
" Qisar! Berhenti Qisar! " Lotus yang juga ikut mengejar, dia tertinggal di belakang.
| Si brengsek itu! Dia malah mengejar kucing itu! | Batin Lotus meludah kesal.
Di tengah derasnya hujan di sertai guntur itu, mereka berdua saling mengejar. Yang satu mengejar seekor kucing hitam.
Yang satu mengejar rekannya yang gila karena seekor kucing.
| Jika aku tidak punya belas kasih, sudah ku sambar kalian dengan petir detik itu juga! |Batin Kaluna.
Dia berlari ke arah tempat Leon terbaring, tentu saja melewati jalan yang berbeda dari jalan yang Leon lewati.
Jalan itukan sudah tertutup longsor, Kaluna tahu akan hal itu.
| Oh! Sebentar lagi sampai! | Batin Kaluna yang senang pengejaran ini akan segera berakhir.
" Tunggu! Akan ku cincang kau jadi makanan kuda! " Qisar berteriak mengancam.
" Meong! " Kaluna berbicara.
| Itu, akhirnya aku sampai. | Kaluna akhirnya sampai di tempat Leon terbaring.
" Ugh, di mana...." Suara orang yang baru bangun tidur terdengar pelan.
Kaluna menyadari jika Leon sudah siuman, tapi tetap saja Leon belum bisa berdiri, jangankan berdiri. Seperti nya, pandangannya saja masih buram.
Kaluna duduk di samping Leon dengan gagah, dan berani, dadanya bahkan membusung ke depan, seolah dia siap menyambut kedua orang yang tertinggal di belakangnya.
Saat Qisar dan Lotus tiba, mereka terhenti sejenak.
| Oh! Mereka pasti kaget dengan semua ini. | Batin Kaluna.
" Baginda!! " Qisar dan lotus langsung berteriak memanggil tuannya yang terbaring setengah sadar.
Mereka jelas kaget melihat kondisi Leon.
" Baginda?! Bagaimana ini bisa terjadi?! " Qisar yang tadinya berwajah marah dan menyeramkan, kini berubah menjadi pria cengeng.
" Huaaaa! Baginda!....
__ADS_1
" Saya pantas di penggal! Saya pantas mati baginda.... " Tangisan Qisar yang memeluk tubuh Leon.
" Ughhk, diam kau cengeng! Aku bisa mati mendengar tangisanmu! " Ucap Leon lemas.
" Baginda ayo naik ke punggung saya! " Ucap Lotus yang siap menggendong Leon di punggungnya.
" Apa kau gila! Uhuk!...Bawa tandu kemari sekarang! " Teriak Leon marah.
| Yah, meski pun dia terluka, dia tetap bisa berteriak pada bawahnya. Seharuqqsnya dia baik-baik saja. | Batin Kaluna sedari tadi memperhatikan ketiga pria di sekitarnya.
" Eeong!...." | Selesai! | Kaluna pun berjalan berbalik pergi dengan eongan kecil.
" Pergilah! panggil kesatria lain, dan bawakan tandu! " Perintah Lotus kepada Qisar.
" Baiklah! " Teriak Qisar, dia pun berlari dan jatuh karena jalan itu berlumpur.
" Cepat! Kenapa harus jatuh! " Teriak Lotus.
" Jalannya licin! Saya akan kembali secepatnya! " Qisar yang bangun setelah jatuh, dia pun segera berlari.
| Ceroboh........| Kaluna yang sudah berjalan menjauh berkomentar.
" Ku-kucing....Tangkap kucing itu..." Dengan suara lemah, Leon memberi perintah kepada Lotus.
| Apa! Kenapa aku harus di tangkap?! | Telinga Kucing Kaluna seketika bergetar ketika mendengar perintah Leon yang ada di belakangnya.
" Untuk apa yang mulia? " Tanya Lotus.
" Jangan bertanya, turuti saja perintahku! " Suara Leon terdengar dingin dan memaksa.
| Aku sudah menolong mu! Masa sekarang kau mau menangkapku! | Batin Kaluna risau.
Segera setelah itu, Kaluna pun mulai berlari, akan tetapi sebelum berlari, sebuah pisau yang tajam tiba-tiba muncul di depannya, sehingga membuatnya kaget dan terdiam sejenak.
Saat Kucing Kaluna akan berlari lagi, Lotus dengan cepat menangkap Kaluna.
" Jangan berlarian dengan kaki pendek kecilmu. " Ucap Lotus datar.
| Apa-apaan ini! Lepaskan aku pria dingin! | Teriakan batin Kaluna.
__ADS_1
" Setelah di tangkap, ternyata kau gemuk juga yah? " Ucap Lotus, dia bahkan mengelus perut Kaluna.
| Tidaaakk!!! Ini penghinaan! Penghinaan!! Awas saja kau! Akan ku cabik-cabik dengan cakarku! Akan ku gores setiap inci kulitmu! Lepaskan akuuuuu! | Sekali lagi batin Kaluna berteriak.
" Baginda, kucingnya sudah saya tangkap. " Lapor Lotus kepada Leon.
" Bagus...." Jawab Leon puas.
| Awas saja kau! | Batin Kaluna.
...----------------...
Istana Kerajaan Samantha.
" Sir Teril, ada laporan yang datang dari Hutan Alika. " Ucap pelayan istana laki-laki, dia berdiri di depan meja kerja Teril.
" Sekarang apa lagi? " Tanya Teril lesu, di bawah matanya terlihat jelas jika dia tidak tidur dengan benar selama beberapa hari.
" Apa laporannya? " Tanya Teril.
" Itu.....
" Cepat jawab! " Teril tidak sabar, pelayan itu terdengar gugup.
" Baginda terluka..
" Apa! Bicara sekali lagi! " Teriak Teril, dia bahkan beranjak dari duduk dengan kasar.
" Baginda terluka, tapi sekarang sudah di tangani perawat yang ikut serta. "Jawab pelayan itu.
" Aku sudah memperingati Baginda, tapi beliau tidak mau mendengar. Dia memang tidak menyayangi nyawanya! " Teril marah.
" Kirim pesan, bahwa beliau harus pulang secepat nya! Beliau harus di obati di istana." Perintah Teril.
" Baik, saya permisi. " Pelayan itu pamit.
...----------------...
__ADS_1
BERSAMBUNG