Pengkhianatan Dalam Pernikahan

Pengkhianatan Dalam Pernikahan
Kesungguhan Hati Seorang Pria


__ADS_3

Anjani dan Pia tengah bersiap karena mereka memutuskan akan pulang ke Indonesia hari ini juga. Rasa kecewa Anjani pada Roger tidak terlalu dalam tapi rasa malu lah yang lebih mendominasi perasaannya.


Begitu juga Pia, rasanya ia sangat ingin mencakar wajah Kakaknya itu, tapi itu sangatlah tidak mungkin. Namun rasa kecewanya bukan hanya pada Roger saja melainkan pada laki-laki yang sebenarnya dari dulu ia kagumi sosoknya. Walaupun memang kerap menjahilinya, tetapi Axel adalah pria yang bertanggung jawab.


Baginya Axel adalah kakak keduanya, tapi cara Axel salah untuk membantu Roger. Yang membuat harga diri wanita lain dipertaruhkan.


Setelah selesai berkemas karena memang barang-barang mereka tidak terlalu banyak, hanya ada dua koper dan tas berukuran sedang. Pia sudah memesan tiket pesawat saat melenggang pergi dari hotel tempat pesta tadi malam berlangsung.


Kedua wanita cantik itu berjalan sedikit tergesa-gesa. Entah mengejar apa, karena jam penerbangan pun 1 jam lagi. Tapi keduanya hanya menginginkan segera berada di bandara, itu saja.


Anjani yang merasa kecewa dan malu pada orang yang sudah mulai ia percayai, dan Pia yang kecewa dengan kakak laki-lakinya.


''Ibu duduk dulu, saya mau beli kopi disana,'' ucap Pia meminta Anjani agar duduk di ruang tunggu bandara.


Ya mereka telah sampai di bandara dengan supir sewaannya yang mengantar mereka dengan selamat sampai sana.


''Kau saja. Aku air mineral saja ya. Terima kasih,'' sahut Anjani dengan senyuman getir dan lelah yang bercampur menjadi satu.


''Baiklah.'' Pia pun bergegas menuju gerai yang menjual kopi.


Anjani bersandar disandaran kursi, mengingat rasa malunya yang tak berujung itu membuat dia muram. Jika ada yang mengatakan kalau Anjani berlebihan, percayalah mereka tidak pernah ada di posisinya. Rasa malu, marah kecewa bercampur menjadi satu kesatuan membuat jiwanya terombang-ambing tidak karuan. Dia malu tapi marah, mau marah tapi malu itulah yang mungkin lebih sederhananya.


Dia sangat mengerti dengan apa yang dikatakan pria bernama Axel itu, dan dapat memahami kalau sebenarnya Roger tidaklah bersalah. Tapi seakan pikirannya menampik itu.

__ADS_1


Selagi Anjani termenung dengan tatapan kosong. Sepasang kaki berdiri didepannya sejak tadi yang bahkan tidak Anjani sadari.


''Jani?'' panggilanya. Mendengar namanya disebut dalam lamuan, Anjani pun terkesip, ia mengerjapkan matanya beberapa kali lalu mengernyit ketika melihat sepasang sepatu dan kaki yang jenjang juga kekar berdiri dihadapannya.


Anjani mengangkat kepalanya perlahan. Dan ketika melihat pemilik kaki kekar nan jenjang itu, Anjani melengos. Ketahuilah ia bersikap seperti itu bukanlah benci, melainkan rasa malunya yang sangat besar pada Roger.


Ya tak lain pemilik kaki kekar nan jenjang itu adalah Roger. Melihat respon Anjani yang acuh, Roger pun tersenyum lalu berjongkok didepan Anjani. Sungguh pemandangan yang menghangatkan hati.


''Jani, aku tahu kamu marah. Tapi aku benar-benar enggak ada maksud. Dan rencana dia, itu aku emang enggak tahu menahu,'' cuap Roger, ia berusaha untuk menjelaskan agar Anjani tidak marah padanya. Karena baginya hubungannya sudah membaik setelah pagi tadi. Tapi sekarang justru kembali memburuk.


''Jani, aku bersungguh-sungguh. Aku mohon kamu jangan marah, hmm?''


Mendengar Roger yang memohon, entah kenapa hati Anjani seakan mencelos, rasanya tidak adil untuk Roger, bukan? dan Anjani menyadari itu. Tapi rasa gengsi dari seorang perempuan tulen pasti besar, dan siapapun itu pasti mengalami fase gengsi dimana tidak akan mengaku salah walaupun memang salah.


''Jani, aku benar-benar mencintaimu …'' lirih Roger, sangat lirih bahkan hampir tidak terdengar. Tapi kuping kelinci Anjani sangat mendengar begitu jelas. Dan di setiap kata ia melihat ketulusan pada Roger.


Namun, tiba-tiba seseorang datang menyela. ''Aku yang salah, ini semua kesalahan ku. Roger memang tidak tahu menahu dengan semua skenario yang ku buat, jadi maafkan aku ….''


Roger dan Anjani menoleh, menatap seorang pria yang tak lain adalah Axel, pria berambut blonde itu tengah tertunduk meminta maaf.


Roger sampai tidak percaya, Axel pria yang angkuh dan percaya diri meminta maaf hanya demi meluruskan kesalahpahaman yang dia buat sendiri, dan tentu untuk membelanya. Dia memang sahabat yang baik.


''Jani, Axel hanya ingin aku mendapatkan apa yang selama ini aku harapkan, tapi memang cara dia sangat salah,'' timpal Roger.

__ADS_1


Anjani tersenyum samar, ia mengangguk juga dengan samar-samar pada Axel.


''Lho kalian ngapain disini?!'' tanya seorang gadis dengan sangat ketus, ya siapa lagi kalau bukan Pia, gadis pemilik nama asli, Sivia Andriani Wiguna. Tengah mendelik pada kedua pria didepannya.


''Dia sangat menggemaskan dengan ekspresi seperti itu,'' gumam Axel dalam hatinya.


Dan kini Axel memutar tubuhnya lalu melangkah menghampiri Pia. Tepat didepan gadis yang tubuhnya tidak lebih tinggi darinya itu, Axel berdiri menatap teduh Pia, gadis yang sejak dulu ia perlakuan seperti adiknya sendiri. Tapi entah kenapa seiringnya waktu perasaannya semakin berubah ketika melihat gadis yang dia anggap sebagai adiknya ternyata tumbuh dengan cantik dan elegan.


Salahkah menyukai adiknya sendiri, tentu salah! kalau Pia adik kandungnya. Tapi, nyatanya Pia hanya adik dari temannya, bukankah hukum alam pun tidak mempermasalahkan itu?


''Kakak mu tidak salah, dia juga korban dari skenario yang ku buat. Aku benar-benar meminta maaf telah mengecewakan mu! Tapi sungguh, aku tidak melakukan apa-apa, kau boleh tanyakan itu pada Anjani.'' Kepala Axel menoleh pada Anjani dan diikuti dengan Pia. Dan disana Anjani pun mengangguk pada Pia agar percaya dengan apa yang dikatakan Anjani.


Pipi Pia bersemu merah, baru menyadari apa yang dikatakan Axel seraya berkata dengan pelan, ''Kau melakukan apapun itu aku tidak peduli, tapi aku tidak membiarkan bos ku tersakiti.''


Axel mengulumkan senyumnya. ''Aku benar-benar masih perjaka, Sivia,'' bisik Axel yang kembali dengan sifat jahilnya.


''Botol kecaapp!'' pekik Pia membuat orang-orang disana ikut menoleh kearah mereka.


''Hm, aku anggap itu adalah panggilan sayangmu padaku,'' goda Axel yang langsung mengambil gelas koffie yang ada ditangan Pia, lalu segera menyeruputnya hingga tandas.


''Eeh?!'' Terlambat, Pia terlambat mengambil koffienya dari tangan Axel karena percuma, koffienya pun sudah habis tak tersisa.


''Teruslah cemberut, aku suka melihatnya,'' Axel berkata dengan nada yang membuat jantung Pria melompat.

__ADS_1


Pesawat yang akan ditaiki mereka akan lepas landas, dan di pesawat kelas bisnis sudah ada Anjani, Pia, dan dua pria yang duduk disebelah masing-masing mereka.


Happy Reading 🤗


__ADS_2