Pengkhianatan Dalam Pernikahan

Pengkhianatan Dalam Pernikahan
Malaikat Penolong


__ADS_3

Langkah Anjani terhenti kala sebuah mobil berhenti asal tepat disampingnya. Ketika pintu itu terbuka, Anjani mengambil posisi mundur beberapa langkah. Matanya sebentar melirik ke arah penjual wedang jahe yang sudah sangat jauh, hatinya memaki si pengemudi mobil itu.


''Sial!''


Keluarlah seorang pria yang membuat Anjani berubah waspada. Ya pria itu adalah Marko. Marko keluar dari mobilnya dengan gontai, karena memang pengaruh minuman keras yang bahkan masih ia cekal leher botolnya itu.


Anjani semakin merasa waspada, saat Marko melangkah kearahnya dengan tatapan yang begitu aneh.


''Marko, menjauhlah! ada apa denganmu?!'' tanya Anjani begitu takut.


''Menjauh dari istri ku? kenapa, kenapa harus menjauh?'' Tatapan Marko begitu berbeda, seakan sesuatu sedang menguasai dirinya.


Melihat kesekeliling, ternyata malam itu benar-benar sepi. Dan tanpa berpikir panjang, Anjani berbalik lalu berlari kerumah besarnya, yang memang harus melewati halaman yang sangat luas.


Dia berlari, semakin menjauh dari Marko yang menatap ditempatnya. Ketika ia melewati pos penjagaan, ia terkejut dan baru menyadari ternyata penjaga rumahnya sudah terkapar tidak berdaya disamping pos.


Dia terkejut, kakinya lemas ditambah ia melihat ada luka yang mengeluarkan darah diperut penjaga itu. Matanya kian melirik kembali kearah Marko, dan dia semakin dibuat bingung, karena Marko tidak ada disana.


Dia takut, sangat takut! maka Anjani kembali berlari dan dia hanya ingin masuk kerumah lalu menelpon polisi untuk melaporkan yang terjadi pada penjaga rumahnya itu.


Tapi ketika ia berhasil masuk kerumah, tiba-tiba pintu yang tadi ia lupa tutup, tertutup dengan sendirinya. Dia terjingkat dan berbalik, dadanya bergemuruh kencang karena disana sudah ada Marko yang berdiri di belakang pintu.


''Marko? apa yang kamu lakukan?'' tanya Anjani dengan bibir gemetar. Dengan perlahan ia memundurkan langkahnya.


Marko melangkah mendekat, matanya menatap dengan tajam, bibirnya menyeringai. Sungguh Anjani sangat takut melihat Marko yang seperti itu.


''Aku sedang tinggi, dan ku mau kau bermain dengan ku,'' ucap Marko dengan suara seraknya.

__ADS_1


''Jangan berharap, Marko! besok persidangan perceraian kita, apa kau lupa?'' Anjani tahu kalau saat ini Marko sedang dalam pengaruh alkohol, dan dia harus berhati-hati karena dia juga tidak tahu Marko akan melakukan apa padanya.


''Tentu saja tidak, tapi akan ku buat malam ini sebagai malam yang paling berkesan dihidupmu, hmm?'' Marko melemparkan botol minuman nya ke atas sofa, lalu tangannya bergerak melepaskan sabuk celananya.


Ucapan Marko membuat Anjani semakin ketakutan, matanya berkeliling mencari seseorang yang bisa membantunya tetapi entah kenapa keadaan rumah tidak biasanya sepi seperti ini.


Di mana para pembantunya, di mana penjaga rumah lainnya. Apa yang sebenarnya terjadi? pertanyaan itu memenuhi otaknya.


Anjani tersudut di bawah tangga, dan baru saja ia akan berbalik untuk menaiki anak tangga, tangannya sudah ditarik dengan kasar oleh Marko sehingga membuatnya terpental ke sofa panjang yang ada botol minuman Marko tadi.


Wajah Anjani sudah pucat pasih, menahan takut dan sakit dipinggangnya. Tangannya tidak sengaja menyentuh botol itu, ia mengambil botol tersebut hanya untuk berjaga-jaga kalau Marko akan melukainya. Tapi baru saja ia akan mengangkat dari tempatnya, tangan Marko sudah menyekanya. Ya saat ini Marko sudah berada didepan dengan lututnya yang sudah bertumpu disofa samping paha Anjani.


''Akan ku bantu, jika mau menikmatinya,'' bisik Marko yang mengambil botol itu dari tangan Anjani.


Dan tanpa diduga, Marko mencengkram rahang Anjani begitu kuat lalu mencekoki minuman itu agar masuk ke dalam mulut Anjani.


Anjani memberontak tapi seakan Marko tidak peduli dengan jeritan yang tertahan dari mulut wanita yang masih menjadi istrinya itu, ia semakin menggila dan semakin memasukkan bibir botol minumannya ke dalam mulut Anjani.


''Bagaimana? enak bukan? apa kau mau lagi, hmm?'' Anjani menggelengkan kepalanya dengan mata yang seakan memohon meminta dilepaskan. Tetapi sayangnya, Marko sudah dikuasi minuman setan itu, sehingga tidak menyadari kalau perbuatannya membuat Anjani ketakutan.


''Issshhh, maafkan aku, aku lupa kau tidak suka dengan minuman beralkohol 'kan?'' Marko meletakkan botol itu keatas meja.


Tangannya meraih tangan Anjani dan menyatukannya ke belakang tubuh. Dan dengan hanya satu tangannya, ia berusaha melepaskan satu persatu kancing baju tidur istrinya. Tapi Anjani terus memberontak dengan sekuat tenaganya walaupun kepalanya berdenyut kencang karena minuman itu.


''Apa yang kau berikan dalam minuman itu, Marko?'' tanyanya begitu lirih.


''Eemm, hanya obat perangsang sedikit. Itu akan membantu kita melakukan permainan ini, Anjani Rubella!''

__ADS_1


Ia semakin merasa sesak, keringat mulai bercucuran, bibirnya gemetaran, pandangannya semakin kabur. Namun, Anjani berusaha akan tetap terjaga.


''Marko, ku mohon sadarlah!'' ucap Anjani dengan susah payah.


''Aku sadar, Anjani! sangat sadar!''


''Kau bukan Marko yang ku kenal!''


Marko terdiam karena ucapan Anjani. Ia menjauh, dan melepaskan tangannya. Kepalanya tertunduk begitu dalam, Anjani melihat pindak Marko yang gemetar. Ya Marko sedang menangis.


Dengan sangat perlahan, ia bangun dari sofa. Matanya melirik kearah pintu, ia sangat ingin pergi dari Marko saat ini.


''Kau tau Anjani, aku sangat mencintaimu. Sungguh, aku tidak bisa melepaskan mu … ku mohon batalkan perceraian itu,'' lirih Marko dan memohon.


Anjani menggelengkan kepalanya, ia melangkah sedikit demi sedikit sampai hampir tiba didekat pintu, tapi Marko justru keburu menolehkan kepalanya.


''Berikan aku kesempatan satu kali lagi, aku mohon ….''


Tanpa menjawab dan dengan gerakan cepat akhirnya Anjani berhasil membuka pintu dan berlari keluar dari sana. Tapi apakah Marko akan diam saja? tentu saja tidak, dia mengejar Anjani dengan sangat kencang, dia benar-benar tidak mau melepaskan Anjani sampai dia berjanji akan membatalkan perceraian itu.


Hup!


Tangan besar Marko berhasil menangkap pinggang ramping Anjani. Dan berniat untuk kembali pembawa Anjani masuk ke dalam rumah.


''Tolong!! siapapun aku mohon, tolong aku!!'' Anjani menjerit sekuat tenaga, kesadarannya hampir hilang.


Daaann...

__ADS_1


Bugh!! 👊🏻💥


Aakkhhh!!


__ADS_2