
Matahari sudah muncul menyinari bumi. Dan Anjani sudah rapih dengan pakaiannya, begitu juga Pia dan Roger. Dan Axel, ia bahkan masih setia di sofa ruang tengah dengan mimpi indahnya.
''Aku ada meeting siang ini, aku pamit yak!'' pamit Roger dan Anjani serta Pia memberikan anggukkan kepalanya.
Begitu Roger pergi, Anjani ikut beranjak dan diikuti oleh Pia yang juga bersiap-siap. ''Mau berangkat sekarang, Bu?''
''Piaa β¦.''
''Emm, maksud ku, Kakak.'' Pia membetulkan panggilannya pada Anjani.
''Kamu tetap disini saja, aku ada urusan sebentar. Lagipula Alex masih tidur, kasian kalau dia cari kita,'' ucap Anjani dan Pia menoleh kearah Alex yang masih tidur di sana.
''Tapi, Kak β''
''Sudah, kamu disini saja. Aku pamit dulu, jangan sungkan, anggap rumah sendiri.'' Anjani berlalu pergi meninggalkan Pia yang menatap di sana bersama Alex yang bahkan masih terhanyut dalam mimpi indahnya.
Dengan rasa gelisah, Anjani mengendarai mobilnya yang mengarah ke pusat perkotaan, entah akan ke mana dia saat ini, tapi yang jelas jalan itu bukanlah jalan menuju kantornya, lalu akan pergi kemana dia?
Roda mobil keluaran Jerman itu berhenti di sebuah pelataran sebuah kantor polisi. Apa Anjani akan mengunjungi Marko? ya, benar! Entahlah kenapa Anjani merasa harus menyelesaikan urusannya dengan Marko sekarang juga.
Kedatangan Anjani di sambut baik oleh pihak kepolisian yang memang beberapa orang polisi di sana mengenal siapa Anjani.
Di ruang tunggu, Anjani menunggu Marko yang sedang di panggilkan oleh staff disana. Dan tidak berselang lama, seorang pria yang biasa memakai baju serta barang-barang branded sekarang tidak lagi, lantas pria itu hanya memakai baju oranye juga sendal jepit.
Anjani menatap iba. Namun, itu memang sudah menjadi garis takdir yang harus Marko jalani atas kesalahannya.
''Jani ....''
Marko menatap Anjani nanar, rasanya ingin sekali memeluk wanita yang pernah menjadi bagian hidupnya itu, tapi dia berkecil hati karena dia sadar kesalahannya sangatlah fatal pada wanita sebaik Anjani.
Anjani tersenyum lembut padanya, rasanya ingin sekali mengumpat serta memukuli wajah tampan Marko ketika mengingat pengkhianatan yang Marko lakukan, tapi Anjani sebisa mungkin menahannya karena bagaimanapun Marko pernah menjadi sosok pria yang sangat ia cintai. Walaupun, memang rasa cintanya pada Marko semakin menghilang yang entah masih tersisa atau tidak.
__ADS_1
"Jani kamu datang?" tanya Marko dengan suara yang lemah.
Rasa malu dan rindu menjadi satu pada diri Marko, ia malu karena ternyata Anjani masih mau menemuinya dan rindu, ia bahkan sangat merindukan mantan istrinya itu.
"Apa kabar, Marko. Aku harap kamu baik," ucap Anjani lalu merogoh tasnya mengambil sesuatu dari sana.
"Ini. Ini surat dari mu 'kan?" Anjani mengembalikan surat itu pada Marko. "Terima kasih sudah mengingat akan kesalahan mu padaku," lanjut Anjani.
Marko tersenyum simpul, tangannya ingin meriah tangan Anjani yang ada di atas meja, tapi Anjani dengan cepat menghindarinya.
"Maaf," ucap pelan Anjani dan Marko mengerti kenapa Anjani bersikap seperti itu.
"Jani, aku benar-benar minta maaf. Aku tahu kesalahan ku tidak dapat terampuni, tapi apa aku juga tidak berhak mendapatkan kesempatan itu. Sungguh, aku tidak dapat tidur, karena terus mengingat kesalahan ku padamu. Aku mohon beri aku kesempatan," ucap Marko dengan memohon pada Anjani yang terlihat menundukkan kepalanya.
"Jani, berikanlah jawaban mu ...."
Anjani masih diam, tapi tiba-tiba Anjani memberikan satu lagi amplop pada Marko yang dengan ragu mengambilnya dari tangan Anjani.
"Apa ini?" tanya Marko, dan Anjani tidak menjawabnya. Namun, seketika matanya terbelalak ketika melihat laporan surat itu.
"Tapi tidak apa-apa, kita bisa rujuk kembali, 'kan? tunggu aku beberapa tahun, hmm? untuk menebus kesalahan ku ini. Setelah aku keluar nanti, kita akan mulai dari awal lagi, oke?" ujar Marko dengan sangat berharap kalau Anjani akan mengiyakannya. Namun, salah! Anjani justru menggelengkan kepalanya.
"Maaf, aku tidak bisa. Kita sudah tidak bisa bersama-sama lagi. Setelah keluar nanti belajarlah dari kesalahan-kesalahan mu, kalau begitu aku pamit, jaga diri mu ya." Anjani beranjak tapi tangannya di tahan oleh Marko dengan memasang raut memohon dan terus menggelengkan kepalanya.
Akan tetapi, tekat Anjani memang sudah bulat. "Sesekali aku akan mengunjungi mu." Anjani melepaskan tangannya dari genggaman Marko dan berlalu pergi.
Di dalam mobil, ia masih menatap kantor polisi dengan tatapan nanar, rasanya berat memang. Melupakan cintanya yang sudah terjalin selama ini, tapi rasa sakitnya teramat dalam untuk mengenang cinta.
.
Dia tahun 2 bulan kemudian. Anjani yang tengah sibuk dengan pekerjaannya teralihkan dengan kedatangan seseorang. ''Selamat siang,'' seru orang itu.
__ADS_1
Senyum Anjani menyambut kedatangannya, kenapa tidak mengabari kalau mau datang?" tanya Anjani yang beranjak lalu memeluk orang itu yang juga memeluknya dengan erat.
"Apa aku harus temu janji dulu untuk menemui Direktur Jan's ini?"
"Hahah, bukan begitu sayang..."
"Emmm, manisnya," orang itu yang merupakan seorang pria yang tak lain adalah Roger yang sudah 2 ini terus mengejar Anjani dan pada akhirnya berhasil. Dua bulan lalu, Roger kembali melamarnya dan ternyata Anjani menerimanya.
Sungguh, perjuangan yang tidak sia-sia walaupun ia harus menunggu lama untuk itu. Tapi Roger tidak sama sekali keberatan karena untuk mendapatkan berlian seperti Anjani, memang harus berusaha lebih keras.
Pintu di ketuk, dan masuklah seorang wanita yang berpakaian ala sekertaris yang tak lain adalah Sivia. Sivia langsung berbalik ketika melihat bosnya sedang bermesraan dengan seorang pria yang juga adalah kakak laki-lakinya.
''Hisssh, kalian! semestinya kunci pintu dulu!'' Sivia mengomel yang menutup matanya dengan telapak tangannya.
Roger melepaskan Anjani lalu memicing seraya membalas omelan adiknya itu. ''Siapa suruh kamu main masuk saja!"
Sivia mendengus dan akan berlalu pergi tapi seseorang menahannya dan langsung memeluknya dari belakang.
Ya dia adalah Alex. Alex datang bersama Roger dan sejak tadi memang sudah menjadi obatt nyamuk disana. Cukup susah memang mengejar Sivia. Tapi hari ini Alex tidak mau gagal lagi. Dengan sedikit memaksa ia memasangkan cincin pada jari manis Sivia yang terus memberontak.
''Kamu apa-apaan sih!'' pekik Sivia.
"Apa? aku hanya memaksa mu untuk menjadi milikku!'' balas Alex.
Sivia akan melepaskan cincin itu tapi ternyata cincin itu sudah melekat dengan erat di jari manisnya seakan memang cincin itu sudah di khususkan untuknya.
Roger dan Anjani mentertawakan kedua orang itu yang seperti Tom and Gery yang terus bertengkar tapi ketika tidak saling berjumpa justru mencari keberadaan masing-masing.
Kehidupan yang manis pun dimulai. Kedua pasangan itu benar-benar mengikat sebuah janji suci secara bersamaan di hari yang sama dan di gedung yang sama setelah sekian lama mereka berjuang untuk hubungan yang saat ini akan di mulai.
Selesai...
__ADS_1
Haiii, Terima kasih sudah mengikuti jalan cerita Anjani, yang mula merasakan Pengkhianatan tapi berkahir manis dengan pejuang cinta seorang pria tangguh seperti Roger.
Ikuti cerita-cerita author yang lain yaaakkk, sudah pada tamatπ€π€ TUNGGU CERITA LAINNYA πππ»