Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)

Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)
CHAPTER 17


__ADS_3

Itu bentuk terima kasihku kepada mereka. Sebenarnya kalau boleh jujur tingkah mereka tidak membosankan.


Segera setelah aku menjadi rileks karena ironi aneh itu, aku menghela nafas lagi. Aku hampir lupa di sampingku masih ada satu pria berambut putih.


Dengan wajah kaku aku berbalik dan menatap pria berambut putih itu.


" Kyu, kau bermain tanpaku? Apa kau tidak mau bersamaku? Kau tidak senang denganku?.... " Pria itu terus bertanya dengan ekspresi murung seolah di khianati.


Mendengar dia raja yang bijaksana, dan adil. Sepertinya tidak begitu, dia lebih bagus di sebut kejam, seenaknya, dan tidak mau kalah.


Dari sisi mananya dia bijaksana? Aku sampai bertanya-tanya mengenai cerita itu. Pria di depanku terus berbicara dengan nada murung.


" Kyu, aku belum makan sejak pagi, begitu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.....


" Tidak perlu khawatir aku sudah terbiasa....


Ya, itu aku tidak peduli, dan aku sama sekali tidak khawatir. Karena itu resiko seorang raja.


Sambil mendengar ceritanya aku membersihkan bulu, dan cakarku, layaknya kucing.



Sejujurnya aku tidak mau melakukan ini, tapi apa boleh buat naluri manusia dan kucingku hampir menyatu seiring dengan berjalannya waktu.


" Kyu....karena aku belum makan sejak pagi. Maka dari itu aku ingin kau makan malam denganku. " Pria itu mengajak ku makan malam.


Jika di pikir-pikir aku memang belum makan, makanan yang dia hidangkan selalu mentah dan utuh, aku tidak suka itu.


Soal makanan aku tidak seperti kucing, makananku masih tetap makanan manusia pada umumnya. Tidak mentah.


" Kyu sekarang aku hanya akan berbaring dan tidur sebentar sampai makan malam tiba. " Pria itu berbaring di sopa, tentunya dia menyiapkan bantalan empuk untukku bergabung.


" Kau juga tidurlah Kyu...." Ucapnya lelah.


Sudah beberapa saat berlalu, tapi pria itu tidak kunjung tidur, waktu makan malam masih jauh, jadi masih tersisa banyak waktu.


" Kyu, apa kau tahu....aku kesulitan tidur. Saat aku menutup mata selalu ada bayangan samar yang muncul, dan aku mendengar suara seseorang yang mengatakan bahwa aku tidak pantas mendapat cinta. " Pria itu menceritakan sesuatu yang tidak seharusnya dia bicarakan dengan seekor kucing yang bahkan tidak bisa bicara.


Tapi untungnya dia menceritakan hal itu kepadaku, seorang penyihir agung, dan pemilik kekuatan suci. Bukan kepada hewan yang benar-benar hewan.


Suara saat dia mengaku tentang mimpi itu terdengar sangat pilu, dan lelah. Aku pikir mimpi dan suara yang menghantui nya sudah terjadi sejak lama.


Jadi karena itu dia tidak tidur, mungkin kemarin malam saking lelahnya dia bisa tidur dengan lelap.


" ......Sepertinya aku tidak akan bisa tidur. " Gumam pria itu pelan.


Karena aku merasa kasihan dengannya, aku mengulurkan kaki depanku perlahan ke arah kepalanya.


" Kyu....?! " Pria itu menatap ke atas tempatku berada.


Diamlah, aku akan membatumu.


Aku membacakan mantra doa agar dia bisa tidur dengan nyaman dan tenang.


" Aku....tiba-tiba mengantuk. " Setelah aku membaca mantra itu, pria itu langsung tertidur lelap.


Ini karena kau terlihat lelah. Aku memberi mantra agar kau bisa tidur tanpa adanya gangguan.

__ADS_1


Sementara lelaki yang bernama Leon itu tidur, aku turun dari bantalan empuk itu ke lantai. Aku berjalan pelan memahami struktur ruangan yang aku tempati.


Aku melirik ke kanan, dan kekiri. Aku pikir pria itu sangat berlebihan menempatkan seekor kucing di ruangan yang mewah.


Dari semua furniture yang ada, tidak ada yang tidak terbuat dari emas. Semuanya mengkilap seperti emas.


Ini jauh lebih mewah di banding dengan kamarnya yang pertama kali aku gunakan. Apa yang pria itu pikirkan? aku bertanya-tanya dalam pikiranku.


Saat aku tengah menelusuri ruangan yang lumayan besar itu, tiba-tiba hewan kecil terlihat di balik lemari.


Apa itu? aku bertanya tanpa suara.


Aku menatap hewan itu fokus, lalu suara yang membuat aku jengkel terdengar.


[ Ini aku, apa kau tidak mengenali ku? ] Dia bertanya seolah aku pasti tahu.


Tapi dari suaranya aku memang tahu siapa itu, dia pasti dewa yang mengutukku.


" Dewa menyebalkan. Itu anda bukan? " Aku berbicara masih dengan suara kucing.


[ Benar. Ini aku.....] Jawabnya tidak tahu malu.


Dewa itu tiba-tiba muncul dengan wujud hewan tikus yang berbulu putih. Aku cukup kaget melihatnya dengan wujud seperti itu, wujud aslinya lebih indah dari itu, aku pernah sesekali melihatnya.


" Apa wujud ada sekarang? " Aku bertanya.


[ Aku tidak tahu ini apa, tikus, marmut, atau apa. Tapi wujudku ini mudah bergerak dan ringan. Apa kau suka? ] Dia bertanya girang.


" Itu tikus. Musuh seekor kucing. Anda tidak tahu bahwa saya saat ini sedang menahan naluri seekor kucing....." Ya, saat ini aku memang sedang menahan untuk tidak menangkapnya.


[ Kau, apa kau mau memakanku? Aku baru saja tiba di sini setelah menggunakan banyak kekuatan. Biarkan aku istirahat sejenak. ] Ucapnya seraya berjalan dengan keempat kakinya, karena aku sudah tidak bisa menahan naluri seekor kucing.


' Sraat!.....' Cakarku hampir mengenai dirinya, karena dia menghindar dengan cepat.


[ Kaluna, kendalikan dirimu! ] Dewa itu berteriak seraya berlari kocar kacir.


" Jangan lari, melihat anda berlari membuat naluri kucing saya semakin menjadi! " Aku memberitahunya agak berhenti berlari.


[ Kai mengejarku seperti itu, mana mungkin aku tidak lari! ] Dia yang masih berlari menjawab takut.


Kami berdua saling mengejar di ruangan itu, tidak hanya di lantai, kami meloncat kesana kemari sampai barang-barang yang tidak sengaja kami lompati berjatuhan sehingga membuat kebisingan.


Kebising yang terdengar bukan hanya benda yang jatuh, suara kami berdua pun sangat bising.


' Cit,cit,cit......


' Ngeeooong! Khhhhhh!!!


[ Kaluna apa kau tidak menyadari sesuatu? ] Dalam pengejaran pun dia bertanya dengan nada serius.


" Apa maksud anda, saya tidak mengerti! " Jawabku.


[ Aku merasa kau sebentar lagi akan berubah menjadi manusia, walau itu pun tidak sepenuhnya...! ] Saat aku mendengar ocehannya, aku cukup kaget, dan segera bertanya.


" Setengah kucing, setengah manusia. Apa itu maksud anda? " Aku bertanya seris, tentu saja masih mengejarnya.


[ Bukan....Maksud ku kau akan berubah menjadi manusia hanya beberapa waktu, lalu kembali lagi menjadi kucing jika waktunya habis....! ] Jawabnya, dia sudah mengambil nafas, karena kelelahan.

__ADS_1


" Kapan? saya berubah menjadi manusia. " Tanyaku penasaran.


[ Tidak menentu. ] Jawab dewa itu rendah.


Saat kami terus mengejar mengelilingi ruangan itu, tiba-tiba suara pria yang tadi ku beri mantra tidur terdengar.


" .....Ug...suara apa itu, kenapa bising sekali. " Suara serak sehabis bangun tidur, itu terdengar seksi.


Alih-alih fokus mengejar aku malah tertarik dengan suara pria itu.


" Kyu! Apa yang kau kejar? " Pria itu menyadari bahwa aku sedang mengejar sesuatu.


[ Kaluna cepat hentikan. Aku sudah tidak kuat berlari. ] Dewa itu berbicara seperti memohon.


" Saya kesal! Saya tidak bisa berhenti. " Aku menjawab.


Aku ingin memaki karena naluri kucingku tidak bisa di hentikan. Saat aku mulai kelelahan, tiba-tiba di depanku.....


' Dag.....' Tikus itu menabrak kaki pria itu, dan jatuh.


Lalu pria itu menangkap tikus yang ku kejar dengan tangannya.


" Se-semudah itu? " Aku kaget, padahal tikus sangat sulit di tangkap.


" Hewan ini....." Leon, menatap hewan yang ada di tangannya serius.


[ Aduh, tidak sakit. Aku cuma terkejut saja.....Ahhehh? ] Dewa itu menatap Leon serius.


[ Sepertinya pria ini bukan pria biasa Kaluna. Apa kau pernah mengutuk nya? ] Tanya Dewa itu yang ada di genggaman Leon.


Aku yang sebal karena tidak bisa menangkapnya, aku menggaruk kaki pria itu dengan cakarku.



[ Kaluna..! Sadarlah Kaluna! ] Tanpa sadar aku tidak mendengar apa yang di ucapkan dewa itu.


" Kyu....kau ingin ini. " Pria itu tiba-tiba menggendong ku, dan kami berdua saling bertatapan.


" E-ehhh..." Batinku merinding melihat mata pria yang bernama Leon itu.


...----------------...


| Kenapa matanya seperti itu?....| Kaluna bertanya-tanya.


Leon pun dengan wajah memelas sedih, berbicara lagi.


" Kyu, jangan campakkan aku...."


" Aku tidak suka kau mengejar hewan ini begitu bersemangat......Bermainlah dengan mainan yang sudah aku beri. Jangan bermain dengan mainan lain. " Leon masih memasang wajah murung.


| Apa yang dia katakan? Tapi, naluri hewanku sepertinya sudah mereda. | Batin Kaluna.


Lalu kemudian, dia melempar tikus itu ke belakang. Untungnya dia melempar hewan itu tepat ke atas sopa.


" Ayo kita pergi. Ini sudah waktunya makan malam. " Ucap Leon, dia menggendong Kaluna seperti bayi.


[ Jika aku terluka, aku mungkin akan mengutuknya. ] Dewa yang di tinggalkan bergumam dengan suara tikusnya.

__ADS_1


...----------------...


BERSAMBUNG


__ADS_2