Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)

Penyihir Terkutuk (Cursed Witch)
CHAPTER 24


__ADS_3

Leon berjalan di koridor menuju kamar tempat Kaluna terbaring. Leon merasa dirinya harus segera menuju ruangan itu.


Tepatnya, dia tidak sabar menunggu wanita yang menyembuhkan pasien di ruang perawatan bangun.


" Aku harus bertanya padanya, siapa dia? dan dari mana dia. Saat itu dia pasti berbohong soal identitas nya " Leon bergumam dengan langkah kaki tidak sabar untuk sampai ke ruangan tempat wanita tersebut terbaring.


Setelah beberapa saat berjalan, Leon terhenti di depan pintu besar ruangan wanita tersebut berada.


Di setiap sisi berdiri penjaga pintu dengan badan yang sudah membungkuk memberinya hormat.


Leon tidak terlalu peduli dengan penjaga di setiap sisinya. Dengan mata yang tiba-tiba menyipit menatap pintu di depannya, dia perlahan mengulurkan kedua tangannya pada kedua gagang pintu itu, lalu dia segera membukanya lebar.


" ......Kuharap dia sudah sadar. " Gumam Leon, dia masuk ke dalam ruangan yang cukup besar, dan mulai menuju kasur tempat wanita tersebut berbaring.


' Swoooshh,- Angin malam terasa dingin dari luar, karena jendela yang terbuka.


" ......? " Langkah Leon terhenti ketika angin itu menggelitik kulitnya, dia pun menatap aneh ke arah jendela.


" Siapa yang membuka jendela di malam hari? " Gumam Leon, dia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju tujuan awal.


Sesampai di depan kasur, Leon terdiam untuk sementara waktu, dia melihat sosok perempuan itu masih tertidur lelap.


Rambutnya yang hitam berserakan di atas bantal putih, sehingga sangat menonjol. Kulit yang terlihat segar, bulu mata yang lentik, bentuk wajah yang menarik seperti lukisan dewi.


Leon menatap wanita itu, tanpa sadar dia terus memperhatikan nya.


" Ha! Apa yang kau lakukan...." Leon menghela, dia sadar sudah menatap wanita asing itu cukup lama.


Wajah nya berpaling berusaha untuk tidak tertarik, saat itu wajah Leon memerah karena malu.


Itu karena Leon terpesona dengan kecantikan wanita yang terbaring seperti putri tidur. Baru kali ini dia merasakan ketertarikan terhadap seorang wanita.


" Leon, Leon, bagaimana bisa kau tertarik dengan wanita asing yang baru pertama kali kau temui....." Leon bergumam kepada dirinya sendiri.


Dia menepis rasa ketertarikannya, dan kembali merasionalkan pikirannya.


" Bangun! Aku tidak bisa menunggumu selalu. Ada hal yang lebih penting yang harus ku lakukan sekarang. " Leon kembali dengan nada acuhnya.


" Ha....Cepatlah sadar. "


Leon menghela nafas sesekali, dan dia duduk dikursi samping tempat tidur, sama seperti saat itu.


Leon terus menunggu di samping Kaluna yang terbaring, beberapa detik, menit, dan jam terlewat. Terus menunggu, hingga akhirnya Leon memutuskan untuk pergi.

__ADS_1


" Baiklah, besok aku akan datang lagi. " Ucap Leon.


" Sekarang aku harus mencari peliharaan ku yang hilang tiba-tiba seperti sihir. " Leon bergumam.


Dia pun berdiri, dan berjalan pergi. Setelah Leon pergi, wanita itu membuka matanya, dan dia bergumam.


" Itu tidak berguna, Kyumu ada di sini. " Gumamnya, Kaluna ternyata sudah bangun sejak tadi.


...----------------...


Setelah pria itu pergi, aku langsung turun dari tempat tidur dan mengambil beberapa kertas dan pena.


" Tidak sulit menemukan semuanya di ruangan ini. " Aku bergumam seraya mengambil kertas dan pena yang ada di meja dekat rak buku.


Lalu, aku duduk kembali di sopa yang dekat dengan jendela. Tentu saja aku menulis bahasa Samantha, meskipun tulisannya tidak bagus.


Karena aku sebentar lagi pasti akan kembali menjadi kucing hitam, aku harus segera menuliskan ramuan wabah yang melanda saat ini. Bisa di katakan Vaksin.


Wabah ini sudah pernah terjadi dulu, sayangnya tidak ada tabib berbakat seperti saat ini.


" Lataron, henslyeen, Zulier, dan bunga quela. Lalu....." Aku menuliskan semuanya, dan aku juga mengatakan ramuan ini harus di uji terlebih dahulu, dan di kembangkan menjadi lebih baik lagi.


Setelah selesai menuliskan ramuan, aku melipat kertasnya dan menaruhnya di atas kasur.


Tapi sebelum itu, aku harus menikmati angin malam ini. Aku duduk di tepi jendela, dan menatap bulan.


Kata-kata Leon tiba-tiba terlintas di pikiranku.


' Leon, Leon, bagaimana bisa kamu tertarik pada wanita asing yang baru pertama kau temui.....


Aku tidak mengerti apa maksudnya, dia tertarik padaku? Benar juga, kenapa aku tidak mengerti, dia pasti tertarik karena kekuatan ku. Aku sudah terbiasa dengan itu.


Tapi aku tidak menyangka dia akan menungguku sadar. Sebenarnya aku sudah sadar sebelum dia datang, jendela itu pun aku yang membukannya.


Ketika aku menyadari ada seseorang yang akan masuk, aku langsung berlari kecil ke atas ranjang dan mengatur posisiku sama seperti posisi awal.


Aku berpura-pura tidur, tentunya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan.


Pria itu mengatakan aku harus bangun. Dia terus berbicara. Suaranya lelah dan angkuh.


" Leon....apa arti namanya itu? " Gumamku yang masih menatap bulan.


Setelah beberapa waktu berlalu, dan ketika aku menikmati indahnya bulan di malam hari, saat itulah aku kembali menjadi kucing hitam.

__ADS_1



" Meong....." Ya, suara kucingku kembali lagi dan kekuatanku sangat terasa sekali, kuat dan murni.


Meskipun tidak seperti dulu. Ini sudah cukup.


Sekarang aku harus kembali.


...----------------...


" Sejak kucing itu hilang, Baginda terlihat tidak fokus bekerja, terutama saat beliau menatap pita dan liontin yang terakhir di kenakan oleh kucingnya. Dia selalu tersenyum, meskipun itu bukan pertama kalinya beliau seperti itu. " Teril yang sedang berjalan di koridor dia bergumam.


" Namun, setelah senyuman-senyuman itu keluar akan ada sesuatu yang terjadi. Yah, seperti meja terbelah dua, kaca yang pecah, tinta, pena berserakan, tapi itu hal yang sepele dan kecil. Yang paling berat adalah, beliau tidak bisa menahan emosi dan bisa membunuh seseorang kapan saja. " Gumam Teril.


Teril mengatakan hal-hal yang sering dia alami selama menjadi ajudan Leon. Leon yang kehilangan kucingnya, dia dalam gangguan seperti yang di katakan Teril.


Teril sampai di tempat tujuannya, dia sekarang berdiri di depan pintu kamar Leon.


" Ha....tenanglah, tidak akan ada lampu terbang. " Teril menghela halus, seraya mengelus dadanya.


" Baginda, ini saya. " Teril pun langsung mengatakan kedatangannya.


" Masuk! " Suara yang tidak mau di ganggu terdengar.


" Ha, sudah jelas dari nada bicaranya. " Ucap Teril seraya membuka pintu.


Setelah pintu terbuka, sosok Leon berdiri di depan jendela membelakangi Teril.


" Salam baginda. " Teril memberi salam.


" Bagaimana? Apa kalian menemukannya? " Tanya Leon dingin.


" Tidak baginda. Nona kucing sepertinya hilang, anda lebih baik mencari pengganti lain. Masih banyak kucing yang mirip dengan nona kucing. " Teril mengusulkan.


" Heh...sepertinya aku terlalu memanjakan mu Teril. Kau tahu, aku tidak suka sesuatu yang sama, atau pun mirip. " Leon berbalik menatap Teril dengan mata bringas.


Saat ituTeril gemetar hebat, meskipun ini bukan pertama kalinya, tapi saat ini, Leon terlihat marah.


" Teril, sekali lagi kau mengatakan usulan itu, lidahmu harus rela menghilang. Tidak buruk memiliki ajudan yang bisu, dari pada cerewet sepertimu. " Leon mengatakan hal itu tajam dan serius.


" Saya mohon ampun baginda. " Ucap Teril.


" Pergilah, dan cari dia terus. " Leon berbicara.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2