Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)

Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)
CHAPTER 18


__ADS_3

Di ruang perpustakaan istana.



" Banyak sekali buku yang harus aku bereskan, Butler Alfon kenapa dia tidak datang membantuku. " Teril ajudan Leon sibuk dengan buku-buku yang ada di perpustakaan.


" Jika saja baginda tidak menyuruhku mencari itu, aku tidak akan kebingungan di ruang perpustakaan ini.....


...Beberapa jam yang lalu, sebelum Teril berakhir di perpustakaan.........


Ruang kerja Leon.



Leon yang baru selesai rapat dengan para bangsawan, dia melanjutkan pekerjaan nya di ruang kerjanya.


" Para bangsawan itu bertanya apa yang harus mereka lakukan untuk membantuku menemukan penyihir itu. Padahal mereka diam, dan tutup mulut pun sudah menjadi bantuan untukku. " Leon yang sudah muak dengan para bangsawan.


' Crak..' Suara gigitan biskuit.


Kilatan mata Leon langsung tertuju pada suara itu berasal.


" ....Seperti nya sudah waktunya mengganti ajudan baru. " Sindir Leon dengan suara acuhnya.


Orang yang di sindir Leon pun segera memberikan respon soal perkataan Leon di awal.


" Baginda anda harusnya senang mendapat bantuan langsung dari mereka. " Suara ajudan yang di sindir Leon terdengar.


Leon dengan cepat menegur dengan mengucap namanya tegas. " Teril..."


" Saya baginda..." Ajudan itu bertanya dengan nada halus.


" Kau sepertinya sedang luang, sampai bisa memakan camilan milikku! " Tegur Leon dengan wajah malasnya.


" Saya tidak luang baginda, banyak yang harus saya selesaikan. Soal camilan anda, saya akan meminta pelayan untuk membawakannya lagi. " Teril merespon teguran Leon dengan suara memelas.


" Tidak perlu, aku akan makan dengan Kyuku sekarang. Sebagai gantinya cari lukisan penyihir itu di perpustakaan istana...


" Soal wabah yang tersebar di wilayah Count, aku akan datang langsung ke wilayahnya, persiapkan keberangkatanku sekarang. " Leon langsung memberi perintah kepada Teril.


Teril merasa tidak setuju jika Leon harus datang langsung ke wilayah yang terkena wabah, dia pun berbicara.


" Tolong jangan gegabah lagi, kirim saja tabib istana, dan pendeta tinggi. Saya tidak mau anda berada dalam bahaya lagi..." Ucap Teril hati-hati.


Leon yang mendengarnya dia menyeringai dan mengangkat satu alisnya.


" Teril...Kau pikir menjadi raja hanya duduk, dan memberi perintah saja? " Tanya Leon dengan suara dingin yang tidak seperti biasanya.


" .....Saya tahu, saya hanya tidak mau anda dalam bahaya lagi. " Ucap Teril.


" Setiap hari, setiap jam, setiap detik....


" Aku selalu berada dalam bahaya, para pembunuh bayaran ada di mana-mana, tidak ada hari yang membuatku aman. Seorang raja hidup seperti itu Teril, karena itu sudah resiko yang harus di tanggung seorang raja...


" Semakin tinggi tempatmu berada, semakin besar pula resiko yang harus kau tanggung. " Leon mengakhiri perkataannya dengan tatapan mata yang serius.


Teril pun tidak bisa berkata-kata lagi.


" Haaa....


" Cukup...

__ADS_1


" Cepat cari lukisan penyihir, jangan sampai aku merobek mulut para bangsawan yang terus mengoceh memintaku untuk menemukan penyihir yang sudah lama menghilang itu. " Setelah helaan nafas keluar dari mulut Leon, dia kembali mengingatkan tugas Teril.


" Saya mengerti baginda. " Jawab Teril.


Itulah perintah Leon kepada Teril.


...Kembali ke waktu sekarang, di perpustakaan........


" Buku-buku tentang penyihir agung itu sudah lama tidak di keluarkan, pustakawan istana pun saat ini sedang cuti...


" Aku jadi kesulitan mencari itu..."


Teril dengan tangannya mengambil buku-buku yang berkaitan dengan penyihir. Dia tidak peduli mau itu buku dongeng tentang penyihir atau apapun, yang penting judulnya menyangkut penyihir.


" Semua yang berhubungan dengan penyihir aku mengambilnya, sudah berapa banyak yang aku ambil, dan aku sudah membacanya beberapa, kebanyakan hanya buku dongeng. "


Teril terus menelusuri rak buku hingga akhirnya dia melihat buku di pojok paling ujung, buku yang koyak, dan sepertinya tidak terjamah.


" Penyihir agung, pemilik kekuatan suci yang jahat. " Teril mengambil buku itu dan membaca judunya.


Kemudian dia membuka buku yang berdebu itu.


" Uhuk, uhuk...! " Suara batuk karena debu terdengar dari Teril.


Ajudan itu terus membuka setiap lembar buku yang dia pegang, wajahnya nampak serius seolah buku itu adalah buku yang dia cari.


Dan itu memang benar, buku yang Teril cari.


" Ini dia lukisan wajah penyihir itu. " Teril dengan nada semangatnya.


...----------------...


Leon pria itu, dia membawaku dalam gendongannya layaknya bayi baru lahir. Jika aku baru pertama bertemu dengannya, mungkin aku mengira dia sudah memiliki anak.


" Kyu, kau nyaman seperti ini. " Pria itu bertanya dengan ekspresi lembut.


" Eong. " Aku hanya merespon nya dingin tanpa ada niat.


Ngomong-ngomong, setiap kali aku melihat ke sisi kanan, dan kiri kenapa selalu ada kaca besar tertempel di dinding.


Baru saja aku bertanya-tanya mengenai cermin itu, pria yang menggendongku sudah menjawabnya lewat gerak-geriknya yang aneh.


Kami sudah di depan pintu masuk ruang makan, para penjaga pintu menuju ruang makan pun sudah membukakan pintu, namun pria itu menghentikan langkahnya dan menengok ke arah kanan tempat kaca itu menempel.


" Sebentar Kyu, aku harus memastikan sesuatu. " Pria itu berkata seraya berjalan menuju cermin.


Tidak ku sangka.....


Setelah tiba di depan cermin pria itu berdiri tegak, dan tangan kanan yang tadinya memelukku erat di lepas begitu saja, dia mengibaskan rambutnya bangga.


" Bahaya, Kyu. Jika aku tampil menawan di meja makan, para pelayan akan memerah dan salah tingkah. Bisa-bisa kita tidak jadi makan karena pesonaku yang lebih menggoda dari makanan. " Rasanya aku ingin muntah mendengar kata-katanya, bulu-buluku bahkan sudah berdiri.


Hentikan omong kosongmu! Dan beri aku makan! Rasanya aku ingin mencakar tangannya sekarang.


" Gggrrrrttttt.......Miauuuungg...." Aku menggeram memberi isyarat agar dia berhenti bertingkah seperti itu.


" ..Kau setuju dengan kata-kataku. Bahkan hewan pun tahu aku sangat tampan, dan mempesona. " Dia bicara omong kosong lagi.


Tapi, ini lebih baik dari pada dia murung seperti tadi. Meskipun begitu, sampai kapan dia akan bercermin?!!


Setelah beberapa menit berlaku, akhirnya dia bosan dan kembali menuju pintu masuk ruang makan.

__ADS_1


Aku tidak mengira dia akan seperti itu.


' Brak....' Pintu ruang makan di buka.


" Salam baginda, semua makanan sudah siap. " Para pelayan yang sudah menunggu sejak tadi memberi salam dan melapor.


" Kursi lebih tinggi dari ku, apa kalian suda menyiapkan nya? " Pria yang sudah duduk itu bertanya.


Tentu saja aku sudah di turun kan, dan aku berdiri di atas meja.


" Sudah baginda. " Jawab para pelayan.


" Taruh di sampingku. " Pria itu memerintah.


Alih-alih memperhatikan pembicaraan Leon dan bawahannya, aku malah tertarik dengan makanan yang ada di atas meja.


Daging panggang, salad, steak bumbu manis, ikan goreng, daging ayam, dan masih banyak lagi.


Hebat, sudah lama aku tidak melihat makanan manusia yang semewah ini.


Air liurku seolah akan menetes jika aku terus menatap makanan itu. Ketika aku fokus dengan makanan itu, tiba-tiba tubuhku melayang, ternyata Leon mengangkatku dan memindahkanku ke kursi yang dia pesan.


" Kyu, kau duduk di situ..." Ucap pria itu.


Kursinya lebih tinggi dari dirinya, jika aku manusia sudah jelas aku akan di penggal.


" Lalu, ini makananmu. " Pria itu menyajikan makanan yang berbeda, itu masih tertutup.


Saat dia membukanya, batinku rasanya ingin mengamuk.


" Kau kucing, tidak bisa memakan makanan manusia. " Pria itu berbicara lagi, seolah dia sudah melakukan hal yang benar.


Memang tidak salah karena aku bentukan kucing, tapi....


Kenapa kau harus menyajikan ikan sebesar tubuh harimau! Itu juga mentah.


" Meong, eong! Meong! " Aku protes mencakar meja makan garang.


" Kyu, kau tidak suka lagi? " Iya aku tidak suka! Aku benci ikan mentah! Aku bosan makanan mentah!


Itu yang ingin aku ucapkan ketika aku menjadi manusia! Beri aku makanan yang sama denganmu bajingan!


" Maaf, baginda. Kyu sepertinya ingin memakan makanan yang sama seperti baginda. " Saat aku di landa amarah, tiba-tiba suara yang familiar terdengar.


Itu adalah Leila.


" Hmmm, apa itu benar? " Mendengar pertanyaannya, aku langsung meloncar ke bawah kaki pria itu, dan mengibaskan ekorku lembut.


Aku tidak peduli harga diriku turun karena mengibaskan ekorku di kakinya, lagi pula ini bukan yang pertama kalinya.


Demi makanan enak, aku siap melakukan apa saja!!!!


...----------------...


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA.


JADWAL UPDATE⤵


SENIN, RABU, SABTU, DAN MINGGU.


PADA MALAM HARI.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2