
Seseorang datang dengan tiba-tiba menendang punggung Marko sehingga membuat Marko melepaskan Anjani.
Tapi beruntung, Anjani tidak sampai terjatuh karena tangan pria itu dengan sigap menarik tangan Anjani. Berbeda dengan Marko yang sudah tersungkur ditanah yang berumput itu.
''Sial!'' Marko bangun dan berbalik. Matanya memicing memperjelas penglihatannya yang berbayang.
''Cih, pahlawan,'' cibir Marko pada orang itu yang ternyata adalah Roger.
Ya malam itu Roger yang lewat tidak sengaja mendengar suara teriakan meminta tolong. Mulanya ia mengabaikan suara itu, tapi entah kenapa ia sangat ingin menolongnya. Ya sangat kebetulan juga, komplek tempat tinggal Anjani ternyata Roger juga tinggal di komplek yang sama.
Ia menghentikan sepeda motornya, lalu masuk kegerbang yang terbuka. Ia semakin yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres terjadi, ketika matanya melihat seorang pria tua yang sudah terkapar ditanah.
''Perampokan kah?'' gumam Roger yang ujung matanya tiba-tiba melihat seorang wanita berlari keluar dari rumah dengan ketakutan dan tidak lama disusul oleh seorang pria yang ternyata sedang mengejar wanita itu.
Roger melihat dari kejauhan sampai jarak pandang pun terjangkau dan dia bisa melihat jelas orang yang sedang kejar mengejar itu.
Matanya melebar, terlebih lagi melihat si wanita yang berlari dengan wajah ketakutannya.
Daan Brugh!
''Sial! Cih! mau jadi pahlawan ceritanya,'' cibir Marko Sete melihat siapa yang membuatnya terjatuh.
Roger membawa Anjani berdiri dibelakangnya. Dapat terlihat jelas kalau Anjani benar-benar sedang ketakutan, karena terlihat dari tangannya yang gemetar saat ia sentuh.
''Ada apa ini, Jani?!'' tanya Roger cemas.
''Dia, dia—'' Anjani tidak dapat meneruskan ucapannya, karena dia juga merasa malu untuk mengatakannya.
''Apa? apa aku salah meminta istriku untuk melayani ku? Dan kau! kamu tidak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga orang, mengerti?!'' jelas Marko.
Roger terdiam, ia juga sadar kalau ini bukan urusannya. Dia juga tidak mau terkena masalah karena mengurusi yang bukan ranahnya. Tetapi melihat Anjani yang ketakutan hatinya tergerak dan merasa bahwa Anjani butuh pertolongan.
''Sekarang kau pergi atau aku akan menuntutmu karena sudah ikut campur dalam urusan rumah tangga ku!''
Roger semakin ragu dia menoleh ke belakang melihat langsung wajah Anjani yang seakan memohon untuk tidak meninggalkannya. Tapi mengingat memang bukan ranahnya, Roger pun akan pergi.
Melihat Roger yang menyingkir, senyum Marko menyeringai menatap Anjani. Tapi tiba-tiba Roger malah kembali lalu menarik tangan Anjani agar kembali bersembunyi di balik tubuhnya.
__ADS_1
''Sebentar, aku akan menghubungi aparat setempat,'' ucap Roger yang langsung menempelkan ponselnya ketelinga. Dan itu membuat Marko gugup.
''A—apa yang kamu lakukan?'' tanya Marko panik.
''Kenapa? saya hanya menghubungi polisi. Karena saya melihat ada seseorang yang terluka disana.'' Roger menggedikkan kepalanya ke arah pos penjagaan. Marko mengikuti kemana Roger menatap. Keringatnya bercucuran lalu berdecak kesal.
''Brengsek!'' Marko pun berlalu pergi dari sana.
Anjani sedikit merasa tenang, sungguh ia sangat takut tadi. Roger menoleh kebelakang ingin melihat Anjani yang entah apa yang terjadi, wajah Anjani sangat pucat.
''Kamu kenapa, Jani?''
Anjani menggelengkan kepalanya seraya menjawab, ''Aku tida—'' Bruukk!! Anjani tidak dapat menyelesaikan ucapannya, matanya berkunang-kunang juga kepalanya berdenyut begitu keras dan ia pun tidak sadarkan diri dipangkuan Roger yang berhasil menangkapnya.
''Jani, ada apa denganmu?!'' tanya Roger dengan sangat khawatir.
Drrrttt Drrrrtt Drrrrtt
Roger menjawab panggilan digawainya sembari berusaha membuat Anjani tersadar.
''Hmm, ya?!''
Ya rupanya yang tadi Roger hubungi bukanlah kepolisian, tetapi Pia, adiknya sendiri.
"Datang ke jalan delima. Bantu kakak cepat!"
"Malas!"
"Anjani tidak sadarkan diri. Kakak tidak mau membuat Anjani sulit karena masuk kerumahnya. Sepertinya rumahnya tidak ada siapapun!"
"Oke, tunggu!"
Panggilan Pia pun terputus karena Pia sendiri yang memutuskannya. Ya! bisa saja Roger langsung membawa Anjani masuk, tapi mengingat mereka bukanlah muhrim dan lagipula setatus Anjani masih menjadi istri orang, dia tidak mau mengambil resiko itu. Dan kalaupun dia membawa Anjani kerumah sakit, dia juga bingung karena dia sendiri memakai sepeda motor. Memanggil taksi, hari sudah malam begini, disana sangat sulit mencari taksi. Dan jalan satu-satunya ia harus menunggu Pia datang, agar tidak terjadi kesalahpahaman nantinya.
Dua puluh menit kemudian, Pia pun datang dengan sepeda motor yang dia pinjam dari pemilik kost tempat ia tinggal. Begitu ia masuk kegerbang setelah memastikan kalau disana yang dimaksud oleh Roger. Ia melihat pria yang tidak sadarkan diri dipos penjagaan. Dan beralih kearah Roger yang menggendong seseorang yang tak lain ialah Anjani, bosnya.
''Lamban!'' omel Roger.
__ADS_1
''Sulit mencari taksi,'' balas Pia.
''Ya sudah ayo, antarkan dia kedalam.''
''Security itu?''
''Biar nanti kakak yang urus.''
Pia dan Roger pun mengantarkan Anjani masuk kerumah. Karena mereka juga sama-sama tidak tahu dimana letak kamar Anjani. Akhirnya mereka membawa Anjani kekamar yang ada dilantai satu yang ternyata kamar tamu.
Roger meletakkan tubuh Anjani dengan sangat hati-hati dan tidak lupa dengan Pia yabg ikut membantunya.
''Cari wadah isikan air dan handuk kecil!'' suruh Roger dan Pia dengan sigap melakukan apa yang Kakaknya perintahkan.
Pia kembali dengan barang yang dipinta Roger. Roger mengambil wadah itu dan me-meras harus itu lalu ditempelkan dikening Anjani. Dan Pia memperhatikan itu.
Mata Roger turun kearea leher Anjani dan dadanya yang seperti sedang kesulitan bernafas. Keringat juga bermunculan sebesar biji jagung.
Roger berdiri dari duduknya. Pia merasa bingung, apa yang terjadi pada Anjani.
''Kak! kenapa?''
''Gantikan dia baju, cari baju yang menyerap keringat. Kakak keluar sebentar.'' Roger pun berlalu pergi. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, pikirannya melayang tinggi. Seperti tidak asing dengan reaksi Anjani.
''Ayolah Roger, jangan berpikiran kotor!'' ucapnya pada dirinya sendiri.
Roger keluar rumah untuk melihat keadaan penjaga tadi, dan ternyata penjaga tadi hanya pingsan. Roger berpikir akan menghubungi ambulans, tapi seketika ia terdiam sejenak.
''Kenapa tidak dari tadi saja aku hubungi ambulans untuk Anjani, ck! bodoh!'' maki Roger pada dirinya sendiri yang entah kenapa tiba-tiba bertingkah bodoh.
Roger menghubungi ambulans dan tidak ada setengah jam, ambulan pun datang membawa tubuh penjaga itu dengan beberapa pertanyaan juga yang dilayangkan kepada Roger. Tapi Roger tidak merasa takut, ia menjawab lugas dan tegas.
''Kakak!!'' panggil Pia ketika mobil ambulans pergi dari sana.
Roger menoleh dan merasa heran karena pia melambai kearahnya dengan gerakan bibir yang memintanya segera masuk untuk melihat Anjani.
''Ck, ada apa lagi ini. Kartu pengenal ku ditahan padahal niat ku hanya membantu,'' gumam Roger.
__ADS_1
''Cepat Kaaak!'' teriak Pia lagi
''Iya bawel!'' balas Roger dengan berteriak juga.