
Di saat mereka sedang bercakap-cakap dan asik dengan Kaluna. Suara lelaki di luar pintu terdengar.
" Baginda, anda mau kemana? " Suara di balik pintu.
" Tentu saja menjemput Kyuku. " Suara ini sudah pasti milik Leon.
" Tadi anda bilang akan makan, kenapa malah ke sini. " Suara ini pasti milik Teril.
Para kesatria yang ada di dalam kamar Kaluna mereka menyadari bahwa itu Leon, dan Teril.
Mereka pun dengan panik saling memberi perintah.
" Ce-cepat bereskan semuanya! Itu baginda! " Bisik Qisar panik.
" Cepat! Ambil itu, lalu itu...." Qisar dengan jarinya menunjuk benda ini dan itu.
Lotus, Ken dan yang lainnya bingung kenapa hanya mereka yang membereskan semuanya, sedangkan Qisar hanya menunjuk saja.
' Buk..!
" Bedebah! Kau hanya menunjuk saja, bersihkan semuanya bersama! " Lotus yang selalu diam datar, dia pun memukul punggung Qisar, dan menyuruhnya bekerja sama.
" Siapa yang mengeluarkan banyak aksesori....." Ken yang sedang memungut aksesori bergumam.
" Cepat bereskan, masukkan itu ke kelemari! dan jangan berdebat. " Leila melerai kedua lelaki itu
" Jika baginda tahu kalian bermain-main dengan hewan peliharaan miliknya. Baginda akan menghukum kalian. " Alfon malah menakuti mereka dengan kata-katanya.
" Baginda kan menyuruh kalian hanya menjaga, dan mengantarkan mainan untuk kucing itu. Tapi kalian malah bermain-main. " Ucap Alfon sekali lagi.
" Ughhh......aku tahu itu! Jangan berbicara lagi. " Ucap Qisar.
" Ngomong-ngomong. Bukankah Alfon juga ikut bermain. " Ucap Leila.
Alfon membuang wajahnya, dia tidak mau mengakui bahwa dirinya juga ikut terlibat.
" Butler Alfon.....anda juga terlibat. " Ucap Qisar dengan tatapan menusuk.
| Kenapa mereka sangat takut dengan lelaki itu? Bagiku dia biasa saja.| Kaluna berpendapat.
Sementara yang lain sibuk membereskan tempat kekacawan yang mereka buat, Kaluna asik menjilat bulunya, dan cakarnya.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Leon muncul bersama dengan Teril. Begitu pintu dibuka, Leon dan Teril terdiam kaku melihat para bawahannya berjongkok di bawah dengan barang-barang aneh dalam dekapan mereka.
" Apa ini? " Tanya Leon sedang memahami situasi.
Di tengah kesunyian, dan angin yang berhembus dingin di ruangan itu, tiba-tiba sesuatu menggelinding...
' Glinding....glinding...
' Tak.....
Benda itu berhenti di bawah sepatu Leon.
" Bola keristal?...." Leon mengambil bola kristal yang berwarna ruby, dan melihatnya jelas.
" Kalian.....
Leon melirik tajam bawahnya yang sudah kaku dengan posisi berjongkok. Mereka jelas ketakutan.
" Bereskan itu cepat dan berjongkok di bawah dengan tangan terangkat! " Teriak Leon sembari menatap mereka bulat.
" Ba-baik baginda...." Mereka pun serentak menjawab dan membereskan semuanya cepat.
...----------------...
Para kesatria yang tadi sibuk bermain-main denganku, mereka sekarang tengah berjongkok di bawah kaki pria itu.
Aku cukup menikmatinya, mereka berjongkok dengan tangan lurus ke atas, kira-kira ini sudah lebih dari satu jam.
" Apa kalian bermain-main? " Pria itu bertanya dengan nada tidak suka, dia sepertinya marah.
Sedangkan para kesatria, mereka menjawab dengan suara rendah yang terdengar menyesal.
" Tidak baginda. " Jawab mereka serentak.
" Jawab! " Pria itu semakin meninggikan suaranya.
" Benar, baginda. Kami mohon ampun. " Pada akhirnya mereka pun mengaku, dan memohon ampun.
Melihat tangan mereka yang sudah gemetar pegal, dan wajah mereka yang seolah akan menangis, sepertinya aku harus berbuat sesuatu.
" Eong.....
__ADS_1
" Nyang....Nyang..." Aku menggaruk sopa agar pria itu tertuju padaku.
" Eong, Eong...." Setelah aku mengeong beberapa kali di sertai cakaran kecilku. Pria itu menoleh dengan sorot mata yang berbeda.
Ketika dia menatap para bawahannya matanya tajam, seperti harimau dewasa. Saat menatapku, dia terlihat seperti seekor anak harimau.
Matanya yang bulat ketika menatap bawahannya, kini berubah menjadi bulan sabit begitu pula dengan senyumnya.
" Kyu...Kau memanggilku? " Tanyanya lembut.
" Miaw....." Aku hanya menjawab dan memiringkan wajahku.
Baru setelah itu aku meloncat ke arah bawahan yang sedang dia hukum, dan mengeong beberapan kali.
Para bawahan menatapku, terutama Qisar, matanya berbinar-binar berharap di selamatkan.
" Kyu....Kau mau..
Ya, selamatkan mereka terutama Ken.
" Kau ingin aku menghukum mereka dengan berat? Kau pasti sangat menderita karena mereka. " Alih-alih melepaskan hukuman mereka, pria ini malah ingin menambah hukuman yang lebih berat.
Bukan ini maksudku, kau salah. Lepaskan mereka, Leila bahkan terlihat kering seperti itu.
" Hatchim...." Tiba-tiba satu orang yang selalu ada di samping pria itu bersin.
Dia adalah orang yang selalu bersin ketika bersamaku. Apa aku gunakan saja dia, yah itulah yang aku pikirkan.
" Baginda saya pergi dulu!!!! " Tapi sebelum aku menghampiri lelaki itu, dia malah kabur begitu saja.
" Hinggg...." Aku pun berpura-pura murung.
" Kyu? ada apa? " Tanya pria itu terlihat khawatir.
" Eong. " Sambil mengeong aku pun tiba-tiba menguap.
" Kyu menguap. Dia pasti mengantuk, kalau begitu...." Pria itu menatap tajam lagi ke arah bawahannya yang sudah lemas, gemetar.
" Pergilah kalian, jangan berisik! " Teriak pria itu menyuruh mereka pergi.
Hanya dengan menguap, aku berhasil membebaskan mereka.
__ADS_1
Mereka tentu saja segera pergi dengan tampang loyo, tapi mata mereka menatap ke arahku dengan mata berbinar seolah mengatakan terima kasih sudah menyelamatkan kami.
...----------------...