
Kamar hotel itu terasa sunyi dan hampa. Anjani yang duduk didepan jendela, dan Roger yang yang duduk disofa.
Entah apa yang sedang dipikirkan Anjani, tapi Roger justru menebak kalau Anjani tengah marah kepadanya karena ucapannya.
Berulang kali Roger menghela nafasnya. Berada di satu ruangan yang sama, tapi tidak ada sama sekali obrolan yang terjalin, bukankah menyiksa perasaan?
Ah Roger tidak tahan! Ia mengambil sesuatu dari meja nakas yang ternyata sebuah bungkus rokok. Roger sudah akan memantikkan api ke ujung rokoknya, tapi suara Anjani menghentikan niatnya.
''Aku tidak suka bau rokok, tapi jika kamu sangat ingin, kamu bisa keluar dari sini.'' Roger pun menyimpan rokok itu lagi. Kaki panjangnya melangkah lebar kearah Anjani.
''Kamu marah, Jani?''
''Tidak.''
''Lalu kenapa mendiamkan aku?''
''Roger, apa aku terlihat sangat murahan?''
Roger tersentak, kenapa perkataan Anjani membuat hatinya mencelos.
''Apa maksudmu?''
''Apa tadi malam aku terlihat sangat murahan?'' Anjani kembali melontarkan pertanyaannya.
''Ck. Jani, kumohon berhenti bertanya seperti itu. Ini semua aku yang salah karena tidak bisa menahannya.''
''Cih, jangan mencoba menghibur ku, Tuan Roger.'' Kini mereka saling menatap. Anjani bangkit dan menyamakan posisinya di depan Roger, walaupun memang tinggi badan mereka jauh berbeda.
__ADS_1
''Perceraian ku dengar Marko belum genap 1 bulan, tapi aku sudah tidur dengan pria lain, bukankah aku dan Marko tidak ada bedanya?''
Astaga, Roger sangat ingin berteriak ditelinga wanita cantik ini. Lalu mengatakan kalau dia dan Marko jelas berbeda! Marko yang memang berselingkuh atau lebih halusnya mengkhianatinya, dan dia? dia hanya menjadi korban. Bukankah itu sudah sangat jelas.
Tangan Roger bergerak membelai pipi Anjani, sehingga membuat wanita itu memejamkan matanya karena merasakan kenyamanan yang berbeda.
Anjani merasa sangat bersalah, karenanya keperjakaan Roger hilang, tapi tidak dapat dipungkiri biarpun Roger bermain dengan amatir, tapi entah kenapa permainan Roger membuat ia merasakan kenikmatan yang tiada tara, ini kali pertamanya bisa sampai *******, dan berkedut. Perlu digaris bawahi, tidak semua wanita bisa merasakan itu.
''Jani ….''
''Tidak perlu ku jelaskan lagi, mestinya kamu mengerti. Perasaan ku tidak pernah berubah untuk mu. Dan untuk tadi malam, itu bukan kesalahan mu, hmm?''
Suara dan rupa Roger seakan menghipnotis Anjani, yang secara spontan menganggukkan kepalanya patuh. Astaga! melihat raut wajah Anjani yang seperti itu membuat Roger sangat ingin mengulangi momen malam tadi.
Selagi kedua pasangan itu sedang berdekatan layaknya sepasang kekasih, pintu pun tiba-tiba terbuka tanpa diketuknya terlebih dahulu.
Roger menoleh begitu juga Anjani. Dan ternyata disana sudah ada Pia yang berkacak pinggang.
''Kakak!''
Anjani tersentak ia kembali menoleh dan menatap wajah Roger yang masih menatap sinis Pia, adiknya sendiri.
Pia berjalan dengan menyentakkan kakinya, dan tanpa diduga Pia justru menarik tangan Anjani dan menempatkannya di belakang tubuhnya yang memang sedikit lebih tinggi dari Anjani.
Roger kebingungan karena tingkah adik perempuannya itu. ''Ada apa dengan kamu, Savia?!''
''Kakak yang ada apa? kenapa bisa tiba-tiba ada disini?'' tanya balik Pia dengan kesal.
__ADS_1
''Aku diundang. Tapi kau dari mana saja!?'' Dan kini kakak beradik itu sedang saling menatap tajam tanpa bersuara.
Bagaimana Pia bisa keluar dari toilet? Ya malam tadi, Pia yang sudah kelelahan akhirnya ketiduran dibelakang pintu, dan tak berselang lama seorang pria membukakan pintu toilet lalu membawa Pia kekamar hotel yang bertepatan disamping kamar Anjani dan Roger.
Pria itu tak lain adalah Axel. Axel menghela nafasnya panjang setelah menggendong gadis 21 tahun itu lalu meletakkannya diatas ranjang kamar hotel tersebut.
''Kau ini makan apa? tubuh mu kurus tapi berat sekali,'' keluh Axel.
''Haaah … tangan ku rasanya kebas.'' Axel membanting tubuhnya disamping Pia, dan kepalanya menoleh menatap Pia yang tertidur lelap disana.
''Kau tau Pia, hanya demi kakak mu, aku rela berperan seperti seorang bajingan. Dia selalu mengeluhkan kisah percintaannya yang tidak pernah terbalas oleh wanita yang sama sejak masa kuliah dulu. Dan ini cara ku membantunya dengan menjebak wanita itu lalu memanggilnya atas nama wanita itu. Siapa sangka ternyata cinta kakakmu pada Anjani begitu besar, sampai rela terbang dengan jet pribadi milik ayah kalian.'' Axel terus berceloteh seolah sedang bicara dengan Pia yang terbangun, tapi kenyataannya Pia malah tertidur semakin pulas.
Axel memang sahabat karib Roger. Roger selalu mengeluhkan kisah percintaannya pada Axel yang tidak pernah terbalaskan terlebih lagi dia baru bertemu lagi dengan Anjani tapi nyatanya setatus Anjani bukan kali seorang gadis melainkan istri orang. Yang kemudian ia mengetahui kalau Anjani akan menjadi janda, Roger selalu bicara untuk sekedar menenangkan hatinya pada Axel.
Setelah merebahkan tubuhnya sebentar, Axel pun beranjak dan berniat pergi, tapi sebelum pergi ia menuliskan sesuatu untuk Pia dan ditempelkan dilengannya.
'Kalau kau bangun nanti segera kekamar sebelah, Kakak mu sedang berusaha menyakiti Anjani'
Ya sebab itulah, Pia segera menarik tangan Anjani dan menjauhkannya dari Roger, kakaknya.
Sementara, didepan kamar, Axel tengah tertawa terbahak-bahak karena Pia yang termakan dengan pesannya.
Happy Reading...
**Jangan lupa mampir ke novel baru ku yaaak!
...PENJARA BOS GILA**...
__ADS_1