
Malam hari di Kastil Count Hazel, masih di ruangan Leon. Tubuh seorang wanita tergeletak di lantai tanpa adanya tanda-tanda kehidupan.
Ruangan itu sunyi, pemiliknya masih belum kembali. Beberapa saat berlalu, suara erangan ringan terdengar.
" Ugh...tidak sakit. " Suara wanita pada malam itu terdengar, lembut, berani, dan manis.
" Ehh-
" Su-suaraku?! " Dia meninggikan suaranya memastikan sesuatu.
Kemudian dia mengelus tangannya perlahan.
" Lengan? Ini benar aku? " Dia terus bertanya mastikan.
Saat dia kebingungan dengan itu, dia pun melirik satu cermin di pojok dekat dengan kursi.
Dia berdiri kaku, dan berjalan menuju cermin.
" Aku..
" Kembali....
Dia melihat dirinya sendiri di cermin. Rambut hitam panjang seindah awan malam, bola mata berwarna biru keemasan, bibir merah yang menawan, kulit putih yang mulus.
Kaluna, berada pada wujudnya sebagai manusia.
" Aku kembali? " Kaluna merasa senang, setelah sekian lama, dia akhirnya kembali sebagai manusia.
" .....Ini....tidak mungkin! " Kaluna merasa tidak percaya dia pun mulai melangkahkan kakinya.
Dia jelas merasakan lantai yang dia pijak, dia pun mencubit pipinya sampai merah.
" Aw...! Aduh, sakit. " Ringisnya ringan.
" Ini bukan mimpi. " Ucapnya sekali lagi.
Saat dia senang, dia meloncat kegirangan. Tentu saja dalam berjalan dia masih kaku.
" Aku....telanjang! " Kaluna baru menyadarinya.
Dia pun berjalan ke arah lemari untuk mendapatkan pakaian, cara jalannya aneh, karena dia sudah lama tidak menggunakan kakinya sebagai manusia.
Kaluna membuka lemari, dia pun mengobrak-abrik lemari itu.
" Ini dia! " Serunya girang.
__ADS_1
Dia menemukan jubah hitam milik Leon, dia menutupi tubuhnya dengan jubah itu. Saat dia sibuk dengan jubah, kilatan permata menarik perhatian Kaluna.
" .....Jika aku menggunakan itu untuk membeli pakaian. Aku pasti akan di tuduh mencuri...
" Mau bagaimana, hartaku di tinggal di hutan Alika. " Gumam Kaluna.
" Ya, aku harus keluar dari sini untuk membeli pakaian. Sekalian saja aku menolong orang-orang di sini. " Kaluna mengatakan rencananya.
Tanpa pikir panjang, Kaluna membaca mantra dan menghilang begitu saja.
Hal itu akan membuat dampak.
...----------------...
" Baginda! Ada masalah. " Seorang penjaga dengan cepat masuk menerobos ruang rapat.
" Apa yang terjadi sampai kamu tidak sopan seperti itu?! " Leon dengan suara tidak suka bertanya.
" Nona kucing menghilang. " Lapo penjaga itu sedikit takut.
Leon dengan cepat beranjak dari kursinya, dia memasang wajah marah.
" Apa yang sebenarnya terjadi? " Tanya Leon masih bisa tenang.
" Alarm penggunaan sihir tinggi berbunyi setelah di selidiki ternyata itu berasal dari ruangan anda. Kami dan Butler yang anda bawa mengecek ruangan itu, namun tidak ada apa-apa. Hanya saja, ruangan itu berantakan...
" Count? Apa-apaan ini? Apa penjagaan kastil ini sangat buruk sampai Kyuku pun hilang begitu saja? " Leon mempertanyakan keamanan kastil Count.
" Maaf baginda, biasanya sihir tingkat menengah atau kecil bisa tertahan. Tapi ada kemungkinan sihir itu sangat besar sehingga penahan pemakaian sihir di sini lepas. " Jawab Count Hazel.
" Alarm itu menandakan penahan energi sihir lepas. Ternyata ada orang hebat yang mampu melewati batas penahan energi sihir. " Gumam Leon.
| Penahan energi sihir, jika seseorang menggunakan sihir tingkat rendah, mereka tidak bisa menggunakan sihir di sini, jika tingkat menengah sihir akan bisa di gunakan di sini, hanya saja terbatas. Jika Alarm sihir sampai berbunyi seperti itu, sudah pasti penggunaan nya sangat tinggi.| Leon dalam batinnya.
" Pembicaraan kita sampai di sini saja. Teril, biarkan dokter istana, dan pendeta istana membantu ke lapangan. Beri makanan yang cukup untuk mereka yang kelaparan, dan perlakukan mereka layaknya manusia bukan hewan. " Perintah Leon tegas.
" Saya mengerti baginda. " Jawab Teril patuh.
...----------------...
Aku sudah keluar sejak malam, dan ini sudah pagi. Aku mencari penjual pakaian di sini dan baru mendapatkannya.
Untung saja, aku bisa tidur di mana saja berkat kehidupanku sebagai kucing. Tentu saja tidak mudah.
Dari pada itu, pagi ini aku harus membantu para pendeta yang kesulitan menangani pasien.
__ADS_1
" Pria itu, bagaimana dia akan bereaksi saat kucingnya tidak ada? " Aku bergumam bertanya bagaimana reaksi Leon ketika dia menyadari aku menghilang.
Tapi, aku harus berhenti memikirkan nya, sampai sekarang aku masih menjadi manusia, lebih baik aku pergunakan dulu sebelum berubah lagi menjadi kucing hitam.
Aku berjalan dengan jubah hitam berumbai merah dan emas yang baru saja aku beli. Aku juga membeli gaun hitam untuk aku kenakan.
Penampilanku sangat misterius, dan aku sengaja melakukan ini agar tidak banyak yang melihatku.
Setelah lama berjalan, aku akhirnya sampai di balai pengobatan. Aku berdiri menatap para pendeta yang kesulitan.
| Kekuatan suciku tidak mampu menyembuhkan semuanya, tapi setidaknya aku bisa mengurangi sebagian. | Batinku.
Suasana saat itu cukup mengerikan.
Tanpa basa basi aku mengucap beberapa mantra....
Saat aku tengah berdiri dengan bibir sibuk membaca mantra tiba-tiba seseorang berbicara dari belakang.
Aku pun tanpa sadar berbalik karena reflek.
" Siapa kamu? " Pria dengan nada dingin bertanya, aku menatap pria itu lekat sosoknya berambut putih dengan wajah acuh, dan matanya berwarna biru indah.
" Ah...Pria brengsek....." Itulah yang aku katakan dengan bahasa manusia untuk pertama kalinya.
" Apa?! " Leon, dia mengerut.
" Brengsek? Nona, apa kita pernah bertemu? Kenapa anda berkata cukup kasar? " Dia bertanya sopan, namun jelas sekali kerutan di dahinya.
" Entahlah, lebih baik anda menyingkir dari jalan saya, saya akan membantu mereka. " Ucapku seraya melewatinya.
" Berhenti di situ! " Dia berteriak dan menahan tanganku.
" Jika saja anda bukan majikan saya, sudah pasti saya akan melakukan sesuatu. " Itulah yang aku katakan.
Jika dia bukan orang yang memberiku makanan enak, aku mungkin sudah melakukan sesuatu.
" Majikan? Apa kamu pelayan yang ku bawa? " Tanya pria itu ragu.
" Ya, mungkin. " Jawabku seraya melepaskan tangan yang memegangku.
...----------------...
BERSAMBUNG.....
__ADS_1
" Dia menggila hanya karena kucing....pria yang aneh. "