
''Tolong!!'' teriak Pia untuk kesekian kalinya, tapi tetap saja. Mau sekeras apapun ia berteriak tidak akan ada yang datang kecuali ada yang kebetulan datang ke kamar kecil. Karena suara bising di ruang pesta lebih kencang dari teriakan Pia yang tenggelam.
Penampilan Pia sudah agak berantakan, karena dia terus berusaha mendobrak pintu tapi tetap tidak bisa karena tenaganya yang tidak cukup kuat. Rambutnya pun sudah lepek karena keringat.
''Astaga, kenapa tempat seperti ini malah fasilitasnya buruk sekali,'' keluh Pia yang sudah menyerah dan pasrah menunggu orang datang untuk buang air kecil atau sekedar memperbaiki riasan wajahnya.
Dan tidak lupa juga, Pia berusaha menghubungi Anjani tapi entah karena berada di dalam ruangan yang tertutup, sehingga signal pun tidak dapat menembus tempatnya berada.
''Astaga, ayolaaahh!!'' geram Pia.
Sementara ditempat lain, Anjani yang berada didalam lift sudah tidak tahan lagi dengan nyeri yang menyerang dikepalanya, bahkan kakinya juga tidak kuat lagi menopang bobot tubuhnya, dan ...
Brukk!
Anjani terjatuh langsung kelantai lift, dan berbarengan juga pintu lift terbuka. Dua orang pria yang sudah berada didepan lift segera membawa Anjani ke suatu ruangan disana.
''Hati-hati!'' ucap wanita yang tadi pergi bersama Anjani.
Ruangan yang begitu luas, dengan beberapa fasilitas yang sangat modern. Disanalah Anjani dibawa. Ditengah-tengah ruangan terdapat ranjang besar dengan lampu gantung di atasnya. Sungguh indah!
Dua pria itu meletakkan tubuh Anjani diatas kasur raksasa itu. Dengan gaun yang sedikit terbuka membuat bagian gaungnya tersingkap sedikit sehingga memperlihatkan paha Anjani yang begitu mulus.
__ADS_1
Mata salasatu pria itu terbelalak dan menatap dengan tatapan penuh nafsu, tapi segera disadarkan oleh temannya sendiri.
''Jangan berpikir macam-macam, karena kau bisa mati dengan cepat kalau Tuan tahu!''
''Hiisshhh! tidak bisakah kita mencicipinya sedikit,'' sesalnya, tapi segera ditarik temannya untuk keluar dari sana sebelum hawa nafsu temannya semakin memuncak.
Dan benar saja, saat mereka keluar, seorang pria sedang berbicara dengan wanita yang tadi bersama mereka. Pria itu adalah pria berambut blonde itu.
Ya! itu semua rencana pria berambut blonde itu. Dia memberikan minuman kepada Anjani yang ternyata sudah dicampur dengan sebuah ramuan perangsang tradisional yang sangat terkenal ampuhnya.
Dan dia sendiri lah owner dari ramuan tradisional itu. Hanya demi mencoba ke ampuhan khasiat dari produk yang dia luncurkan, Axel pun mencari seorang wanita untuk menjadi kelinci percobaannya.
Axel menatap tajam ke dua orang suruhannya, lalu masuk keruangan itu tanpa berkata apapun.
Axel membuka jam tangannya, lalu mengendurkan ikatan dasinya. Berjalan masuk kedalam, dan smirk nya muncul ketika melihat Anjani yang menggeliat diatas ranjang.
''Tidak salah lagi, aku memang pembuat ramuan tradisional yang sangat handal,'' pujinya pada dirinya sendiri.
Anjani menyipitkan matanya, karena kepalanya yang sakit. Ia mencoba melihat siapa yang datang kesana. Wajah samar pria lah yang dia lihat. Anjani masih berpikiran positif, iapun meminta bantuannya, ''Tolong aku, panggilkan aku dokter, sakit sekali …'' lirih Anjani.
''Dokter? hmmm, kau tidak perlu dokter girl. Kau hanya perlu sentuhan tangan ajaib ku!''
__ADS_1
Anjani tersentak, ia baru menyadari niat dari Axel. Pria yang tidak ia kenal. Dan Anjani juga langsung mengenalnya dari suara Axel.
''Kau pria itu?''
''Hmm, kau langsung mengenali ku hanya dengan suara ku kah?'' Axel semakin berani, ia membelai pipi Anjani yang basah dengan keringat.
Bukan melawan atau menghindar, justru Anjani men-desah yang membuat Axel semakin menyeringai.
''Good girl!'' Axel melepaskan dasinya lalu membuka satu persatu kancingnya. Terpampang lah sebuah lukisan yang begitu indah dari bentuk tubuh Axel yang kotak-kotak. Anjani bukan gadis yang polos melainkan perempuan yang berpengalaman, tentu saja tergoda melihat bentuk tubuh Axel yang sengaja dipamerkan itu.
Li-bido Anjani pun semakin tinggi, dadanya bergemuruh dengan kuat, matanya menatap sayu pada dada Axel yang terbentuk indah itu.
''Kenapa? apa kau ingin menyentuhnya, sayang?'' tanya Axel menggoda, tapi siapa sangka justru Anjani mengangguk begitu saja tanpa sadar.
Axel tertawa mengejek, lalu naik keranjang dan merangkak untuk menghampiri Anjani. Axel mengukung Anjani dibawah tubuhnya, tangannya bertumpu disisi kedua lengan Anjani. Mata mereka bertemu cukup lama, dan Axel pun melirik kearah belahan kerah baju Anjani yang berbentuk 'V'.
Axel meraih tangan Anjani lalu menuntunnya untuk menyentuh dadanya yang besar. ''Bagaimana? kau suka?'' tanya Axel dan Anjani lagi-lagi mengangguk dengan masih tangannya yang berada di dada Axel.
Melihat Anjani yang sudah semakin terbawa suasana dan masih dibawah kuasa ramuan buatannya itu, Axel pun semakin berani mengambil tindakan lebih. Tangannya bergerak akan menurunkan resleting gaun Anjani tapi tiba-tiba...
Braaakkkkk!!!
__ADS_1