Pengkhianatan Dalam Pernikahan

Pengkhianatan Dalam Pernikahan
Fantasi Gila


__ADS_3

Pagi pun menjelang, mata lentik Anjani mengerjap beberapa kali. Kepalanya masih terasa berat, dan seluruh tubuhnya terasa pegal-pegal.


Ketika matanya terbuka sepenuhnya, yang pertama kali dia lihat adalah seorang pria dengan pahatan wajah yang sangat sempurna. Hidungnya yang mancung, rahang yang begitu tegas, serta buku mata yang lentik. Anjani memandangnya tanpa berkedip, senyuman terbit dari wajah manis Anjani.


Namun, tiba-tiba kilatan kejadian tadi malam lewat begitu saja di kepalanya, dimana ia memaksa Pria ini dengan binal. Bahkan ia ingat ketika tangannya sendiri merobek kemeja pria yang masih tertidur pulas disampingnya itu.


''Semoga ini mimpi,'' gumam Anjani yang sudah bersiap akan mencubit lengannya sendiri.


''Auuhh!'' Mata Anjani terbelalak, ternyata ini bukanlah mimpi, melainkan kenyataan. Wajahnya memerah, ia malu karena mengingat tingkahnya tadi malam.


Anjani menutup wajahnya dengan dengan kedua tangannya, entah mau di taruh dimana wajahnya nanti ketika Roger bangun.


Sebuah tangan menyentuh tangannya, menyingkirkannya dari sana. Mata Anjani perlahan terbuka dan mata mereka pun bertemu.


''Roger ….'' Roger tidak menjawabnya ia hanya memandang wajah cantik Anjani dipagi hari seperti ini.


''Maafkan aku,'' ucapnya lagi yang merasa wajahnya benar-benar tebal. Karena menahan malu.


Alis mata Roger mengernyit. Tapi dia juga belum membuka mulutnya.


Melihat tidak ada respon dari Roger membuat Anjani semakin malu. Ia mengira kalau Roger pasti menganggapnya sebagai wanita murahan dan binal. Ini semua karena Marko, dia benar-benar tidak bisa memaafkan suaminya itu.


Anjani menangis dengan menutup kembali wajahnya, tapi lagi-lagi Roger menyingkirkan tangannya dari wajah. Tersenyum dan tangannya merapihkan rambut Anjani yang berantakan.


''Kenapa?'' tanya Roger dengan suara yang menenangkan.


''Pasti kamu mengira kalau aku wanita murahan, sungguh ini karena obat perangsang sialan itu!''


''Sungguh aku enggak bermaksud begitu, Roger …'' lanjutnya dengan rengekan diakhir kalimat.

__ADS_1


Tuk!


Roger menyentil dahi Anjani sehingga membuatnya meringis kesakitan.


''Memangnya kita melakukan apa tadi malam?'' tanya Roger yang menahan senyumnya.


''Hah?'' Anjani merasa heran, karena seingatnya ia memang memaksa Roger untuk menuntaskan nafsu yang sulit dikendalikan tadi malam.


''Justru aku yang harus meminta maaf, karena enggak bisa membantu mu.''


''Apa maksud mu, Roger?''


Malam tadi. Roger berusaha menahan diri untuk tidak berbuat lebih pada Anjani. Walaupun Anjani sendiri yang memang memaksanya, hingga kancing kemejanya pun terlepas semua.


Tapi Roger bukan tipe pria yang akan memanfaatkan kondisi walaupun memang menguntungkan baginya. Dia sadar betul kalau Anjani masih menjadi istri orang, dan mungkin berbeda kondisinya jika Anjani sudah menjanda.


Roger berusaha menahan diri dari godaan nafsu dan memberikan bantuan pada Anjani, yang sedang kacau karena efek obat. Meskipun merasa kasihan, dia tahu bahwa dia tidak bisa memanfaatkan kondisi ini.


''Jadi?''


''Kita enggak melakukannya, kau tenang saja.''


Anjani menghembuskan nafasnya ke udara, dia merasa lega karena ternyata mereka tidak melakukannya. Tapi ketika ia akan bangkit, ada sesuatu yang aneh. Kakinya tidak bisa bergerak dan dengan segera ia menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya.


Matanya melebar, lalu beralih menatap Roger yang hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


''Maaf, hanya itu yang bisa menahan mu,'' ucap Roger.


''Kau dapat dari mana?'' tanya Anjani dengan gugup. Roger menunjuk kearah lemari besar dengan tangannya. Pupil mata Anjani bergerak dengan tidak nyaman, ia gugup benar-benar gugup.

__ADS_1


Sebuah pasung yang terbuat dari pipa, terpasang dikedua kaki Anjani. Yang mana hanya orang-orang tertentu yang mengetahui pungsi pasung itu.


''I—itu berarti kamu juga lihat semua isi lemari itu?''


''Heum. Ada rantai, ada ikat pinggang, ada penutup mata, dan ada seperti alat pencukur bulu,'' bener Roger yang membuat Anjani menjerit meminta Roger tidak meneruskan ucapannya.


''Stop!!''


''Ah dengan kostum-kostum aneh,'' lanjut Roger yang semakin membuat Anjani kelabakan.


''Roger, cukup!!''


Anjani benar-benar merasa malu, ia menutup dirinya dengan selimut. Merasa tidak sanggup berhadapan dengan Roger saat ini.


''Hahahha!'' sementara Anjani yang merasa malu, justru Roger yang tertawa dengan puasnya.


''Sudah, sudah. Aku bisa jaga rahasia kok, tenang saja.'' Roger bangun dari tempat tidur lalu membuka pasung itu.


Ya benda-benda yang tadi Roger sebutkan adalah sebuah alat fantasi Sek-s. Itu ulah Marko, Marko memang mengidap penyimpangan seksual, yang mesti memakai barang-barang itu untuk menambah gairah.


Sebetulnya Anjani juga terkadang risih melakukan itu, tapi mengingat statusnya sebagai seorang istri, Anjani pun hanya bisa menurut mengikuti permintaan Marko.


Anjani memperhatikan perlakuan Roger yang begitu lembut, sangat berbeda dengan Marko. Bahkan senyuman Roger membuat hatinya merasa aman.


Roger kembali duduk ditepi ranjang. Roger menatapnya begitu dalam sehingga membuat Anjani menelan ludahnya dengan susah payah. Mata Anjani sulit fokus karena baru menyadari kalau Roger bertellanjang dada, otot-otot yang begitu seksi dan 4 roti sobek yang tergambar indah di perut Roger membuat Anjani berkeringat.


Roger menarik dagu Anjani, memintanya fokus dengan matanya tidak dengan yang lainnya. ''Aku mau bertanya, kau harus jawab!'' Anjani mengangguk tanpa sadar.


''Tanda di belakang sini, apa ulah fantasi Marko juga?'' Roger menunjuk punggung Anjani dan seketika membuat mata Anjani berubah sendu.

__ADS_1


Roger sempat melihat ada tanda yang sudah mulai hitam, tanda yang sangat jelas kalau itu adalah bekas sebuah cambukan.


Happy Reading


__ADS_2