Pengkhianatan Dalam Pernikahan

Pengkhianatan Dalam Pernikahan
Rasa Curiga


__ADS_3

Berdandan dengan sangat cantik nan anggun. Anjani berjalan menyusuri koridor kantor yang mana banyak para karyawan menyapanya begitu hormat.


Begitu pula dengan Anjani yang membalas sapaan itu, senyuman ramahnya membuat siapapun menyukai kepribadian Anjani sebagai istri bos mereka. Yang bahkan mereka tidak mengetahui kalau sebenarnya pemilik tempat mereka bekerja adalah milik Anjani bukanlah Marko.


''Selamat bekerja!'' seru Anjani pada para staf yang sedang berkutat dengan komputernya.


''Selamat pagi Bu!!'' balas semuanya dengan menyapa, juga berdiri lalu membungkuk.


Anjani berlalu, tangannya melambai seakan mengucapkan sampai jumpa pada semuanya. Dan menghilang di dipintu lift yang akan membawanya keruangan Marko.


Di Lift Anjani terus tersenyum, tidak sabar memberikan tiket bulan madu itu pada Marko. Ia mengeluarkan tiket dari dalam tasnya, memandang dan membayangkan bagaimana keseruannya mereka disana.


Sesampainya di lantai 29, lift pun terbuka dan Anjani segera keluar sebelum pintu lift itu tertutup kembali. Kepalanya menoleh ke meja tempat bekerjanya Suci, namun Suci tidak ada disana.


Pasti dia sedang mengerjakan hal lain. Batin Anjani yang selalu berpikiran positif.


Tanpa mengetuk, Anjani pun membuka pintu ruangan Marko tetapi gerakannya terhenti karena ternyata pintu itu dikunci dari dalam.


''Kenapa dikunci?'' gumam Anjani.


Yang kebetulan kunci pintu itu menggunakan password, dan dia juga mengetahui password itu. Tanpa berpikir panjang, Anjani menekan beberapa angka di smart Door lock.


Klik!


Iapun berhasil membuka, lalu masuk kedalam. "Marko kenapa di kunci?"


"Kamu? kenapa datang tidak beritahu dulu!"


Anjani terpaku diambang pintu, ia menatap dikedua sisi, yaitu pada Marko dan Suci. Yang awalnya ia duga Suci sedang mengerjakan hal lain, tapi ternyata dia berada disana.


Keduanya berdiri didekat meja, mata Anjani menatap rambut Suci yang sedikit berantakan dan mereka juga terlihat gugup.


''Kalau begitu saya permisi, Pak. Saya akan berikan laporan ini setelah memeriksanya,'' ucap Suci yang langsung berlalu setelah mengambil sebuah berkas yang ada di meja Marko.


''Selamat pagi Bu..'' sapa Suci pada Anjani dan Anjani hanya tersenyum padanya. Senyuman kaku tidak seperti biasanya.


Melihat Anjani yang masih bengong di tempatnya, Marko pun mengambil inisiatif untuk menghampiri Anjani.


''Kenapa berdiri disana, kemarilah aku sangat merindukanmu,'' ucap Marko dengan rayuannya.


''Kalian?''


''Oh kami sengaja mengunci pintu karena sedang membicarakan hal yang serius mengenai saham kita yang sedikit anjlok, kita enggak mau para karyawan tahu dan akan membuat gosip lalu tersebar keluar kantor,'' jelas Marko.


Entah kenapa Anjani merasa ada yang aneh.


''Saham kita anjlok? sejak kapan?'' Anjani terkejut.


''Lebih tepatnya bukan anjlok, ada penurunan sedikit. Tapi kamu tenang saja, kamu percaya sama aku 'kan?''


Anjani mengangguk dan duduk dikursi kerja milik Marko.


''Jadi katakan, ada apa kamu datang kekantor tanpa memberitahu ku dulu, hmm?'' tanya Marko dengan tangannya memainkan rambut Anjani.


''Oh ya! ini!'' Anjani memberikan dua tiket yang sudah dia pesan.


Marko menerima tiket itu, ''Apa ini?''

__ADS_1


''Tiket bulan madu kita, kau senang 'kan?''


Wajah bulat Anjani memancarkan bahagia karena menyampaikan keinginannya pada Marko yang ingin berbulan madu. Dan berharap Marko juga senang mendapatkan kejutan seperti itu.


''Bulan madu?!'' Marko berdiri di simpuhnya. Rautnya seakan tidak menyukai kejutan yang diberikan oleh Anjani.


''Iya bulan madu, kenapa?'' Anjani muram.


''Sayang, kenapa kamu tidak membicarakan ini dulu padaku, kau tahu aku ini bos disini. Banyak tanggung jawab yang kupegang. Dan seperti yang kau tahu, kalau saham kita sedang ada penurunan. Kamu harus mengerti.''


''Tapi, kita belum menghabiskan waktu kita setelah menikah, Marko.'' Lirih Anjani.


''Itu bisa nanti, sayang…"


"Tapi aku sudah memesan tiketnya, kita harus pergi Marko. Untuk pekerjaan, aku akan menugaskan orang kepercayaan ku, kamu tenang saja.'' Keukeuh Anjani dan Marko tdiak bisa lagi mengelak karena dia juga takut kalau Anjani akan mencurigainya.


''Naiklah kalau itu yang kamu mau, aku mana bisa menolaknya.''


Dan tanpa mereka tahu, dipintu sana, Ada suci yang sedang menguping pembicaraan mereka dengan muka yang kesal.


Ia duduk dikursi kerjanya dengan terus menggerutu.


''Bulan madu katanya, cih! apa-apaan dia.''


Staff yang melihat penampilan Suci yang agak berantakan semakin merasa aneh. Banyak yang ia saksikan dan merasa janggal, tapi staff itu seakan menutup mata dan telinga nya. Tapi kali ini, benar-benar sungguh aneh.


Pia nama panggilan staff itu, ia tadi melihat kedatangan Anjani yang saat membuka pintu ternyata pintunya dikunci dari dalam, lalu tidak lama Suci keluar dengan penampilan yang berantakan terlebih lagi ia melihat Suci yang menguping dengan raut wajah yang marah.


''Kenapa semakin lama, aku merasa ada yang aneh. Tapi aku enggak boleh menduga-duga,'' gumam Pia.


''Eh! Suci keluar dari ruangan pak Marko dengan rambut yang berantakan lagi!'' bisik staff lain pada Pia.


''Kamu tahu?'' tanya Pia.


''Tahu apa?''


''Kalau Suci sering masuk dan keluar dengan penampilan yang berbeda?''


''Tentu saja, ini sudah menjadi buah bibir di seluruh kantor, hanya saja kita bersikap biasa.''


''Kalau iya, kasihan Bu Anjani,'' lirih Pia.


Sudah jam makan siang, para karyawan meninggalkan meja kerja mereka dan menuju kantin yang sudah disediakan makan siang gratis untuk para karyawan.


Anjani yang hampir setengah hari berada di ruangan Marko akhirnya keluar, bukan untuk pulang tapi untuk membeli makan siang Marko dan dia.


Datang kekantin dan langsung menuju meja pemesanan sambil bermain dengan gadgetnya.


"Kasihan Bu Anjani, kalau sampai tahu,'' bisik-bisik para karyawan.


''Iya benar, mereka benar-benar kelewatan.''


Anjani terkesip, ia seperti mendengar namanya disebut dan menjadi bahan perbincangan. Anjani menoleh tapi matanya melihat semua karyawan tengah sibuk dengan makanan nya.


''Apa perasaan ku aja ya?'' gumam Anjani.


''Silahkan Bu bos!'' ucap pramusaji yang memberikan pesanan Anjani.

__ADS_1


''Terima kasih Ibu Kantin,'' balas Anjani.


''Tumben Pak Marko tidak datang, biasanya datang bersama Suci,'' ucap pramusaji itu.


''Hah? oh, iya! Kebetulan saya sedang menemani suami saya, Bu.'' Anjani pun berlalu pergi.


Pikirannya berkecamuk hebat. ''Sesering itukah Marko dan Suci pergi makan siang?''


''Kenapa perasaan ku tidak enak setelah melihat mereka gugup saat aku masuk, seperti sedang tertangkap basah—''


''Ah sudahlah, mungkin benar apa yang dikatakan oleh Marko kalau mereka hanya sedang membicarakan hal yang sensitif,'' lanjutnya.


Tapi bagaimanapun dia mengalihkan perhatiannya namun tetap saja pikirannya dan perasaannya tidak enak, ada apa ini sebenarnya?


''Bu!?'' panggil seseorang yang baru saja Anjani akan menaiki lift tapi langsung menoleh.


''Ya?''


''Bu saya Pia,'' ucap orang itu yang ternyata adalah Pia, staff Devisi pemasaran.


''Oh iya, saya tahu kamu di Devisi pemasaran 'kan?''


''Benar Bu.''


''Ada apa? sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan?'' tebak Anjani yang melihat Pia gugup dan ragu.


''Bu maaf, apa enggak sebaiknya ibu datang setiap hari saja,'' ucap pelan Pia. Anjani mengernyit heran, karena bukan hanya apa yang Pria katakan, Pia juga bersuara dengan sangat pelan, seakan tidak ingin ada yang mendengar apa yang dia katakan pada Anjani.


''Ada apa, Pia?''


''Ti–tidak apa-apa, hanya saja kami senang bertemu dengan Anda.'' Pia sebisa mungkin menjawab pertanyaan Anjani walaupun terkesan mengada-ada.


Anjani benar-benar merasa ada yang tidak beres. Tapi karena tidak mau membuat Pia ketakutan, ia pun menepuk pundak Wanita itu seraya berkata, ''Kalau begitu, baiklah. Saya akan datang setiap hari.''


Pia mengangkat kepalanya, dan mengangguk lega. ''Terima kasih, Bu. Kalau gitu saya masuk kekantin dulu, permisi…" Pia pun berlalu pergi.


Anjani menekan tombol lift lagi karena pintu lift ya sudah tertutup kembali. Semakin berpikir positif, semakin banyak juga rasa keraguannya.


"Ada apa sebenarnya?" gumam Anjani sebelum melangkah keluar dari lift untuk masuk keruangan Marko.


Tapi belum ia melangkah masuk, Anjani berhenti didepan meja kerja Suci. Melihat Suci yang tengah sibuk dengan komputernya.


"Suci?" panggilanya.


Suci mengangkat pandangannya, " Ya Bu?""


"Kamu enggak makan siang?"


"Nanti Bu, masih ada pekerjaan yang harus saya kerjakan," jawab Suci.


Anjani menganggukkan kepalanya, terdiam sejenak memperhatikan Suci yang sedang bekerja. Hingga Suci yang ditatap pun merasa terganggu.


"Ada apa ya Bu?"


"Oh tidak ada, kalau gitu saya masuk dulu."


Anjani pergi masuk, meninggalkan Suci yang sekarang giliran dia yang kebingungan karena sikap Anjani yang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Apa dia sudah mencurigai ku?"


Happy reading


__ADS_2