Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)

Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)
CHAPTER 20


__ADS_3

Keesokan Harinya.



Pagi hari, Leon sudah mulai bersiap untuk pergi ke wilayah Count Hazel. Dari pada itu, Leon merasa ada yang salah dengan peliharaan nya, dengan Leon yang masih sibuk merapikan pakaiannya dia bertanya pada ajudan setianya.


" Teril apa kamu merasakan sesuatu yang aneh dari Kyuku? " Leon bertanya dengan ekspresi wajah serius.


" Saya merasakan adanya keanehan sejak kucing itu masuk ke istana. " Ajudannya Teril menjawab dengan nada tidak peduli.


Leon pun melirik ke arah Teril dingin, seolah Leon tidak begitu mengharapkan jawaban Teril.


" Tidak ada untungnya aku bertanya kepadamu, Teril. " Leon dengan suara acuhnya.


Di sisi lain, ada Butler Alfon yang menjadi penengah di antara mereka berdua saat berkelahi, Butler Alfon pun berbicara.


" Baginda, nona kucing memang sangat aneh, nona pintar tidak seperti kucing lainnya. " Alfon dengan percaya diri berbicara.


Alih-alih menjadi tenang, Leon justru bertanya dengan suara lebih dingin dari tadi.


" Nona? Sejak kapan kamu tahu dia betina? Tidak, dari pada itu bagaimana kamu tahu dia betina? " Tanya Leon tidak senang.


Alfon mulai keringat dingin, dia bergetar takut jawabannya salah. Sementara itu, Leon terus memperhatikan Butler Alfon dengan sabar menunggu jawabannya.


" Itu.....


Butler Alfon gugup, dia bingung harus menjawab apa.


Kemudian dia pun mulai menjawab dengan lancar.


" Saya dulu memelihara seekor kucing, jadi saya tahu yang mana betina dan yang mana jantan. " Jawab Alfon.


Tidak puas, Leon bertanya dengan kedua alis menurun.


" Bagaimana cara membedakan nya? " Tanya Leon terlihat sangat penasaran.


" Itu...." Alfon semakin bingung harus menjelaskan bagaimana.


| Baginda, bagaimana saya bisa menjelaskan tentang hal itu....? | Batin seorang Butler tua.


" Saya juga tidak tahu bagaimana cara membedakannya? Sulit membedakannya, mereka terlihat sama, berbeda dengan harimau atau pun singa. " Tiba-tiba Teril ikut berbicara.


" Kau tidak bisa menjelaskannya? " Tanya Leon tidak senang.


" Bukan begitu baginda. " Jawab Alfon berat.


" Hmmm? Lalu? " Leon tidak menyerah, dia ingin tahu.


" Kucing jantan memilik biji yang sama seperti yang kita punya, hanya saja sangat kecil. Sedangkan betina, jarak itu, dan itu sangat dekat, dia tidak memiliki biji yang menonjol. " Alfon dengan cepat menjelaskan.


Leon masih berpikir keras, dia pun mengangguk.


" Hmmmm, kau memperhatikan jenis kelamin Kyuku? Beraninya kau! " Leon dengan mata berkilat dingin.


" Maaf baginda, saya penasaran. Waktu itu kita bermain dengan nona kucing, para kesatria bingung nona betina atau jantan. Jadi saya memastikannya. " Jawab Alfon takut.


Leon pun menghela nafas ringan, dan berbicara.

__ADS_1


" Baiklah, jika nanti ada kucing yang mendekati Kyuku, aku bisa tahu yang mana jantan, dan mana betina. Lain kali, jangan seperti itu! " Ucap Leon tegas.


" Baginda persiapan sudah selesai. " Teril berbicara.


" Jangan lupa bawa Kyuku. Pastikan memakai sesuatu. " Perintah Leon.


" Saya mengerti baginda. " Jawab mereka berdua patuh.


...----------------...


Aku kembali ke kamarku dengan suasana hati yang buruk. Untung saja, sekarang tidak ada siapa-siapa.


Dengan tatapan kosong ke luar jendela, aku terus memurnikan kekuatan ku.


[ Nak, aku memperhatikan mu sejak tadi, sepertinya kamu sedang banyak pikiran. ] Dewa yang berubah jadi tikus itu tiba-tiba berbicara, sekarang dia tepat berada di sampingku.


" Saya sudah lama banyak pikiran, jadi anda tidak perlu bertanya. " Aku menjawab masih dengan suara kucingku.


[ Naluri kucingmu sudah mulai tenang. Ada satu hal yang ingin ku tanyakan padamu. ] Dewa itu ingin bertanya, sebenarnya apa yang ingin dia tanyakan sehingga terdengar serius.


" Apa itu? " Aku penasaran, dan bertanya.


[ Ada kutukan yang mengikat pria berambut putih itu. Aku jelas melihat itu kekuatan mu, apa kau diam-diam mengutuknya? ] Tiba-tiba dia bertanya mengenai kutukan, tentu saja aku menjawabnya.


" Tidak, tapi saya pernah berkata dengan tulus sebelum mensucikan tanah ini. " Jawabku tidak terlalu tertarik.


[ Apa yang kamu katakan? ] Tanya dewa itu.


" Saya berkata, betapa bagusnya jika raja samantha dimasa depan tidak merasakan cinta. Tapi itu bukan kutukan. " Aku menjawab tanpa peduli.


Benar sekali aku berkata seperti itu, tapi itu jelas bukan kutukan.


Dari yang ku dengar, Leon si pria itu dia memiliki cinta dari ayah dan ibunya. Berarti itu bukan kutukan.


[ Kutukan itu selang seling, ayahnya tidak menerima kutukan itu, dia yang menerimanya kali ini. Kamu ini benar-benar. ] Dewa itu terus menggerutu tidak jelas.


Karena itu, aku mulai bertanya.


" Mana saya tahu anda akan mengabulkan perkataan tulus saya. " Ucapku yang masih suara kucing.


[ Untung saja kamu ada di sisinya. Kutukan itu akan terhapus dengan sendirinya jika kamu ada di sisinya. Perlahan dia pasti akan merasakan cinta. ] Yah, sampai aku lepas dari kutukan ini, aku jelas akan berada di sini.


Saat kami berdua mengobrol dalam, tiba-tiba seseorang masuk dan berbicara dengan nada sopan.


" Nona kucing, saya akan menghias anda dan membawa anda pada baginda. " Dia adalah Leila.


Aku bertanya-tanya kenapa aku harus di rias segala, aku bukan manusia.


Leila mempersiapkan semuanya, dia membuka kotak misterius. Saat di buka ternyata isinya aksesoris untukku.


" Nona, tolong permisi sebentar. " Ucapnya sopan, dia melilitkan aksesoris di leherku. Itu hanya pita merah, dan emas di tengahnya.



Jujur saja ini sangat tidak nyaman. Kalau di pikir-pikir aku mendengar dia memanggilku nona.


Tidak buruk sih, tapi....

__ADS_1


" Meong...." Ya, aku mengeluh sedikit.


" Ayo pergi, nona. " Dia langsung mengangkat ku, sebelum aku pergi dewa itu terdengar mengatakan sesuatu yang tidak jelas.


[ Kaluna, berubah...in.....


Apa yang dia katakan? Aku bertanya-tanya tidak pasti.


...----------------...


Singkat cerita, Leon dan beberapa rombongan pergi ke wilayah Count Hazel. Mereka melakukan perjalanan selama 2 hari.


Dua hari kemudian, di wilayah Count Hazel.


Leon tiba di wilayah itu, saat kereta kuda melewati jalan-jalan di wilayah Count, para warga yang terkena wabah terlihat bertebaran di setiap sisi.


Banyak kesibukan dari para pendeta yang mengobati rakyat.


" Kita masih kekurangan pendeta! para pendeta yang menyalurkan tenaga mulai kelelahan. " Suara pendeta yang panik terdengar dari luar kereta.


" Tolong saya..


" Selamatkan saya...


Rintihan demi rintihan memekik telinga, Leon dan para bawahan nya merasa kasihan dengan rakyat di wilayah Count.


Setelah beberapa saat melewati pemukiman, Leon pun tiba di Kastil milik Count, dia di sambut dengan baik.


Sebelum keretanya berhenti, Count Hazel dan para bawahannya sudah bertekuk lutut menyambut Leon.


Kereta berhenti, pintu kereta di buka, Leon dengan kucing yang dia gendong pun turun.


" Salam baginda, segala hormat, kesetiaan saya limpahkan hanya untuk anda. " Count Hazel memberi salam layaknya pengikut setia Leon.


" Hmmm, berdirilah. " Ucap Leon.


Saat berdiri, Count Hazel kaget, dia tidak bisa mengatur ekspresi wajahnya ketika melihat Leon menggendong kucing dengan penuh kasih sayang.


" Kenapa? Dia peliharaan ku. " Ucap Leon dingin.


" Ti-tidak baginda, silahkan masuk. " Ucap Count gugup.


...----------------...


Leon dan beberapa ajudannya berkumpul di


satu ruangan untuk membahas wabah, sedangkan Kaluna, dia di tempat kan di ruangan milik Leon.


Ruangan milik Leon yang di siapkan oleh Count Hazel.



| Dia membawa ku ikut ke wilayah ini. Apa aku sebegitu pentingnya untuk dia? Dari pada penting dia hanya menganggap ku sebagai peliharaan. Itu sudah jelas, karena aku seekor kucing. | Kaluna dalam batinnya berbicara.


Saat dia mikir kan hal-hal mengenai Leon, tiba-tiba detak jantungnya tidak karuan.


| Sakit sekali, ini.....kenapa lagi dengan tubuhku. | Kaluna bertanya-tanya.

__ADS_1


Tidak hanya sakit, Kaluna merasakan tubuhnya panas dan berat untuk melangkah. Pada akhirnya dia pun tumbang tidak sadarkan diri.


...----------------...


__ADS_2