menoleh kearah pintu dan Anjani, lalu ia mengambil selimut yang terjatuh dilantai karenanya dan memasangkannya pada tubuh Anjani. Setelah itu barulah ia menuju pintu untuk membukakannya.
__ADS_1
Sungguh, sikap kecil Roger membuat Anjani tersipu.