
Anjani akan masuk kedalam rumah setelah memastikan Endy benar-benar pergi dengan mobilnya. Tapi baru saja ia akan melangkah Roger sudah berada diambang pintu. Pria tampan dan berwibawa itu tengah tersenyum begitu teduh padanya, senyuman yang begitu tulus untuknya, lantas kenapa ia masih saja merindukan si bajingan Marko? entahlah hatinya masih sangatlah labil walaupun usianya memang sudah dewasa. Tapi Anjani tidak bisa disalahkan karena memang Marko adalah cinta pertamanya yang juga meninggalkan luka menganga yang sangat menyakitkan untuknya. Tentu saja sangat sulit untuk dirinya melupakan Marko.
''Siapa yang datang?'' tanya Roger penasaran, karena ia hanya dapat melihat buntut mobil yang menghilang dibalik gerbang saja.
''Endy,'' jawab Anjani singkat.
Mata Roger melihat sebuah berkas dan satu lembar kertas yang ada ditangan Anjani. Ingin rasanya ia bertanya, tapi dia juga belum punya hak apapun untuk mengetahui semua urusan Anjani.
Anjani melangkah melewati tubuh Roger, dan Roger merasa ada yang aneh pada Anjani, tapi apa? entahlah Roger pun tidak mengerti.
Roger membuntut dari belakang, dan saat diruang tengah, Anjani berbalik seraya berkata, ''Aku siapkan makan kalian dulu ya, nanti aku panggil setelah selesai.'' Dan Anjani pun berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban Roger.
Roger memperhatikan punggung Anjani yang menjauh, ia juga melihat pergerakan punggung Anjani yang seperti sedang menghela nafasnya begitu berat. ''Masalah apa lagi yang Anjani hadapi? apakah sangat berat sehingga helaan nafasnya pun terlihat sulit,'' gumam Roger yang mengkhawatirkan keadaan Anjani.
''Anjani sampai kapanpun aku akan tetap berada disisi mu, walaupun nantinya kamu tidak juga menerima keberadaan ku,'' lanjutnya.
__ADS_1
Sementara dibalik pilar, Anjani tidak langsung ke dapur. Dia terdiam mematung disana, ia sangat merasa bersalah pada Roger karena ia seperti mempermainkan perasaan pria sebaik Roger. Dia juga tidak tahu apa nantinya ia bisa menerima pria baik itu atau tidak.
''Bu, makanan sudah siap,'' ucap seorang pembantu rumah tangga yang membuat Anjani terjingkat.
''Astaga, Bi. Mengejutkan saja.''
''Maaf, Bu …'' sesal pembantu tersebut.
Anjani pun berlalu sembari menepuk pundak pembantunya, ia berjalan menuju meja makan bertujuan memeriksa apa semua sudah siap seperti apa yang di katakan pekerjanya itu.
''Iya Bu?'' sahut Mirna, pembantu tersebut. Yang sedikit berlari menghampirinya Nyonya-nya.
''Roger tidak suka bawang putih, bisa tolong buatkan makanan yang tanpa ada bawang putihnya?''
''Bisa, Bu. Saya buatkan sekarang!'' Mirna pun berlalu pergi ingin segera membuatkan apa yang diperintahkan majikannya itu. Walaupun dia sendiri tidak tahu siapa 'Roger' yang di maksud Anjani.
__ADS_1
Tapi Mirna merasa, ia hanyalah pembantu yang tidak berhak mengetahui urusan majikannya.
Anjani termenung, dan tanpa ia sadari lagi, ia bahkan sudah mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai oleh Roger. Apa dia akan terus menghindar dari perasaan aneh itu? Anjani menghembuskan nafasnya ke udara lalu melangkah pergi dari ruang makan.
Pemilik manik mata coklat itu menatap Roger yang sedang sibuk dengan ponselnya di sofa sana. Entah kenapa dadanya terus berdebar saat berada didekat Roger, berbeda pada waktu dulu yang dia ingat betul, saat masih kuliah. Pada waktu itu dia dan Marko sudah menjalani hubungan dan tiba-tiba Roger menyatakan perasaannya, dan dengan lantang ia menolak Roger dengan alasan sudah mencintai Marko yang juga mencintainya dan tidak bisa membagi cinta pada orang ketiga.
Maka Roger pun mengalah, walaupun memang mereka kerap menjadi satu tim pada saat kuliah dulu, tapi Anjani tidak sedikitpun merasakan perasaan apapun pada Roger. Namun, berbeda untuk sekarang.
Anjani harus menekan dadanya untuk tidak terlalu kentara kalau dia berdebar untuk Roger. Dan tanpa disengaja Roger menoleh kearahnya lalu memberikan senyuman khas Roger yang kerap membuat dia berdebar.
''Ada apa? kenapa hanya berdiri disana?'' tanya Roger dari sofa sana membuat Anjani yang tengah melamun terkesip lalu memberikan gelengan kepala seraya menjawab, ''Tidak ada, makanan akan segera siap aku panggil Alex dan Pia dulu.''
Roger mengangguk dan Anjani pun berlalu pergi, mata Roger tetap memandang punggung Anjani yang menjauh, rasanya ia sudah tidak sabar menunggu masa Iddah Anjani usai.
Namun, dia juga harus sedikit bersabar lagi, karena dia juga tidak ingin karena sikap terburu-burunya membuat Anjani tidak nyaman dengannya.
__ADS_1
''Aku tidak akan mengalah lagi, cukup 4 tahun aku mengalah pada Marko. Tidak untuk sekarang, bertaruh nyawa pun aku siap!'' gumam Roger yang bertekad untuk tetap maju dan bertarung pada siapapun yang akan mengambil Anjani darinya, lagi.