
Sebelum aku melangkahkan kaki, tanganku di pegang erat, dan kasar. Sontak aku menatap pria yang memegangi tanganku.
" Apa yang anda inginkan tuan?.." Tanyaku sedikit kesal.
" Tunggu dulu nona, kamu tidak boleh ada di sini. " Ekspresinya curiga dan waspada, berbeda dengan ekspresi saat dia menatapku dalam wujud kucing.
Ya, itu hal yang wajar.
Dengan pelan aku bertanya alasan dia melarang ku berada di sini.
" Kenapa saya tidak boleh ada di sini? " Tanyaku.
" Kamu hanya akan mengganggu..." Dengan suaranya yang pelan namun menusuk, dia menjawab pertanyaan ku.
|Dia menghalangiku hanya karena itu? Sungguh raja yang bijaksana.... Benarkah?| Pikirku.
Mataku naik ke atas menatap wajah Leon, begitu pula Leon.
Kami saling bertatapan, dari mataku Leon terlihat membuat wajah mengejek, alisnya naik ke atas, matanya sedikit membulat, dan bibirnya menyeringai, seperti itulah wajah yang di lihat olehku.
" Tuan, bisakah anda menyingkir, dan lepaskan lengan saya. " Ucapku yang sudah cukup bersabar.
" Apa anda tidak punya urusan lain selain mengikuti saya seperti ini? " Aku sekali lagi berbicara.
Di tempat itu banyak orang, mereka sibuk kesana kemari membawa obat, dan hal yang di butuhkan, karena nada bicaraku yang nyaring mereka mulai memperhatikan kami berdua
" Pelayan? Nona? Atau.....saya harus memanggil anda Lady? " Tanya Leon tidak tertarik.
" Terserah, jika anda tahu siapa saya. Mungkin anda akan bertekuk lutut di sini. " Karena emosi sesaat aku sampai mengatakan itu.
Leon hanya tersenyum sinis.
" Memang siapa, Lady? Majikan, kamu bilang aku majikanmu? Tanyanya nakal.
" Siapa pun itu, apa urusannya dengan anda? " Aku bertanya dengan nada menantang.
" Sekarang minggir lah! " Aku dengan kasar mendorong dada Leon, tapi tanganku masih berada dalam genggamannya.
Leon dengan erat memegang lenganku. Aku memasang wajah tidak suka.
" Apa urusannya? Tentu ada...
" Lady, anda bukan pelayan saya. Saya tidak punya pelayan seperti anda. " Dia berkata dengan tatap sinis menusuk.
" Anda berasal dari kerajaan mana? Apa anda tidak tahu siapa saya? " Tanya Leon dengan wajah angkuh sekali lagi.
| Mana mungkin aku tidak tahu. Aku di sini bukan untuk bermain denganmu. Tolong biarkan aku membantu pasien yang terkena wabah. | Batin ku.
" Saya tahu, bagaimana mungkin saya tidak tahu. " Jawabku.
" Lalu sikap apa yang terus di perlihatkan kepadaku sejak tadi? " Tanya Leon.
" Saya ingin membantu pasien, tolong mengertilah. " Alih-alih menjawab aku malah meminta mengalah, dan meminta pengertian Leon.
Leon menatapku dari atas sampai bawah, seperti detektif.
" Dengan pakaian hitam yang kau kenakan? dengan perhiasan yang kau kenakan? Terutama wajah itu, dan bibir merah itu? Apa Lady sungguh-sungguh akan membantu? " Leon dengan suara yang meremehkanku.
" Ada apa? " Tanyaku.
__ADS_1
" Lady bukan mau mengobati pasien, kau mau ke pesta. Tentu saja tidak dengan jubah hitam yang kau kenakan. " Ucap Leon.
| Apa sih yang dia katakan? | Semakin aku dengar, semakin aku bosan.
" Lady pencuri bukan pelayan ataupun pendeta. " Pria itu berkata dengan wajah tegas, dan dingin.
Sepertinya darahku mulai mendidih karena pria ini. Tapi ketika aku mengingat wajahnya murung waktu itu, amarahku mulai mereda lagi.
| Kenapa aku lemah dengan wajah murung pria ini?!! Ughhh.....! Ini menggangguku.| Batinku tidak terima.
Saat kami berdebat, tiba-tiba sekelompok prajurit menghampiri kami.
" Salam baginda. " Mereka bertekuk lutut dan memberi hormat pada pria yang terus berdebat denganku.
" Kebetulan kalian datang. Cepat bawa wanita mencurigakan ini! " Dia langsung memberi perintah kepada prajuritnya.
" Anda benar-benar ingin mencoba mantra saya? " Ucapku tidak bisa menahan diri.
" Omong kosong apalagi yang kau katakan! " Tegasnya.
Karena aku sudah cukup menahan diri, akhirnya aku mulai menutup mata dan membaca mantra.
" Apa yang kau lakukan? " Pria itu bertanya, dia mungkin bertanya-tanya kenapa aku menutup mata dan berkomat kamit.
Aku mulai mengarahkan tangan kiriku ke kepalannya, cahaya merah berisi simbol-simbol mantra pun terlihat.
| Aku akan membuatmu patuh kepadaku, dengan mantra ini. | Batinku.
" ...... " Setelah di beri mantra, pria itu diam dengan mata sinis dan acuh.
" Sekarang lepaskan tanganmu. " Perintah pertamaku.
Kenapa? Kenapa mantranya tidak berhasil? Aku jelas melihat sihirku berjalan mulus, tapi pria ini tidak terpengaruh.
Aku bertanya-tanya panik, saat aku bingung suara dewa tikus itu terdengar.
[ Hais....Kaluna sihir jahat tidak akan berguna untuk pria itu, kau hanya bisa menggunakan kekuatan suci penyembuh dan sihir perlindungan. ] Itulah yang dia bicarakan.
" Apa.....?!! " Aku bergumam dengan tangan mengepal kesal.
| Dimana anda?| Tanyaku.
Tapi tidak ada jawaban, rasanya aku marah sekali sampai ingin membelah gunung menjadi empat bagian.
" Cepat bawa dia! " Pria itu memerintah lagi.
" Ha...hahah. Tidak berguna! " Aku meludah kesal dengan sedikit tawa terkekeh.
" Pasien! Pasien semakin banyak! " Teriakan dari luar terdengar nyaring dan memekik telingaku.
Kericuhan mulai terdengar, kami semua menatap ke arah suara itu. Suara itu berasal dari pintu masuk ruang perawatan.
" Cepat bawa mereka! Jangan lupa gunakan perlengkapan anti wabah! " Teriakan pendeta.
" Ayo bawa mereka! "
" Panggil pendeta lagi! "
" Baginda?!...."
__ADS_1
Ricuh, dan berisik. Mereka membawa banyak pasien yang terkena wabah. Kulit mereka melepuh, dan wajah mereka buruk untuk di lihat.
Suara tangisan dan ringisan terdengar dan memekik di ruangan yang terbilang cukup besar. Hawa panas dan bau busuk, tercium dan terasa.
" Lepaskan aku! " Dengan kasar aku menepis tangan pria yang memegangku longgar.
Saat tanganku terlepas wajah pria itu sangat kecewa dan bingung. Aku pergi, ke arah para pasien yang membutuhkan.
" Baginda kita harus kembali, anda tidak boleh berlama-lama di sini! " Perlahan aku mendengar teriakan seseorang, aku tahu itu adalah Teril.
Aku tidak peduli, aku masuk ke ruangan tempat para pasien itu berada, dan segera melakukan pensucian, dengan kekuatan suciku.
...----------------...
Suasana di ruang perawatan cukup mengerikan. Para pasien bertambah banyak, dan pendeta yang di kirim oleh Leon kewalahan.
" Baginda, mari! " Teril yang membujuk Leon untuk pergi dari ruangan itu.
" Tidak, aku harus mengikuti wanita itu." Tolak Leon.
Dia pun bergegas mengejar Kaluna yang masuk ke ruang di mana para pasien yang baru saja tiba berada.
Ketika dia tiba, cahaya kuning yang murni dan hangat membuat matanya silau. Tidak hanya dia, para pendeta dan seluruh pasien yang ada di ruangan itu merasakan kekuatan suci Kaluna.
" Apa ini? " Leon yang menutup setengah matanya dengan satu tangan bertanya-tanya.
" Cahaya hangat apa ini? "
" Badanku sudah tidak sakit lagi! "
" Me-mereka pulih! Mereka pulih! "
Para pendeta dan pasien mulai bertanya-tanya, mereka yang terkena wabah sembuh dalam sekejap mata.
" Wanita itu?..." Leon menyingkirkan tangannya untuk melihat Kaluna.
" Baginda, kekuatan hebat apa ini? " Teril bertanya-tanya takjub.
Dari pada itu, sekarang Leon menatap Kaluna dari ke jauhan.
" Melelahkan sekali...." Kaluna bercucuran keringat, dia dari kejauhan mendesah lelah.
" Apa dia yang membuat ini terjadi? " Leon bertanya-tanya dengan wajah tidak percaya.
Lalu, Kaluna berbalik dan menatap Leon seraya tersenyum, namun pupil matanya mulai memudar, perlahan menutup, badannya terhuyung, Leon segera berlari ke arah Kaluna yang akan jatuh kelantai.
' Tak— Leon pun menangkap tubuh mungil yang ambruk itu.
' Haaa— Leon menghela nafas lega, dia mulai menatap Kaluna dengan alis mengerut khawatir.
" Baginda, siapa wanita ini? " Tanya Teril.
Alih-alih menjawab, Leon dengan cepat mengangkat Kaluna, dan berjalan.
" Siapkan ruangan khusus yang paling mewah. " Perintah Leon yang sudah berjalan jauh di depan Teril.
" Baik, baginda. " Jawab Teril patuh.
...----------------...
__ADS_1
BERSAMBUNG......