Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)

Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)
CHAPTER 10


__ADS_3

" Apa anda yakin akan menyusul beliau? Anda tahu bagaimana sifat Baginda bukan?...." Tanya Alfon dengan senyum ramah di bibirnya.


Teril terdiam sejenak memikirkan pertanyaan Alfon.


" Beliau pasti marah, atau mungkin memotong gaji saya lagi. " Teril berkata dengan suara tidak semangat.


" Hmmm....ya, gaji anda sudah berkurang banyak. Baginda juga sangat keras kepala akhir-akhir ini. Padahal keras kepalanya sedikit berkurang setelah beliau memotong lengan seorang menteri departemen istana. Padahal dia masih muda, sangat di sayang kan..... " Alfon mengatakan hal yang mengerikan dengan wajah cerah seolah itu sudah biasa.


" Baginda memang seperti itu. Namun bukan karena keras kepala, melainkan stress yang menumpuk. Di tambah mimpi buruknya terus menghantui beliau. " Timpa Teril.


" Saya tahu. Beliau seperti binatang pada malam-malam tertentu. Keringat yang deras keluar dari kulitnya, ringisan kesakitan, luka karena benda tajam di sekitarnya, dan borgol yang selalu beliau simpan di bawah tempat tidurnya. " Alfon dengan wajah sedih dan suara rendah.


" Entah apa yang di mimpikan Beliau, meski mimpi itu tidak datang setiap malam. Tetap saja, hati pekerja tua ini merasa sakit melihat kondisi baginda yang terlihat menderita. " Alfon yang masih dengan suara sedihnya.


" Ya, mungkin akan bagus jika kita membiarkan beliau cuti sebentar. " Teril dengan suara tenangnya, akhirnya menyerah atas kepulangan Leon.


" Tapi.....Kita tidak tahu kapan malam itu akan tiba lagi. Saya takut, beliau mengalami mimpi buruknya diluar istana. " Teril serius.


" Kita hanya perlu berharap. Semoga tidak akan terjadi apa-apa lagi. " Ucap Alfon.


...----------------...


Kembali ke Hutan Alika.


Sore hari ketika awan mulai berubah menjadi setengah gelap. Saat itu dokter istana melakukan pemeriksaan ulang terhadap kondisi Leon.


Sebelumnya dia juga melakukan pemeriksaan untuk Leon. Namun, hal itu tidak cukup puas bagi sang dokter.


Bukan karena tidak puas bahwa Leon sembuh begitu saja tanpa di berikan obat atau apapun yang berhubungan dengan pengobatan.


Sang dokter tidak puas karena penasaran dengan apa yang terjadi pada Leon. Sehingga Leon bisa sembuh hanya dengan menutup mata sebentar.


Dalam tenda Leon.


" Bagaimana? " Tanya Leon.


" Semuanya sempurna Baginda. " Jawab dokter yang baru selesai memeriksa Leon.


Dokter istana sudah selesai melakukan pemeriksaan ulang pada tubuh Leon, tentu saja tidak ada masalah apapun.


" Baginda, maafkan saya karena melakukan pemeriksaan ulang. Saya cukup terkejut karena anda sembuh tanpa melakukan pengobatan apapun. " Cara bicara yang lembut dan sopan, dia adalah dokter istana.


Namanya Kenzo Talula, berasal dari keluarga Count Talula, dia anak pertama dari pasangan Count, dan Countess. Penampilannya di gambarkan lebih muda, warna rambut nya pirang, dan matanya biru redup.



" Hobimu sekarang jadi semakin aneh Ken, kau tidak puas dengan apa? Aku sudah sehat seperti yang kau lihat. " Leon yang sedang memeriksa surat di tangannya dia menanggapi Kenzo.

__ADS_1


" Maaf Baginda saya tahu, dan saya sangat senang anda sehat tanpa harus melakukan pengobatan. Tapi saya sangat penasaran, jadi saya mohon jawab pertanyaan saya meski hanya satu. " Ucap Kenzo dengan permohonannya.


" Terserah kau. Lakukan apa mau mu. " Jawab Leon ketus.


| Kenapa lagi dengan pria itu? Kenap dia penasaran? | Kaluna yang pura-pura tidur, dia mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


" Sebenarnya, apa yang terjadi saat itu baginda? " Tanya Kenzo serius.


" ...... " Leon diam sementara.


Leon pun berdiri dari duduknya, dan menjawab pertanyaan Kenzo.


" Aku jatuh karena longsor yang tiba-tiba, lalu aku terbentur dan tidak sadarkan diri. Tapi selama aku tidur, aku yakin merasakan kehangatan walaupun hujan mengguyur tubuhku. " Jawab Leon dengan wajah bingung serius.


" Setelah aku bangun, yang ku lihat hanya tanah, dua kesatria Lotus dan Qisar, lalu.....


" Kyu...." Leon memanggil nama kucing yang baru dia buat sendiri.


" Kyu?...." Kenzo memiringkan kapalanya.


" Ya, lihat. Kucing yang gendut itu...." Tunjuk Leon pada buntalan berbulu hitam, yang tidak lain Kaluna.


Kenzo menatap kucing Kaluna, dia pun memasang ekspresi bingung.


" Mmmm...Apa hubungannya dengan kucing ini Baginda? " Tanya Kenzo.


" B-baik baginda. Saya mengerti. " Kenzo sedikit gentar, karena teguran yang tiba-tiba.


| Memang ada apa dengan kucing hitam yang terlihat imut itu? | Kenzo bertanya-tanya dalam batinya.


| Ternyata dia bersungguh-sungguh tentang nama ku. Aku cukup terharu....Tapi, bisa di ganti tidak namanya? Kyu itu terlalu menggelikan, aku tidak suka..... | Batin Kaluna yang sedari tadi mendengarkan kedua pria di sekitarnya.


" Kau ingin tahu apa hubungan Kyu dengan ku? " Tanya Leon.


" Benar baginda. " Jawab Kenzo.


" Entahlah, itu masih belum aku simpulkan. Tapi yang jelas, Kyu ku akan menjadi bulu pena ku. Benar begitu, Kyu? " Leon dengan senyum liciknya menatap Kucing kaluna.


Tentu saja Kaluna diam dan mendengus sedikit.


| Aku tarik perasaan terharu ku tadi. Pria ini memang keturunan Clein. Kapan mereka akan membebaskanku, aku pengap terus berada di dekat pria itu (Leon), selain itu di sini tidak bisa tidur. Mereka berisik! | Batin Kaluna kesal.


" Keluar lah, dan bilang pada Lotus dan Qisar. Kita akan pulang ke istana malam ini. Jadi, bersiap-siaplah. " Perintah Leon pada Kenzo.


" Saya mengerti baginda. Kalau begitu saya permisi. Semoga kejayaan selalu dalam genggaman anda. " Ucap Kenzo seraya pergi.


...----------------...

__ADS_1


Malam Hari.


" Baginda, persiapan sudah selesai. Apa anda yakin akan pulang tanpa berburu? " Tanya Qisar.


Karena pemberitahuan dari Kenzo tadi sore, mereka pun segera bersiap tanpa pertanyaan apapun.


" Yahh...Walau cuma sebentar tidak sesuai dengan cuti yang aku jadwal kan. Ini tidaklah buruk. " Jawab Leon.


" Padahal anda menginginkan rubah sebagai bulu pena. Tapi malah jadi seperti ini. " Ucap Qisar.


" Apa anda mau saya carikan rubah di rumah lelang? " Tanya Lotus datar.


" Tidak perlu, aku sudah puas hanya dengan Kyu, dia akan ku bawa ke istana. " Ucap Leon dengan wajah sumringah.


" Anda membawa Kyu? Apa anda yakin? Teril alergi bulu kucing Baginda..." Ucap Qisar.


" Dia paling hanya akan bersin-bersin. " Jawab Leon seraya masuk ke dalam tendanya lagi.


" Baginda memang kejam, ya. " Ucap Qisar.


" Tidak, itu bukan kejam melainkan perhatian. Baginda mungkin ingin Teril terbiasa dengan bulu kucing, agar dia tidak alergi. " Jawab Lotus datar.


" Hmmmm, baginda baik. " Qisar menanggapi dengan anggukan ringan.


Leon yang masuk ke dalam tenda, dia menghampiri Kaluna yang masih terbaring meringkuk, tanpa adanya kewaspadaan.


" ...Apa kucing biasanya seperti ini. " Gumam Leon.


" Apa kau babi? Kenapa kau hanya tidur meringkuk seperti itu? "


| Diam! Atau nanti ku cabik! | Kaluna yang sadar setelah mendengar kata babi merasa terganggu.


" Meong! " Kaluna turun dari ranjang.


" Mau kemana Kyu? Sebentar lagi kita akan pulang ke istana. " Ucap Leon, seraya berjalan mengikuti Kaluna.


| Tidak! Aku tidak mau ikut bersamamu ke istana. Aku ingin pergi! | Batin Kaluna, dia berlari kencang layaknya kucing.


" Kyu...! " Leon pun ikut berlari mengejar Kaluna.


Kaluna dengan lincah mencari celah kecil agar bisa lepas dari Leon.


Cepat, sangat cepat Kaluna berlari, para kesatria yang juga melihat Kaluna berlari kabur, mereka awalnya diam saja.


Tapi setelah Leon berteriak memberi perintah mereka pun ikut mengejar kucing Kaluna.


" Apa yang kalian lihat! Cepat kejar..! " Teria Leon yang sambil berlari mengejar Kaluna.

__ADS_1


" Baik Baginda! " Teriak kesatria ikut berlari.


__ADS_2