Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)

Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)
CHAPTER 5


__ADS_3

Setelah beberapa kali kucing itu mengeluarkan suara, hewan itu pun terdiam menatap Leon yang terbaring tidak sadarkan diri.


Setelah beberapa saat berlalu, hewan itu pun membuat suara lagi.


" Meong..." Dengan tatapan dingin, kucing itu pun naik ke atas tubuh Leon.


Hewan itu duduk di atas Leon, seraya menatap wajah Leon lekat seperti dia mengatakan sesuatu dengan mulutnya. Belum lama kucing hitam itu menatap Leon, hewan itu menutup matanya aneh.


Setelah mata kucing itu menutup, tiba-tiba sesuatu yang tidak terduga keluar. Seluruh tubuh kucing itu mengeluarkan cahaya biru yang murni.


" Kenapa pula ada manusia di sini? " Mulut kucing itu mengeluarkan suara, lebih tepatnya bahasa manusia, bukan Eongan kucing semata.


Tidak ada kucing yang bisa bicara, numan kucing hitam satu ini berbeda.


" Ahh, akhirnya aku bisa mengeluarkan suara asliku. Apa anda sudah melonggarkan kutukannya? " Tanya kucing hitam itu entah kepada siapa.


| Lebih baik, aku turun dulu dari tubuh pria ini. | Batin sang kucing.


Dia meloncat dengan kakinya yang kecil, dan mendarat di tanah dengan ekor mengibas.


" Meooonng! " Suaranya kembali ke setelan semula.


Kucing itu terlihat kaget dengan perubahan suaranya.


| Apa ini? Kenapa suaraku kembali mengeong? | Batin sang kucing bertanya-tanya.


" Eongg? " Sekali lagi hewan itu memastikan suaranya.


| Sialan!! Kenapa bisa kembali lagi! Ini penghinaan bagiku!! Dewa, apa kau sengaja mempermainkanku?! | Kucing itu terus berbicara dalam batinnya.


| Ini mengingatkanku akan masa laluku, Dewa memang pembohong. | Batin kucing itu marah.


...----------------...


Biar aku ceritakan sedikit kisah yang menyedihkan, dan malang yang selalu aku dengar setelah aku memberanikan diri untuk kembali ke tempat ini.


Di suatu rumah yang besar, di ibu kota kerajaan....(Eughh, aku tidak mau menyebut nama kerajaan ini, kita singkat saja menjadi kerajaan S.)


Di ibu kota kerajaan S, rumah besar itu adalah satu-satunya rumah yang memiliki persediaan makanan paling banyak.


Singkat cerita, aku pun datang dan masuk lewat jalan kelinci....( Emmm jelas untuk mencuri makanan. Mau bagaimana lagi, aku seekor kucing liar saat ini, untuk bertahan hidup, aku harus mencuri. )


Setelah masuk lewat jalan kelinci, aku pun menyelinap pergi ke dapur, dan mencuri makanan.


Karena tidak kuat membawa makanan keluar dari dapur, aku pun menyeretnya menggunakan mulutku ke tempat tersembunyi yang ada di dapur ini.


Aku makan, dan beberapa orang datang.

__ADS_1


" Kau dengar tuan muda belajar tentang sejarah kerajaan Samantha? " Ya, para pelayan sedang bergosip tentang Tuan muda mereka.


" Ya, aku dengar katanya tuan muda merasa kasihan kepada penyihir agung yang di ceritakan dalam sejarah itu. Siapa namanya? " Lagi-lagi sejarah kerajaan, yang mereka gosipkan, telingaku sudah muak.


" Kaluna, penyihir itu bukan. " Nama yang seharunya sudah hilang ternyata masih terdengar.


" Ya, itu namanya. Tuan muda di tegur oleh guru pengajar karena merasa kasihan kepada penyihir itu. " Hanya karena mengasihani penyihir dalam buku sejarah, anak itu harus menerima teguran, ada-ada saja.


" Itu hal yang wajar, penyihir itu memang seharusnya tidak di beri belas kasihan, dia sudah menghancurkan kerajaan ini. Aku bersyukur dalam cerita dia dikutuk. Kenapa dia tidak di bakar saja ditiang eksekusi? " Apa itu yang kalian tahu, bisa bisanya buku seperti itu di jadikan sebagai buku sejarah.


Sudah menerima kutukan, kalian juga ingin membakarnya. Keterlaluan sekali.


" Kutukan apa yang dia dapatkan? tidak diceritakan apa yang terjadi setelah dia dikutuk. " Pelayan-pelayan itu bertanya kutukan apa yang penyihir itu terima.


" Mungkin dia di kutuk menjadi batu? Wanita tua yang tidak bisa mati? Wanita buruk rupa yang akhirnya mati? Atau hewan yang jelek. " Para pelayan itu menebak, kutukan apa yang di terima oleh penyihir Kaluna.


Kalian ingin tahu kutukan apa yang di terima oleh penyihir yang kalian bicarakan?


Jawabannya adalah hewan, dan itu adalah seekor kucing hitam. Selain itu, orang yang kalian bicarakan adalah aku.


Kucing hitam yang saat ini sedang makan hasil curiannya. Rasanya aku ingin mengatakan itu tapi mulutku hanya bisa mengeong saja.


" Meongg.... " Tanpa sadar aku pun mengeong di tengah pembicaraan para pelayan.


" Kucing!...Usir dia sekarang! " Nona-nona, tolong jangan berteriak, aku tahu aku kucing.


Mereka mengejarku, dan aku berlari kesana kemari dengan empat kakiku. Tentu saja, mengetahui ada kucing di dapur. Mereka langsung memukulku, dan mengusirku dengan kasar.


Baiklah, kisahnya sudah berakhir.


Yah, kalian benar. Kisah yang malang, dan menyedihkan adalah kisahku sendiri.


Sebagai Kaluna sang penyihir agung, sekaligus pemilik kekuatan suci. Aku menerima kutukan sebagai kucing hitam yang jelek karena kecerobohan ku.


Saat aku dinyatakan di kutuk, awalnya tidak ada perasaan apapun seperti tidak terima, atau pemberontakan lainnya.


Aku menerimanya dengan lapang dada, karena aku salah. Tapi, setelah kutukan itu menimpa, aku benar-benar frustasi, dan aku terus mengumpat dewa.


Bagaimana mungkin kutukan yang aku terima adalah kutukan hewan. Tidak masalah jika itu singa, macan, rubah, harimau, atau hewan buas yang hebat lainnya.


Ini....Seekor kucing..dan bulunya bukan putih, melainkan hitam. Tanda kesialan sepertinya sudah melekat pada ku sejak lahir. Dalam wujud kucing pun aku menerima kesialan.


Karena aku terus mengumpat. Dewa pun akhirnya mengatakan jika dia akan mengubah wujudku lagi menjadi kodok.


[ Kaluna, kau tidak mau wujud kucingmu ini bukan. Bagaimana, jika di ganti menjadi kodok hijau? ] Seperti itulah yang dia katakan.


Membayangkan nya saja sudah membuat jati diriku menangis.

__ADS_1


Jelas sekali aku menolak mentah-mentah. Pada akhirnya aku pun menerima wujudku, meskipun kadang masih mengeluh.


Dewa itu bahkan berbohong, dia bilang kekuatanku akan ada sedikit, tapi nyatanya kekuatanku tidak tersisa.


Butuh waktu yang lama untuk mengembalikannya. Setelah mendapat kutukan aku pergi dari kerajaan S, dan hidup di kerajaan Tortila selama seratus tahun.


Bosan? Tentu saja. Dan aku berharap bisa mati. Tapi, aku tidak bisa mati dengan mudah, sebelum kutukan ini hilang.


Aku pun kembali ke kerajaan S, dan menetap di hutan Alika untuk memurnikan kekuatanku. Saat ini, tepat di depanku.


Aku menggunakan kekuatan suciku untuk pria yang baru aku temukan. Perasaan ini seperti Dejavu.


Clein, saat itu pun aku menolongnya seperti ini. Aku lemah dengan wajah tampan.


...----------------...


Jadi, kucing hitam itu adalah Kaluna.



Kaluna mendapat kutukan hewan, dia di kutuk menjadi kucing hitam.


| Aneh, kenapa aku bisa bicara, tapi sekarang tidak? | Kaluna bertanya-tanya.


" Gerrrrr! Meoong?!" | Bicara?! | Kaluna berbicara dengan suara kucingnya.


| Cepat katakan apa yang terjadi! | Dalam batinnya dia bertanya pada seseorang.


Kaluna hanya bisa mengeluarkan suara kucing, meskipun dalam batinnya dia berbicara bahasa manusia.


[ Kaluna, itu adalah awal. Kau bisa berbicara menggunakan bahasa manusia, sedikit demi sedikit. ] Tiba-tiba suara ilahi terdengar.


Tapi, hanya Kaluna yang bisa mendengarnya, itu adalah suara dewa yang selalu menemaninya selama ini.


| Jadi seperti itu, waktu itu pun aku sempat bisa bicara walau hanya satu kata. Apa caranya? | Tanya Kaluna.


[ Gunakan kekuatan mu dengan benar. Seperti yang kau lakukan sekarang. ] Dewa tanpa wujud itu menjawab pertanyaan Kaluna.


" Meong..." | Aku tidak mau.| Kaluna bergumam dengan suara kucingnya.


" Meong, meong...." | Itu sama saja seperti dulu. | Ucap Kaluna dengan suara kucing.


[ Itu terserah padamu. ] Dewa itu menjawab lagi.


" Meo.." | Ya...| Ucap Kaluna.


| Seharunya dia sudah baik-baik saja. Lebih baik aku pergi dari sini. | Batin Kaluna yang terus menatap Leon.

__ADS_1


...----------------...


BERSAMBUNG..........


__ADS_2