Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)

Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)
CHAPTER 11


__ADS_3

Para kesatria berlari bersama Leon untuk mengejar Kaluna. Kelincahan Kaluna berhasil membuat para kesatria terkecoh, dan saling berhamburan kesana kemari.


| Sekarang aku tidak akan tertangkap! Kalian tidak akan bisa menangkap ku! | Kaluna yang terus berlari selang seling ke berbagai semak-semak.


" Kyu! pulanglah denganku! Aku akan mengampunimu..! " Leon yang terus mencari Kaluna, dia pun ikut kesulitan.


Alih-alih datang pada Leon, Kaluna justru naik ke atas pohon dengan lincah, cakar kecilnya yang imut sudah sejak dulu dia latih untuk bisa menaiki pohon-pohon tinggi.


" Haaa....Kemana kucing itu..." Leon yang bergumam dengan wajah sedikit marah.


| Pulanglah sendiri, aku tidak mau menginjakkan kaki di istana kerajaan. Kenangan yang dulu mulai berdatangan sejak aku tahu kau adalah raja Samantha. | Batin Kaluna yang melihat Leon dari atas pohon.


[ Apa kau yakin tidak mau ikut? ] Suara dewa tiba-tiba muncul kembali secara tiba-tiba.


| Anda muncul lagi......| Kaluna menanggapi acuh.


[ ......Kenapa? Sebentar lagi aku juga akan menunjukkan diriku padamu. Walaupun wujud itu bukan wujud asliku, tetap saja itu merupakan suatu kehormatan untukmu. Dan kau tidak harus berbicara seperti ini lagi. ] Dewa itu mengatakan jika dia akan memperlihatkan dirinya meskipun bukan wujud aslinya.


| Itu akan bagus, saya akan mudah protes kepada anda yang berwujud. | Jawab Kaluna tidak sabar.


[ Sepertinya ini bukan ide yang bagus. Tapi, sudah terlanjur, karena aku sudah mulai membuat wujudku. Sekarang tunggulah, kau harus bersabar berbicara denganku tanpa wujud seperti ini. ] Dewa itu mengeluarkan suara yang ceria seolah dia mempermainkan Kaluna.


Kaluna tidak peduli dengan suara Dewa yang terus terdengar. Dia menatap Leon yang tampak berjalan menjauh dari pohon tempat dia berada.


" Kyu....Jika aku menemukanmu, aku pastikan kau tidak akan lari lagi. " Suara Leon terdengar samar-samar menghilang.


[ Aduh, pria itu sudah pergi. Kau yakin tidak akan ikut dengannya? ] Sekali lagi dewa itu bertanya.


| Tidak, anda tahu karena apa saya seperti ini. Hidup di hutan Alika bukan sesuatu yang buruk. Aku sudah terbiasa di sini. |Jawab Kaluna acuh.


...----------------...


Keesokan harinya.


Rumput-rumput, pohon, dan semak-semak belukar yang awalnya tumbuh subur, dan kokoh.


Pagi ini terlihat buruk, semuanya habis di tebang paksa. Pelakunya jelas adalah Leon.


Demi mencari kucing yang hilang, Leon mengobrak abrik hutan Alika secara membabi buta.


| Ugh...suasana hati baginda sedang tidak baik. Aku takut bertanya....| Batin kesatria yang berdiri di hadapan Leon, dia adalah Qisar.


" Baginda, apa anda akan menunda kepulangan lagi? " Tanya Qisar.


Saat Qisar bertanya, Leon dengan tatapan sinis berkilat melirik Qisar.


| Hiiii.....! Menakutkan...!| Batin Qisar takut, ketika Leon melirik dirinya seram.


" Haa...." Leon menghela nafas.


" ....Aku ingin menunggu Kyu kembali, tapi Teril sudah mengirim banyak surat kepadaku. Para bangsawan mulai mengoceh dan berdatangan ke istana. " Jawab Leon dengan nada yang sedikit kesal.


Leon yang tadinya akan pulang ke istana malam itu, dia mengundurkan kepulangannya demi mencari Kaluna.


Selama semalam para kesatria, dan juga Leon mencari Kaluna, tapi tidak ada hasil.


Mungkin jika itu kucing biasa, mereka akan mudah menemukannya, sayangnya mereka mencari kucing berjiwa manusia, dan itu pun penyihir agung, serta pemilik kekuatan suci.


Jelas akan sulit, karena Kaluna menggunakan sihirnya.

__ADS_1


" Ayo kita kembali sekarang. Tapi, taruh satu kesatria di sini. Aku ingin menangkapnya bagaimana pun caranya. " Ucap Leon seraya bangkit dari kursinya.


" Saya mengerti baginda. " Jawab Qisar patuh.


Setelah itu, Leon dan rombongannya pulang ke istana. Tentunya satu kesatria miliknya di tinggalkan di hutan Alika.


...----------------...


Sore Hari di hutan Alika, setelah Leon pulang.


Satu tenda masih berdiri di dalam hutan Alika, itu tenda milik kesatria yang di tinggalkan oleh Leon.


Sementara itu, di sudut kiri tidak jauh dengan tenda kesatria. Kaluna bersembunyi di balik pohon.



| Sepertinya dia sudah menyerah, dan pulang. Tapi, tenda apa itu? | Kaluna yang bersembunyi bertanya-tanya.


Saat dia sedang mengintip, tiba-tiba dia melihat seorang kesatria yang dia kenal keluar dari tenda itu.


" Haisss...Kenapa baginda menaruhku di hutan ini.....Apa baginda membuangku? " Kesatria itu ternyata Qisar.


" Tidak ada yang mau di tinggalkan di hutan Alika, jadi baginda menunjukku. Awas saja! Setelah aku kembali dan membawa kucing itu, aku pastikan akan menghajar kalian! Para bedebah berengsek! " Qisar berteriak menunjuk ke atas langit, seolah dia sedang mengutuk teman-temannya.


| Dia memang gila seperti yang ku duga. | Respon Kaluna.


| Kenapa dia harus tertinggal di sini? Kupikir dia sudah menyerah. Ternyata tidak. Toh dia akan pergi dengan sendirinya| Batin Kaluna.


Kaluna pun meninggalkan Qisar, dan masuk ke dalam hutan tempat dia bersembunyi.


...----------------...


" Bagindaaa! Akhirnya anda kembali juga.." Teril berlari ke arah Leon dengan mata yang sembab akibat menangis.


" Teril, aku baru saja tiba dan lelah. Jangan menangis dan lap ingusmu! Itu menjijikan! " Ucap Leon ketus.


" Selamat datang baginda. Saya senang anda kembali dengan selamat. " Alfon dengan ramah menyambut Leon.


" Ya...ambil ini. " Ucap Leon seraya melepaskan jubahnya, dan memberikannya kepada Alfon.


Alfon menunduk dan menerima jubah Leon seraya berkata. " Baginda, Saya sudah menyiapkan air dan makanan khusus untuk anda. Anda bisa beristirahat sekarang. "


" Urus sisanya, bawa makanan ke kamar ku, aku ingin mandi terlebih dahulu. " Ucap Leon seraya berjalan masuk.


" Oh, satu lagi. Teril, kau harus membiasakan diri dari bulu. Sebentar lagi ada buntalan bulu yang akan masuk ke istana. " Ucap Leon sembari berjalan.


Mendengar hal itu, Teril terdiam kaku di belakang. Dia pikir penderitaan apa lagi yang akan dia terima dari tuannya yang kejam itu.


" Alfon, sepertinya saya akan sakit sebentar lagi. Beliau sedang balas dendam, kan? " Tanya Teril yang masih dengan wajah kaku.


" Anda harus menerimanya dengan lapang dada. Tapi untungnya gaji anda tidak di potong lagi. " Ucap Alfon.


" Ha-hahah...." Teril tertawa kaku.


| Ya, apa ini sesuatu yang harus aku syukuri. | Batin Teril.


...----------------...


Kamar Leon, tepatnya ruang bersantai miliknya.

__ADS_1



Ruangan itu di ukir dengan emas, dan lampu gantung yang terbuat dari berlian yang langka.


Belum lagi, di setiap sudut dinding kamarnya tersembunyi alat sihir yang bisa menyadari adanya bahaya atau gerak gerik yang berhubungan dengan sihir.


Itu untuk keamanan Leon, yang menggila di malam-malam tertentu.


' Tok,toktok....' Suara ketuka dari pintu.


" Maaf baginda, saya ingin melaporkan sesuatu. Jadi.....bisakah anda membiarkan saya masuk? " Suara itu milik Teril.


" Dia tidak sabaran ingin menggangguku..." Gumam Leon yang baru keluar dari kamar mandinya.


Leon yang baru selesai mandi, dia pun membiarkan Teril masuk.


" Masuk..." Perintah Leon.


Teril masuk, dan memberi salam.


" Salam bagin—


" Berhenti...." Ucap Leon, menghentikan salam Teril.


" Aku bisa mual mendengar salam darimu Teril. Hobimu bertambah, ya? " Tanya Leon.


" Apa? Saya? Hobi apa? Dan Kenapa hobi saya bertambah? " Tanya Teril.


" Hobi menggangguku! Apa kau tidak sadar aku baru saja kembali. " Ucap Leon ketus.


Teril hanya tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Maaf baginda, saya menyesal untuk ini. Tapi mau bagaimana lagi..." Jawab Teril.


" Haa...." Leon menghela nafas.


" Jelaskan? Apa yang ingin kau katakan.. " Tanya Leon dengan mata yang menyipit.


" Awas saja kalau itu bukan laporan yang penting. Aku pastika tidak ada cuti untukmu tahun ini! Apa kau mengerti?! " Ancam Leon sinis.


| Seperti inilah nasibku memiliki tuan seperti beliau, apa aku harus berhenti dan mencari tuan baru di kerajaan lain. Tentu tidak! Baginda yang terbaik! Tidak ada raja lain! Ingat Teril, baginda satu-satunya tuanmu! Pikiran kotor ini! Enyahlah! Dan ingat gaji di istana ini sangat tinggi! | Batin Teril bersemangat, walaupun tadinya sedikit putus asa.


" Ekehm...Jadi, anda harus menemukan penyihir itu baginda. Pendeta dan bangsawan terus menanyakan anda, saya hampir gila di buatnya, mereka terus menerus datang hampir setiap hari selama anda pergi. " Ucap Teril.


" Tidak sabaran, aku sudah mengirim perintah pada menara penyihir agar menyelidiki jejak-jejak penyihir itu...


" Lalu katakan pada mereka, jika mereka terus datang ke istana hanya untuk membual perihal penyihir, aku pastikan mereka tidak bisa menggunakan kakinya lagi! " Tegas Leon dengan kilatan mata seperti petir.


" It-itu....Itu sangat kejam baginda. Tapi....


" Ya, itukan sifat asli anda. " Jawab Teril sedikit takut.


" Kalau sudah selesai, keluarlah. Aku tidak punya selera makan jika wajahmu muncul di sini. " Leon dengan suara rendahnya memberi perintah.


" Itu kejam, padahal saya merindukan anda selama anda pergi. Bisakah saya di sini, siapa tahu anda membutuhkan seseorang yang bisa menampung makanan sisa anda. Saya merasa terhormat jika itu benar. " Ucap Teril menggoda tuannya yang sudah hampir kehilangan kesabarannya.


" Teril! keluar! " Teriak Leon, dan Teril pun keluar dengan berlari ketakutan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2