
Ruangan Leon.
" Jadi, kucing itu ada di dalam gua. Gua itu sangat aneh di dalamnya banyak sekali benda-benda berkilauan. Tentu saja kucing kecil itu terbaring di atas batu dengan alas, dan sudah dalam kondisi seperti itu..." Qisar menjelaskan sembari duduk dengan beberapa camilan dan minuman.
Itu karena Qisar hampir pingsan setelah menahan haus dan lapar, belum lagi dia syok di bentak oleh Leon.
Maka dari itu Leon mau tidak mau memberikan makanan untuknya. Padahal dia sempat ingin menghukum Qisar.
" Lalu, apalagi yang terjadi? " Tanya Leon.
" Saya membawanya ke desa, untuk menemui tabib, penyihir, dan beberapa dokter. Tapi mereka mengatakan jika hewan itu baik-baik saja tidak ada tanda-tanda sakit. Ada satu hal yang aneh, sebelum saya menemukan gua tempat kucing itu berada...
" Apa itu? Ceritakan lebih jelas. " Leon tidak sabar.
" Ada seekor hewan lagi, bulunya berwarna putih seperi tikus, di setiap tubuhnya entah kenapa di liputi cahaya biru dan aksesoris yang tidak biasa. Hewan itu yang menuntun saya ke gua, dan menghilang entah kemana. " Qisar menceritakan semuanya dengan jelas tanpa ada yang terlewat.
" ....Cukup....kau boleh keluar. " Ucap Leon sedikit termenung.
" Lalu..." Qisar menatap kue, dan minuman yang masih tersisa banyak.
" Kau boleh membawanya semua. " Ucap Leon menyadari keinginan Qisar.
" Terima kasih baginda. " Ucap Qisar seraya membungkus semua makanan, dan pergi setelah memberi salam.
...----------------...
Ugh....sepertinya tidurku sangat nyaman, tidak keras dan tidak dingin. Kekuatanku juga sudah kembali semakin kuat.
Empuk sekali, padahal hanya batu yang aku tiduri selama ini. Mari kita bangun dan meregangkan badan dulu.
" Loh?....
" Apa......!!!!!! " Aku kaget saat membuka mataku, tentu saja suaraku masih seekor kucing.
Tiba-tiba aku berada di tempat yang berbeda jelas sekali kalau aku kaget setengah mati.
Dimana ini? ruangan mewah, dinding yang terbuat dari lapisa emas, dan furniture yang mahal dan elegan.
" Sial! Apa-apaan ini! Kenapa aku bisa ada di tempat seperti ini?!! " Aku berteriak masih dengan suara kucingku.
Kemudian aku pun berlari dengan kakiku dan menuju ke arah jendela yang tertutup. Aku naik dan melihat keluar jendela.
Halaman yang luas, bangunan yang tinggi dan megah di mana-mana, taman, air mancur, dan orang-orang yang berpakaian seperti bangsawan dan pelayan.
" Dimana aku?....Apa aku di istana? " Aku bertanya-tanya tidak percaya, lalu aku memutuskan untuk tidur lagi, siapa tahu ini hanya mimpi.
Dan ketikan aku bangun, semuanya akan kembali menjadi gua tua yang selama ini aku tinggali.
__ADS_1
...----------------...
Ya, begitulah saat Kaluna syok karena bangun sudah berada di tepat yang berbeda.
" Kyu, kenapa kau ada di dekat jendela seperti ini. " Leon yang selesai dengan urusannya dia pun kembali ke kamarnya dan bersiap untuk tidur.
Karena sekarang sudah malam, dan dia sangat lelah.
Leon memindahkan Kaluna ke atas kasurnya, sedangkan dia bergegas mengganti pakaian dengan pakaian tidur.
Leon kembali dengan hanya menggunakan piyama terbuka, dan dia tidur di samping Kaluna sambil membungkus Kaluna dalam pelukannya.
Tentu saja Kaluna tidak bangun, dia pun ikut tertidur dalam pelukan hangat Leon.
Mereka tidur berdua, sampai tengah malam pun tiba, dan sesuatu terjadi.
Di tengah gelapnya malam, dan tidak ada penerangan, suara perempuan terdengar.
" Aku haus. " Perempuan itu bangun setengah sadar, dari ranjang yang sama dengan Leon.
Dia meraba-raba sekitar untuk mencari air, dan akhirnya menemukan gelas yang berisikan air di samping tempat tidur Leon.
Perempuan itu pun meminumnya, lalu menyimpan gelas itu ke tempat semula.
" .....Aku mengantuk sekali, ini pasti mimpi bahwa aku kembali ke wujudku semula. " Perempuan itu kembali tidur dan memeluk Leon dalam selimut yang sama.
Dia adalah Kaluna, yang sesekali kembali ke wujud nya sebagai manusia.
...----------------...
| Ughhh.....enak sekali, keras dan kenyal...! | Batin Kaluna.
| Tunggu! Keras dan kenyal?!! | Kaluan pun membuka mata, dan dia pun mendapati dada seorang pria di depannya.
" Eooong!! " | Kyaaa!!| Teriak Kaluna, bulunya seketika terangkat semua.
Kaluna kembali kebentuk kucingnya, dia juga tidak menyadari sudah berubah menjadi manusia walau hanya sebentar.
Dari pada itu, Kaluna kaget bangun-bangun sudah melihat dada mulus di depannya.
" Pria ini? .....Raja kerajaan Samantha? " Kaluna bertanya masih dengan suara kucingnya.
Kaluna naik ke atas dada Leon, dan menatapnya lekat.
Pada saat bersamaan Leon pun bangun, dan berteriak kaget melihat Kaluna dari dekat.
" Uargghhh!! " Teriak kaget Leon sampai bangun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Kaluna pun menyingkir, dan menjauh.
" Gggggrrttttt....Ngeooong..." Kaluna memasang wajah kucing galak.
" Tenanglah Kyu. Ini aku, aku membawamu bukan untuk menyakiti mu, percayalah padaku. " Ucap Leon menenangkan.
| Bohong! Kau pasti sama sepertinya, kau hanya mau memanfaatkanku. Aku tidak sudi mengulang itu lagi. | Batin Kaluna marah.
" Haaatchimmm! Bagind— Hatchim......saatnya bangun. " Teril dari luar.
" Aku sudah bangun, jangan buka pintunya! " Teriak Leon.
" Ggrtttt...." | Pergi kau! | Kaluna masih tidak mau menerima Leon.
" Aku hanya ingin merawatmu, dulu aku mempunyai kucing yang sama sepertimu, tapi dia mati. Kupikir kau tidak akan mudah mati sepertinya, jadi aku membawamu. Kemarilah Kyu, aku serius tentang itu. " Ucap Leon dengan suara gemetar.
" Baginda? " Teril dari luar.
" Berisik Teril! " Teriak Leon kesal dengan Teril.
| Apa benar, kau hanya ingin merawat ku? Tapi aku tetap tidak percaya. | Batin Kaluna.
Kaluna pergi ke atas sopa, tanpa menghiraukan Leon.
" Kalau begitu tunggu aku di situ, jangan kemana-mana. " Ucap Leon, dia pun pergi ke arah pintu keluar, dan membuka pintu.
" Cepat masuk! " Tegas Leon.
Teril pun masuk dengan laporan di tangannya. Kaluna masih saja seperti itu, dia tidak kabur, karena dia tahu meski dia melewati pintu itu, dia akan tertangkap lagi.
" Jadi, kucing—Hattchim!...." Teril bersin lagi.
" Sepuluh langkah. " Ucap Leon tegas.
" Oh, baik. " Jawab Teril seraya mundur.
" Ada masalah baginda, ada wabah yang menyerang wilayah Count Hazel, gejalannya demam, lalu muntah darah, dan kulit mereka terkelupas seperti luka bakar. Count sudah memerintahkan pendeta suci untuk mengobati korban, namun mereka kekurangan pendeta suci karena banyaknya korban." Lapor Teril.
" Apa hanya dengan kekuatan suci? Obat tidak bekerja? " Tanya Leon serius.
" Obat hanya menahan sakit nya saja baginda, selebihnya tidak. " Jawab Teril.
" Panggil Count Hazel ke istana, dan panggil para pendeta dan dokter istana ke ruanganku. " Perintah Leon.
" Saya mengerti. " Jawab Teril patuh.
" Jangan pula bawakan makanan untuk Kyuku. Dia pasti lapar. " Ucap Leon dengan bibir tersenyum menatap Kaluna.
" Ahh...saya mengerti." Sekali lagi Teril menjawab.
Teril pun pergi, dan Leon mendekat ke arah Kaluna dan duduk di sebelahnya.
" Aku tahu kau mengerti perkataanku. Kau kucing yang aneh. " Ucap Leon.
__ADS_1
| Apa?! Apa dia menyadari sesuatu? | Kaluna kegat dengan omongan yang keluar dari mulut Leon secara tiba-tiba.
...----------------...