
''Tapi dia juga berselingkuh!'' pekik Marko tidak terima ketika hakim mengetuk palunya.
Semua orang menatap pada Anjani. Dan yang ditatap semua orang pun hanya diam. Karena pengacaranya yang melakukan tugasnya untuk hal itu.
Tuduhan Marko tidak beralasan juga tidak memiliki bukti. Justru pengacara Anjani kembali mengeluarkan bukti ketika Marko berbuat kasar dan mencekoki Anjani dengan sebotol minuman.
Marko tidak percaya karena memang selama ini dia tidak mengetahui kalau setiap sudut rumah memiliki kamera pengawas. Yang dia tahu kalau kamera pengawas hanya ada ditempat tertentu saja.
Lalu pria itu siapa? pertanyaan itu muncul dari beberapa mulut orang.
''Itu saya!'' Roger masuk keruang persidangan. Matanya seakan berperang dengan mata tajam Marko.
''Selamat pagi yang mulia, saya Roger Andrian. Teman mereka sewaktu kuliah dulu, dan sekarang sudah menjalin hubungan bisnis dengan Pak Marko dan Anjani. Saya saksi dari apa yang terdakwa ini lakukan.'' Roger pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan cerita Roger dengan rekaman cctv itu sangat sinkron, tidak dilebihkan ataupun dikurangkan. Semua pas pada porsinya.
__ADS_1
Dan keputusan pengadilan pun sudah mutlak, tidak ada lagi mediasi ataupun persidangan kedua. Ketukan palu pun bergaung, dengan keputusan bahwa Marko dan Anjani resmi bercerai dan Marko yang di jatuhkan hukuman penjara dengan pasal 284 ayat (1) KUHP dengan ancaman pidana selama 9 bulan karena kasus perselingkuhan, dan kekerasan dalam rumah tangga dengan pasal 44 UU No. 23 Tahun 2004 tentang PKDRT memuat aturan terkait hukuman atau sanksi bagi pelaku tindak pidana KDRT dengan perbuatan kekerasan secara fisik. Juga diancam hukuman penjara 15 tahun karena telah melakukan percobaan pembunuhan pada penjaga rumah Anjani yang saat ini kritis di rumah sakit.
Anjani merasa lega, ia bisa menghela nafasnya dengan baik saat ini. Pia, Endy juga Roger pun merasa begitu.
Maka disinilah mereka berada. Di sebuah rumah makan. Setelah melakukan persidangan yang cukup menguras energi mereka memutuskan untuk makan siang bersama.
''Aku sangat berterima kasih pada kalian, karena bantuan kalian, Marko sudah mendapatkan hukuman yang setimpal,'' ucap Anjani dengan terharu.
Roger yang sejak tadi diam saja akhirnya bersuara, ''Lalu kemana wanita itu?'' tanya Roger.
''Suci? entahlah. Yang pasti aku juga tidak bisa menyalakan dia, karena bagaimanapun Marko juga sangat bersalah.'' jawab Anjani.
''Tapi Bu, mestinya Suci juga dapat saksi, kan?'' sambar Pia.
__ADS_1
Anjani menggelengkan kepalanya. Perselingkuhan memang salah, dan kita juga tidak boleh menghakimi satu pihak saja. Seperti kebanyakan orang yang hanya meng'cap selingkuhan dari suami adalah pelakor, tanpa mau tau kalau pihak yang paling bersalah adalah si pria, suaminya sendiri.
Pesanan pun datang dan mereka makan dengan hening. Roger melirik Anjani diam-diam, dia benar-benar kagum dengan sifat perempuan itu. Tegas dan mandiri.
Selama dipersidangan tadi. Roger terus memandangi Anjani. Memang Anjani terlihat sangat tenang tapi tidak dapat di pungkiri kalau Anjani juga menyembunyikan rasa sakit di hatinya saat ketukan palu berbunyi keras yang memutuskan perceraian mereka.
Roger sangat tahu, bagaimanapun Marko telah membuat kesalahan dan membuat sakit hatinya. Di lubuk terdalam Anjani, dia masih mencintai Marko karena terlihat jelas dari sorot matanya yang sedih.
Setelah selesai makan, Anjani dan Pia juga akan terbang ke Meksiko. Di bagasi sudah ada barang-barang keperluan Anjani dan Pia disana. Endy dan Roger ikut mengantarkan mereka sampai bandara.
''Hati-hati kalian disana. Jaga diri baik-baik. Kalau adik saya nakal langsung tendang saja dari atas pesawat!'' ucap Roger pada Anjani. Dan semua tertawa kecuali Pia yang mencebikkan bibirnya kesal.
Ya bagaimanapun Pia adik perempuan satu-satunya. Walaupun mereka kerap bertengkar, tapi Roger tetap mengkhawatirkan keadaan adik kecilnya itu.
__ADS_1