
Halaman istana kerajaan.
" Ahh....tenang sekali. " Gumam Leon.
" Istana memang nyaman tanpa andanya serangga, dan beberapa lalat pengintai. " Sekali lagi Leon bergumam sambil menghirup udara segar di halaman kesayangannya.
Leon yang sedang berjalan bersama kedua penjaganya di belakang, tidak sadar bahwa Teril dari belakang mengejarnya dan memanggilnya.
" Baginda!!....
" Baginda!!....
" ....Kenapa beliau tidak mau menoleh. " Ucap Teril dari belakang terus memanggil Leon.
| Pasti itu ajudanku yang seperti burung. | Pikir Leon, dia jelas mendengar teriakan Teril dari belakang, tapi dia tidak mau menoleh.
" Haaahh...lelahnya. Tunggu sebentar Baginda, saya mohon. " Teril hampir sampai kepada Leon.
" Ada apa?! Kenapa kau mengganggu hari santaiku! " Tegur Leon, dia berbalik dan berteriak.
| Tidak yang mulia, ini bukan hari santai. Anda bahkan harus mau bertemu dengan banyak orang. | Batin Teril, sebelum menyampaikan langsung kepada Leon.
" Bicara! " Bentak Leon.
" Sepertinya anda tidak bisa berburu ke Alika, karena.....
" Kau berani menahanku! " Sebelum ucapan Teril selesai, Leon sudah menyambarnya keras.
" Tidak Baginda, bagaimana mungkin saya berani. Saya selalu patuh, meski kadang saya memang selalu cerewet. " Ucap Teril menyedihkan.
" Beri alasan yang jelas, agar aku tidak naik darah. " Ucap Leon seraya mengibaskan rambutnya kesal.
" Dulu anda belajar mengenai sejarah kerajaan, pasti anda tahu mengenai penyihir agung serta pemilik kekuatan suci Kaluna? " Tanya Teril.
" Mana mungkin aku tidak tahu, dia penyihir jahat yang sudah menghancurkan kerajaan ini. Memang apa kaitannya? " Tanya Leon serius.
" Setelah anda pergi meninggalkan saya tadi, seorang tamu tiba-tiba datang. Tadinya saya ingin memanggil anda, tapi...anda tahukan kenapa? " Tanya Teril.
" ...Ck, aku melarangmu memanggilku jika itu bukan hal yang serius." Ucap Leon.
" Itu benar, ku pikir ini bukan hal serius, ternyata ini hal yang serius. Tamu itu adalah pendeta tinggi yang melayani dewa. Dia bilang buku suci mengenai Kaluna tiba-tiba di temukan di dekat patung dewa. " Jelas Teril menjelaskan.
" Lalu? Bukannya buku itu bertebaran di mana-mana, makannya rakyatku sangat membenci Kaluna. " Reaksi Leon biasa saja.
Dia pikir buku yang ditemukan hanya buku biasa, yang menceritakan bagaimana kekejaman Kaluna di masa lalu.
" Mengenai itu, lebih baik anda segera menghadiri pertemuan dengan pendeta dan beberapa petinggi istana. Mereka sudah ada di ruang rapat. " Ucap Teril.
" Apa?! Kenapa tiba-tiba ada rapat! " Tanya Leon kaget.
__ADS_1
" Untuk apa rapat di adakan? " Tanya Leon.
" Itu....
" Para pendeta, dan petinggi bangsawan bersikukuh ingin mengadakan rapat dengan anda...
" Itu karena anda sulit untuk di temui, mereka frustasi, lagi pula rapat ini untuk membahas buku yang tiba-tiba muncul dari patung dewa. " Ucap Teril.
" Hanya karena itu mereka mau mengacaukan hariku. Mau mati! " Ucap Leon kesal.
" Ayo pergi! Bangsawan mana yang mau ku tebas duluan kepalanya, aku mau melihatnya. " Ucap Leon seraya pergi dengan wajah marah.
| Haaah, nanti anda akan tahu kenapa rapat ini di adakan tiba-tiba. | Batin Teril.
...----------------...
Ruang Rapat.
Para bangsawan dan pendeta sudah duduk di kursi, mereka menunggu kedatangan Leon. Mereka pun membicarakan mengenai buku yang di temukan di kuil dewa.
" Saya sudah membaca bukunya. Tapi, ada kemungkinan buku itu hanya tulisan orang lain. " Ucap salah satu bangsawan bergelar Count.
" Tidak, itu bukan tulisan orang lain. Buku itu keluar begitu saja dari patung dewa. Dulu ada ramalan yang turun dari kuil. Ramalan itu adalah....
" Kelanjutan dari kisahnya belum selesai, benda itu akan muncul ketika dia menginjakkan kaki lagi di sini. "
Jelas dia adalah pendeta atau utusan Kuil.
" Saya pun pernah mendengar ramalan itu. Apa benar setelah buku itu di temukan, ramalan yang muncul di batu kuil hilang? " Tanya bangsawan bergelar Baron.
" Benar. Itu artinya ramalan itu sudah terwujud. " Jawab pendeta.
" Berarti buku kelanjutan penyihir Agung Kaluna benar adanya. Selama ini kita mengira Penyihir agung kaluna adalah penyihir yang paling jahat, ternyata dia hanya terjerumus cinta yang kejam. Dia menghabiskan kekuatan sucinya untuk mengembalikan keadaan, belum lagi dia menerima kutukan. Tidak seharusnya kita membenci dirinya. Walau bagaimana pun dia sudah menebus dosanya. " Pendapat bangsawan bergelar Marquess.
" Ada satu titah dewa, ini bukan hanya ramalan. " Ucap Pendeta.
" Apa itu? " Tanya para bangsawan.
" Baginda Raja saat ini harus mencari penyihir Kaluna. Dia satu-satunya pemilik kekuatan suci, selain dia tidak ada yang memilikinya. " Ucap Pedeta.
" Tapi-
' Brak! ' Sebelum obrolan selesai, pintu ruang rapat terbuka kasar.
" Yang mulia baginda raja tiba! " Teriak penjaga.
Para bangsawan berdiri dengan wajah kaget, dan tubuh gemetar, ketika Leon memasuki ruangan dengan aura dingin, dan tatapan yang kurang menyenangkan.
" Berani nya kalian memaksa ku untuk mengadakan rapat! Apa kalian bosan hidup?! " Teriak Leon dengan tatapan galak.
__ADS_1
" Baginda, jangan emosi. " Bisik Teril.
" Diam! " Tegur Leon.
" Maafkan kami baginda, ini kondisi yang sangat mendesak. Tolong dengarkan kami, ini semua demi kerajaan dan kelangsungan di masa depan. " Ucap bangsawan bergelar Duke.
" Jika rapat ini tidak penting, kalian semua harus siap mengorbankan kepala kalian masing-masing! " Ancam Leon, dia pun terpaksa duduk di kursi utama khusus untuknya.
Para bangsawan hanya pasrah, mereka pun ikut duduk setelah Leon duduk.
" Katakan cepat! " Titah Leon galak.
" Buku kelanjutan Kaluna sudah muncul, baginda. Para rakyat juga bersorak dan tidak lagi membenci Kaluna. Mereka menginginkan Kaluna kembali, saya harap anda dapat mencari keberadaan penyihir agung Kaluna. " Ucap Pendeta.
" Hanya karena buku dan penyihir, kalian sampai seperti ini. " Ucap Leon.
" Ini bukan hanya karena itu baginda, kita semua mungkin tidak akan hidup jika bukan karena Penyihir agung Kaluna, dan dewa. Selama ratusan tahun, rakyat kita sudah salah menilai Kaluna. Saya mohon baginda. " Pendeta itu memohon kepada Leon.
" Memang apa yang akan dilakukan jika penyihir itu ditemukan, lagi pula sudah berapa ratus tahun terlewat. Dia pasti sudah terkubur di dalam tanah, dan jadi tulang belulang. " Ucap Leon.
" Tidak baginda. Dalam buku yang di temukan, karena kutukannya dia menjadi berumur panjang. " Ucap bangsawan bergelar Baron.
" Dari tadi buku itu yang terus di bawa-bawa. Perlihatkan kepadaku buku itu sekarang! " Tegas Leon.
" Baik baginda. " Ucap Pendeta.
Pendeta itu mengeluarkan buku tersebut, dan memberikannya.
" Ambil buku itu Teril. " Perintah Leon dengan lirik mata sinis.
" Baik Baginda. " Jawab Teril sambil memejamkan matanya sebentar.
Teril mengambil buku itu, dan memberikannya kepada Leon. Buku yang sudah ada di tangannya dengan segera dia membukanya.
" .....Kaluna...." Gumam Leon yang baru membaca halaman pertama.
Baru membuka buku itu, Leon menutupnya kembali dan dia menyimpannya di sampingnya.
Para bangsawan, pendeta, dan juga Teril terdiam dengan wajah bertanya-tanya.
| Kenapa beliau tidak membaca nya? Apa ada yang salah? | Teril dalam batinnya bertanya-tanya.
" ...Ada apa baginda? " Tanya Pendeta.
" Tidak nyaman membaca di sini. Terlalu berisik. " Jawab Leon, dia berdiri dari duduknya dengan buku yang dia genggam, lalu dia berbicara lagi.
" Tunggu di sini, aku ingin meresapi buku ini diruangan yang berbeda dengan beberapa cemilan, dan secangkir teh hangat. " Ucap Leon dengan mata yang acuh.
| Astaga! Baginda...anda benar-benar keterlaluan. Sekelas Duke dan pendeta tinggi, anda menyuruh mereka untuk menunggu? Sementara anda asik membaca buku dengan beberapa cemilan, dan secangkir teh? Kebiasaannya memang tidak pernah hilang. | Batin Teril.
...----------------...
__ADS_1
BERSAMBUNG