
Roger menghampiri Pia dengan tergesa-gesa, karena Pia yang memanggilnya dengan tidak sabarnya.
''Ada apa?!'' tanyanya panik.
''Kakak kedalam cepat! aku enggak tau apa yang terjadi pada ibu Anjani,'' kata Pia yang kebingungan.
Roger yang penasaran akhirnya buru-buru masuk kerumah Anjani, lalu pergi kekamar yang ada Anjani disana. Tapi begitu mereka masuk kamar, Roger tersentak dan memundurkan langkahnya lagi.
''Masuk, Kak!''
''Enggak! itu apa yang terjadi pada Anjani?!'' Roger pun panik. Pia yang penasaran mengintip kedalam, dan benar! pantas saja wajah Kakak nya memerah.
Ternyata Anjani sudah membuka bajunya dan hanya menyisakan pakaian dalamnya saja.
''Lho! tadi dia hanya menjerit-jerit kepanasan, Kak!''
Adik dan kakak itu kebingungan dengan sikap Anjani. Roger yang gugup tidak berani masuk kamar, dan meminta Pia untuk mengurusnya. Pia menyetel pendingin ruangan dengan suhu yang paling rendah. Tapi anehnya Anjani tetap merasa kepanasan.
''Kak bagaimana?! aku bingung.''
Sedang Pia dan Roger sedang berbincang di luar kamar. Tiba-tiba Anjani keluar menghampiri mereka dengan wajah yang memerah, dan berkeringat. Mata Roger terbelalak, tapi Pia justru mentertawakan reaksi Roger.
''Tolong, tolong aku. Aku kepanasan … ada sesuatu yang tidak nyaman. Pia, Roger … tolong …'' Nafas Anjani tersengal-sengal, dan tiba-tiba terjatuh tidak sadarkan diri.
Roger bukannya munafik, hanya saja ia ingin menjaga pandangannya pada wanita yang sudah bersuami itu. Walaupun memang wanita di depannya ini adalah orang yang masih menetap di posisi istimewa di hatinya.
Dengan menghela nafasnya Roger pun meyakinkan dirinya untuk bisa mengontrol diri untuk berhadapan dengan Anjani yang keadaannya tidak berbusana itu.
Roger mengangkat tubuh Anjani dengan sekali sentakan, matanya melirik sebentar ke wajah Anjani yang berkeringat. Sungguh, sangat sulit menahan hawa nafsu setan, tapi dia harus bisa. Roger meletakkan tubuh Anjani ke atas tempat tidur kamar tamu itu, dengan dibantu oleh Pia.
__ADS_1
Suara ketukan pintu membuat Pia dan Roger saling menatap. Baru saja Roger akan beranjak tapi Anjani menahannya dengan melingkarkan tangannya dileher Roger.
''Biar aku saja yang buka,'' ucap Pia.
Ketika Pia berlalu pergi, Roger berusaha melepaskan tangan Anjani tapi tangannya semakin kencang menahan leher Roger.
''Anjani kau kenapa?''
''Roger bantu aku …'' rengek Anjani.
Posisi mereka yang cukup dekat membuat Roger dapat mencium aroma yang keluar dari mulut Anjani. Aroma alkohol yang begitu kuat menyeruak masuk ke indra penciuman Roger, yang dapat dipastikan kalau Anjani habis menenggak alkohol.
''Kau habis minum? sejak kapan kau suka minum?'' tanya Roger dengan kesal, tapi sepersekian detik kemudian ia sadar kalau dia tidak berhak marah pada Anjani.
''Maaf,'' lanjutnya.
''Marko mencekoki minuman padaku, dan dia juga mencampuri perangsang didalamnya,'' ucap Anjani dengan nada yang menyeret.
Mata Roger menatap dalam manik Anjani, dia benar-benar merasa kasihan dengan wanita dambaan hatinya itu yang merengek seperti itu. Tapi dia tidak bisa memanfaatkan kondisi seperti ini.
Dengan lembut Roger melepaskan kedua tangan Anjani dari lehernya dan berhasil, tangan Anjani pun terlepas.
''Sebentar ya,'' ucap Roger dengan sangat lembut dan Anjani hanya menganggukkan kepalanya.
Roger mencari sesuatu dan mengambil baju Anjani yang tercecer dilantai. Dengan sangat telaten, Roger memakaikan baju di tubuh Anjani.
Anjani terus merengek kepanasan, tapi Roger terus meyakinkan dirinya.
''Pakai dulu, aku akan cari cara.''
__ADS_1
Setelah selesai memakaikan pakaian pada Anjani, Roger berniat pergi tapi tangan Anjani lagi-lagi menahan pergelangan tangannya.
''Jangan pergi, Roger. Aku mohon, hiks hiks.''
Pertahanan Roger benar-benar di uji. Sisi lain ia memikirkan kewarasannya, tapi disisi lain dia juga tidak tega melihat Anjani yang menangis didepannya.
Tanpa sadar, Roger memeluk Anjani dengan sangat hangat, berharap kalau pelukannya itu mampu membuat efek perangsang pada Anjani berkurang. Tapi siapa sangka, ternyata dosis yang diberikan Marko sangatlah tinggi, sehingga Anjani meminta lebih dari sekedar pelukan Roger.
Deru nafas Anjani yang menerpa ceruk leher Roger, membuat pria 29 tahun itu memejamkan matanya tapi masih berusaha sadar.
''Anjani, jangan seperti ini,'' ucap Roger dengan susah payah. Tapi Anjani tidak mempedulikan itu.
Anjani menjauhkan wajahnya dari leher Roger lalu menatap Roger yang juga menatapnya balik. Sungguh Roger terhanyut dalam tatapan maut Anjanim
Dan entah sejak kapan, bibir mereka sudah saling mel-***** satu sama lain.
Dan diluar sana, Pia yang sedang bicara dengan Endy karena memang Pia lah yang menghubungi Endy setelah Roger menghubungi tadi, memintanya untuk datang ke kediaman Anjani.
''Saya sudah mengurus semuanya. Penjaga itu juga sudah sadar dirumah sakit, dan sedang di interogasi oleh pihak kepolisian,'' ucap Endy.
''Polisi? kamu melaporkannya?''
''He' um. Ini kasus kriminal. Bu Anjani sudah berbaik hati tidak membawa kasus penggelapan uang itu, tapi pak Marko justru berbuat seperti ini. Ini sudah masuk ke kasus serius,'' jelas Endy. Pia menganggukkan kepalanya.
''Lalu dimana bu Anjani?''
''Dikamar. Tapi ada yang aneh. Beliau sejak tadi mengatakan panas. Dan aku cium ada aroma alkohol dari mulut bu Anjani.'' Endy terdiam, dan mengingat sesuatu.
Endy pergi ke ruang sebelah dapur. Yang ternyata disanalah ruangan monitor, dimana disanalah tempat rekaman cctv tersimpan.
__ADS_1
Endy memeriksa rekaman CCTV yang terjadi beberapa jam lalu. Dan ternyata terekam jelas kalau Marko mencekoki minuman yang sudah dicampuri obat perangsang itu, karena terdengar Marko sendiri yang mengatakannya.
''Jadi?'' Endy dan Pia saling menatap dan memikirkan hal yang sama.