Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)

Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)
CHAPTER 13


__ADS_3

Dewa itu sengaja memancing Qisar menuju gua agar Kaluna di bawa ke istana.


" Dengan membantu lebih banyak manusia, Kaluna bisa memulihkan kekuatannya, dan kembali ke wujud manusianya. Dengan kata lain, lebih banyak Kaluna membantu orang, maka lebih cepat pula dia bebas dari kutukan. Istana satu-satunya tempat yang cocok untuk itu. "


Seperti yang di katakan Dewa itu, Kaluna harus masuk ke istana agar wujudnya kembali.


...----------------...


Singkat cerita, Qisar kembali ke istana menggunakan sihir teleportasi yang ada di desa dekat hutan Alika.


" Baginda, Qisar tidak akan kembali untuk sementara waktu, kucing itu sulit di cari" Lotus menghadap Leon di ruang kerjanya.


Lotus mengatakan bahwa Qisar mungkin tidak akan kembali untuk sementara waktu.


" ...Hmmm, apa boleh buat. Aku ingin Kyu ku kembali bagaimana pun caranya, sebelum dia menemukan Kyu ku, dia tidak boleh kembali. " Ucap Leon yang masih menatap dokumen di tangannya.


" Hachim...! Hachis....! Eughh...." Dari luar pintu suara bersin terdengar cukup keras.


" Suara bersin siapa itu?! " Leon berkerut bertanya.


" Haaaatchim..! Baginda saya Teril. Tolong izinkan saya mas–hatchim! " Di tengah percakapan, Teril dari luar ruangan meminta izin masuk.


Leon yang mendengarnya, dia menatap ke pintu masuk dengan wajah sebal, lalu berbicara.


" Apa dia flu? berani nya dia menyebar virus padaku. " Gumam Leon.


" ....Masuklah. " Leon memberi izin Teril masuk dengan nada ketus.


Teril yang mengucek hidungnya masuk perlahan dan berdiri di hadapan Leon.


" Hatchim..! Sa-salam bagind–Haatchim...! "


" Cukup! " Teriak Leon kesal.


" Terima kasih bagin–ha...hatchim..! " Teril masih saja bersin, dia kesulitan berbicara.


Sir Lotus yang di samping Teril seketika bergeser dari tempatnya semula menjauh dari Teril.


" Apa kau? Kenapa kau menjauh sepert—Hatchim! " Teril protes.


" Ugh....menjauhlah Teril lima langkah ke belakang! " Titah Leon sambil menutup hidung.


" Baiklah." Teril pun dengan wajah kaku mundur ke belakang sesuai perintah Leon.


" Katakan cepat! " Tegas Leon.


" Qisar kembali Baginda, dia—hac..membawa buntelan bulu yang di mak—Haaaatchiimm.....!

__ADS_1


' Gubrak....! ' Bersamaan dengan laporan yang di akhiri bersin Teril, Leon beranjak dari kursi tempatnya duduk, sampai kursi itu terjungkal ke belakang.


Lotus dan Teril yang ada di ruangan itu kaget dengan mata bulat yang seolah akan keluar dari tempatnya.


| Kenapa baginda sampai merespon seperti itu? Memangnya kenapa jika Qisar pulang? | Lotus bertanya-tanya dalam batinnya.


| Ughh..! Apalagi yang akan beliau lakukan sekarang? Sudah cukup membuatku bersin-bersin sampai mau keluar ingus...! | Pikir Teril curiga.


' Swoossssss...! ' Angin kencang tiba-tiba melintas, ternyata itu Leon yang berlari menuju pintu keluar.


Leon segera pergi dari ruangan dengan tergesah-gesah. Hal itu membuat Lotus dan Teril semakin kaget.


" ......! " Teril syok, dia diam melihat Leon keluar dan menghilang begitu saja.


" ......Ke-kejar baginda...! " Seru Lotus, dia pun meraih tangan Teril dan berlari mengejar Leon.


" Kenapa tidak ada aba-aba dulu kalau mau lari..!!!!! " Teriak Teril yang terpaksa berlari mengikuti langkah Lotus yang cepat.


...----------------...


Halaman istana bagian depan di dekat air mancur.



" Tabib, dokter, dan penyihir penyembuh pun mengatakan kucing ini baik-baik saja. Lalu apa yang salah dengannya? Kenapa dia tidak bangun. " Qisar yang duduk di bata dekat air mancur, dia bertanya-tanya mengenai kucing yang dia bawa.


' Glek.....! ' Qisar menelan ludahnya melihat air yang ada di kolam istana.


" Apa aku minum air ini saja, ya? " Pikir Qisar tergoda dengan air di depannya.


" Tidak, tidak....Tidak boleh! " Qisar menggelengkan kepalanya sesekali, dia mau tidak mau harus menahan haus, dari pada meminum air kolam.


" Qisar! " Lalu terdengar suara yang memanggil namanya.


Qisar pun menoleh, matanya sama seperti seperti Teril dan Lotus tadi. Qisar melihat Leon berlari ke arahnya dengan keringat yang bercucuran.


" Ba-baginda.....! " Panggil Qisar pelan.


" Hoshh.....Mana K—


' Bruk...! ' Qisar tiba-tiba merosot ke bawah dengan kedua lutut di tekuk.


" Apa ini..? " Leon yang menghadapi situasi sekarang, dia bingung.


" Saya pantas mati baginda!...Tolong penggal leher saya sekarang! " Qisar tiba-tiba berbicara dengan nada serius dan mata yang berkilat penuh kesetiaan.


" Apa maksudmu sekarang! Kau ingin di penggal? " Tanya Leon seraya mengacak rambutnya kesal.

__ADS_1


" Benar baginda, beraninya saya membuat keringat berharga anda berjatuhan ke tanah. Saya sudah sepantasnya mati baginda. " Ucap Qisar bersungguh-sungguh matanya pun semakin berkilat, namun di sertai air mata.


" Haaa...." Leon hanya menghela nafas, dan diam dengan seribu kata di pikiran nya.


" .....Huaaaaaa......apa yang dia katakan baginda? Penggal? kepala siapa yang mau di penggal..? " Teril yang baru datang setelah mengejar Leon bersama Lotus bertanya.


" Hatchimm..! " Teril bersin lagi.


" Teril, menjauh 3 langkah ke belakang. " Titah Leon.


" Baik. " Teril patuh dan mundur 3 langkah.


" Kau tidak akan ku penggal, sekarang mana Kyu, ku? " Tanya Leon dengan wajah datar malas kepada Qisar.


" Benarkah? Apa saya di ampuni? " Tanya Qisar sumringah.


| Kenapa aku memiliki kesatria idiot sepertinya? Sejak kapan itu? Masa bodo, dia idiot, tapi soal pedang dan pertarungan setidaknya dia pintar. | Batin Leon sudah lelah dengan bawahannya.


" Cepat! Serahkan Kyuku! " Leon tidak sabar.


Qisar berdiri, dan dia memberikan Kaluna dengan kedua tangannya. Kaluna masih belum bangun, dia bahkan tidak tahu sudah di bawa ke istana karena Dewa yang telah mengutuknya.


Tangan Leon gemetar ketika akan menerima Kaluna. Lotus, dan Teril membuat ekspresi kaget lagi.


| Baginda....Baginda yang itu? Gemetar saat menerima seekor kucing? | Teril dalam batinnya merinding.


| Gila, padahal beliau tidak gemetar saat menerima mahkota dan pedang kerajaan saat di nobatkan menjadi raja. Beliau bahkan tidak pernah gemetar saat membunuh orang, ataupun berperang. Lalu? Kenapa sekarang tangannya terlihat gemetar, seolah takut jika hewan itu akan hancur. | Batin Lotus tidak percaya.


Leon menerima Kaluna, dia pun menggendong Kaluna ke dalam pelukannya.


Tapi, Leon menyadari sesuatu.


" Tunggu....


Leon kembali mengecek kucing yang ada di pangkuannya. Menyadari kucing itu tidak bergerak, Leon menggertakkan giginya marah dan berteriak.


" Qisar! Jawab! " Teriak Leon marah dan bertanya.


" It-itu....Kucing itu baik-baik saja baginda, mungkin sebentar lagi dia akan bangun. " Jawab Qisar gugup dengan keringat dingin takut yang keluar dari tubuhnya.


Lotus dan Teril yang ada di belakang Leon, mereka pun ikut bergidik takut. Baru kali ini Leon berteriak kencang selain kepada para bangsawan.


" Ikut denganku ke ruanganku, aku ingin mendengar penjelasan darimu. " Ucap Leoj dingin seraya berbalik pergi.


" Sa-saya mengerti baginda. " Jawab Qisar.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2