Pengkhianatan Dalam Pernikahan

Pengkhianatan Dalam Pernikahan
Kekecewaan Anjani


__ADS_3

Disebuah restoran hotel. Disanalah ketiga orang itu berada, Anjani, Roger dan Pia. Mereka duduk disatu meja yang sudah ada beberapa hidangan yang sudah siap disantap, tapi ketiganya masih saja diam. Mata Pia dan Roger masih saling menatap kesal. Dan Anjani yang berada di tengah-tengah mereka tidak bisa berkata apa-apa.


''Rog—'' baru saja Anjani membuka mulutnya, Roger sudah lebih dulu mengacungkan tangannya agar Anjani diam.


''Hissshh … Pia—'' Lagi dan lagi, ucapan Anjani terus terjeda karena Kaka beradik itu seolah tidak mengizinkannya bicara.


''Kalian ini kenapa! makanan sudah dingin. Makan!'' sentak Anjani karena sudah sangat kesal dengan tingkah kakak dan adik itu.


Keduanya terkejut, dan mulai mengambil alat makan tapi tatapan mereka masih menyiratkan peperangan dingin.


''Kita lanjut setelah makanan ini habis!'' ketus Pia pada kakaknya sendiri. Dan Roger hanya mencebikkan bibirnya.


Dan tanpa mereka sadari, dimeja lain ada Axel yang masih memantau mereka dengan tawanya yang tiada henti. Matanya hanya terfokus pada wajah manis Pia. Anak perempuan yang dulu sering sekali ia jahili, bahkan sampai sekarang pun ia tidak bisa berhenti menggoda Pia. Rasanya tidak pernah puas melihat wajah Pia yang ketus itu, lengkap dengan alisnya yang saling bertautan.


''Dia itu lucu sekali, hahahahah!'' gumam Axel dengan menahan tawa sampai air matanya pun keluar dari sudut matanya.


''Haaahhhh! rasanya perut ku kram,'' keluh Axel.


Beberapa saat kemudian, ketiga orang itu terlihat meninggalkan meja, dan dengan segera Axel pun ikut pergi. Dia masih penasaran dengan apa yang akan Pia lakukan pada kakaknya sendiri. Karena dilihat dari wajahnya saja, Pia sudah sangat kesal dengan Roger.

__ADS_1


Ditempat Roger tepatnya di lobby hotel, Anjani yang tidak tahan dengan sikap kakak beradik itu akhirnya ia menyeret keduanya untuk duduk disofa yang ada di lobby.


''Sebenarnya ada apa? coba ceritakan!'' bak seperti guru BK yang sedang memberikan sidang anak muridnya yang bertengkar, Anjani berdiri diantara mereka yang sudah duduk disofa.


''Aku akan mengatakan semuanya!'' ucap Pia.


''Terserah!'' sahut Roger.


Pia pun menceritakan apa yang terjadi, dari mula ia meminta izin ke toilet tapi ketika ia akan keluar dari toilet, pintu ada yang mengunci dari luar. Hingga tiba-tiba ia berada di sebuah kamar dan ketika terbangun, ia menemukan secarik kertas yang mana tertulis sebuah pemberitahuan kalau Roger sedang berniat buruk pada Anjani.


Roger terbelalak mendengarnya. Cerita Pia seperti mengada-ada tapi memang itu kenyataannya. Pia menceritakan sesuai apa yang dia alami.


Roger terdiam sejenak. Ia seperti mulai menyadari ada sesuatu yang menjanggal. Kemudian ia pun berdecak kesal lalu kepalanya seperti sedang mencari sesuatu, Roger menoleh ke kiri dan ke kanan memperhatikan sekeliling.


Dari kejauhan Axel yang tertangkap basah, hanya bisa tersenyum dengan memamerkan deretan giginya yang rapi. Ia ragu untuk datang atau tidak. Tapi suara Roger yang terdengar marah membuat Axel akhirnya menyerah dan menghampiri Roger.


''Lho! Botol kecap!'' seru Pia yang mengenali Axel dengan panggilan uniknya.


''Cih! dia masih memakai panggilan itu,'' cibir Axel.

__ADS_1


''Coba jelaskan Axel!'' tegas Roger yang sudah melipat tangan diatas perutnya.


Axel pun menceritakan semuanya, kronologi yang dia buat, akting dia sebagai bajingan. Semua tidak terlewatkan dan memang itu yang diminta Roger bukan? tapi justru cerita apa adanya itu membuat si pria berambut blonde mendapatkan pukulan dari tas Anjani. Yang memang Anjani sendirilah yang melakukan itu.


''Brengsek! kurang ajar! kalian keterlaluan!!'' Anjani kecewa, ia marah. Dia merasa seperti sebuah pion permainan yang dilakukan oleh dua pria tampan itu. Anjani merasa tidak lagi memiliki harga diri. Maka dari itu, Anjani pun pergi begitu saja dari sana.


''Bu Jani!!'' panggil Pia yang akan mengejar Anjani. ''Kalian memang keterlaluan!'' lanjutnya. Pia pun berlalu pergi mengejar Anjani yang terlihat sudah menitihkan air mata.


Dia ingat, karena dia tidak berada dalam pengaruh alkohol. Ia hanya berada dibawah pengaruh obat perangsang saja. Maka dari itu ia ingat semuanya, ingat tingkahnya yang persis seperti perempuan murahan yang menggoda pelanggannya. Anjani benar-benar malu. Terlebih lagi ia sempat meminta Axel untuk melayaninya. Entah rasanya ia ingin membuang wajahnya ketempat sampah sekarang juga.


''Bu Jani!'' panggil Pia lagi yang berhasil menyusul langkah Anjani.


Anjani menyeka air matanya, ia bahkan malu menunjukkan wajahnya didepan Pia, asistennya sendiri.


''Bu Jani bisa menuntut mereka kok!'' usul Pia yang membuat langkah Anjani terhenti.


''Tapi dia kakak mu, Pia.''


''Tidak masalah, kalau dia salah harus bertanggung jawab, bukan?''

__ADS_1


Anjani terdiam sejenak. Lalu berkata, ''Kita terbang untuk pulang, sekarang juga!'' Pia hanya memberikan anggukan kepalanya. Dan kemudian ikut melangkah pergi, kepalanya menoleh kebelakang melihat Roger dan Axel yang terlihat seperti sedang berdebat.


''Maaf kak. Aku juga kecewa sama kalian!'' gumam Pia dalam diamnya.


__ADS_2