
" Kyu, kau bisa bertingkah imut seperti ini apa karena pelayan mu berkata benar? " Pria itu bertanya dengan ekspresi wajah serius.
" Nyang.... " Tentu saja aku bersuara agar dia sedikit mengerti, bahwa aku setuju dengan Leila.
Setelah aku bersuara pria itu mengangguk mengerti, dan dia mengatakan untuk menarik makanan mentah di meja milikku.
" Kalau begitu singkirkan ikan mentah itu! " Perintahnya tegas.
Aku naik lagi ke kursiku, dan melihat para pelayan mengangkut ikan mentah itu, betapa senangnya aku ketika ikan itu di angkat.
" Kau ini benar-benar kucing yang aneh. " Pria itu bergumam dengan nada rendah.
Tentu saja, karena aku bukan kucing, aku manusia. Mungkin suatu saat kau akan kaget mengetahui identitasku, tapi itu tidak mungkin.
Karena aku akan pergi dari kerajaan Samantha setelah kutukan ini hilang.
Saat aku larut dalam pikiranku, pria itu menyodorkan setumpuk daging sapi yang di baluri bumbu merah, dan bawang goreng.
Tentu saja daging itu sudah di potong-potong kecil, aku pikir dia lumayan perhatian kepada hewan sepertiku.
" Kyu, cepat makan ini. Aku ingin melihat kamu mengunyah daging ini di depanku. " Ucap pria itu dengan wajah berharap.
Karena dia sudah baik, aku perlahan mulai mengedus daging itu...
Tentu saja, itu harum. Setelah aku mengendusnya, mulutku pun perlahan terbuka, dan melahap daging itu pelan.
Saat daging itu masuk ke mulutku, rasanya sangat gurih, dan meleleh di mulut ku yang kecil. Tekstur nya lembut, benar-benar hidangan mewah istana.
Tanpa sadar aku terus memakan daging itu, tanpa melihat sekeliling.
" Kyu, kamu makan sangar rapih, dan anggun. " Aku baru sadar saat Leon berkata seperti itu.
Memang cara makanku tidak seperti kucing lainnya, membungkuk dan mengunci daging di kakinya.
Aku hanya membungkuk untuk mengambil makanan, lalu duduk tegak lurus ke depan sambil mengunyah makanan yang ada di mulutku.
Terus seperti itu, jika ada yang menempel di mulut atau buluku, aku pasti langsung menyekanya dengan kaki depanku.
Wajar dia mengatakan hal itu, lagi pula dia tidak akan pernah mengira bahwa aku penyihir agung yang di kutuk.
" Kalian melihatnya kan? " Tiba-tiba Leon bertanya pada pelayanya.
Para pelayan yang ada di sana memang terlihat cukup kaget.
__ADS_1
Mereka menjawab dengan wajah takjub.
" Benar baginda, peliharaan baginda sangat menakjubkan. " Jawab mereka.
" Kalian benar, Kyu ku sangat menakjubkan. Bulunya yang hitam sangat elegan, hidungnya yang kecil cukup lucu, dan bulu kumisnya seperti ikan lele di kolam istana. " Aku tidak tahu itu di sebut pujian atau hinaan.
Kau terlalu melebih-lebihkan. Bagi orang lain kucing hitam memiliki arti kesialan. Sama hal nya dengan takdirku, sial.
" Baginda..." Penjaga masuk dan berbisik.
" Biarkan Teril masuk. " Ucap pria itu, aku menebak ajudannya yang sering bersin itu meminta izin masuk.
" Saya mengerti. " Penjaga itu keluar, tidak lama kemudian ajudan yang ku maksud pun muncul.
" Hatchim....! " Ya, baru beberapa langkah dia sudah bersin.
" Teril behenti di situ, dan kalian para pelayan keluarlah, aku ingin berbicara dengan Teril di sini. " Pria itu meminta para pelayan meninggalkam ruangan, sepertinya ada hal penting yang ingin dia bicarakan.
Karena itu, aku tidak mau mengganggu mereka, aku memutuskan untuk turun dan berhenti makan.
Tapi, pria itu menggendongku kembali, dan menaruhku di sampingnya.
" Kyu, kamu tetap di sini. " Ucapnya lembut.
Ya, lagi pula aku hanya seekor kucing bagi kalian. Mana mungkin jadi ancaman.
" Apa laporanmu? " Tanyanya.
" Saya ingin melaporkan bahwa saya sudah berhasil menemukan lukisan yang anda minta. " Jawab Teril, kali ini dia cukup serius.
" Perlihatkan padaku. " Dengan suara acuhnya dia meminta.
" Ini baginda, lukisan penyihir itu. " Saat aku mendengar kata penyihir, aku pun ikut tertarik.
" Kaluna, penyihir itu mari kita lihat bagaimana bentuknya. " Aku cukup terkejut mendengar ucapan Leon yang tanpa ekspresi.
Dia bilang Kaluna, penyihir. Sudah pasti itu aku, kenapa dia mencariku? Apa kalian masih tidak bisa melepaskanku?
Kenapa?
Saay aku bertanya-tanya, Leon yang membuka buku yang berisikan lukisanku, dia memasang wajah mengerut tidak yakin.
" Ini....apa ini benar penyihir itu? " Tanyanya.
Aku penasaran memangnya bagaimana aku di lukis di sana.
__ADS_1
" Kyu, coba lihat. Bagaimana menurutmu? " Pas sekali Leon memperlihatkannya padaku.
Ini.....siapa ini?
Aku bertanya ketika aku melihat lukisan di buku itu.
Siapa perempuan ini? ini bukan aku! Aku tidak setua itu!
Lukisan itu sangat berbeda denganku, memang benar aku dulu memakai pakaian itu, tapi wajahku bukan itu!
Karena marah, aku mencakar lukisan itu sampai robek.
" Kyu! " Leon kaget dengan reaksiku.
" Baginda! Lukisannya? " Teril pun ikut bereaksi.
" Kyu, kau kenapa? " Tanya pria itu.
Aku marah, lukisan itu tidak sesuai dengan wajahku. Entah aku harus senang atau marah, tapi aku rasa saat ini aku sangat marah!
...----------------...
Wilayah Count Hazel malam hari.
Rumah, jalan, dan bangunan-bangunan yang tadinya berdiri kokoh dan ramai penduduk, sekarang seperti wilayah mati.
" Tolong.....
" Selamatkan saya...."
Para rakyat di wilayah Count terus berseru meminta di selamatkan. Mereka terjangkit wabah yang waktu itu Teril katakan.
Kulit mereka melepuh seperti luka bakar, dan muntah darah.
" Kita ke kurang pendeta, apa Count sudah melapor pada baginda? " Tanya pendeta dengan pangkat rendah.
" Beliau sudah mengirim pendeta istana ke sini, dan katanya beliau akan datang besok. " Jawab prajurit Count yang tengah bertugas.
...----------------...
BERSAMBUNG......
" Siapa kamu? "
__ADS_1