
" Baginda, apa ada yang lain lagi? " Tanya pelayan pria yang melayani Leon.
Leon yang duduk di atas kursi kayu, dia hanya memberi kode dengan tangannya agar pelayan itu pergi.
" Kalau begitu saya permisi, baginda. " Pelayan itu kemudian pergi setelah memberi hormat.
Di sebelah kanan Leon menaruh Kaluna si kucing, dia bahkan sempat menyuruh Qisar memberikan alas untuk kucing itu duduk.
Dalam posisi itu Kaluna cukup bingung, dia hanya duduk layaknya kucing.
" Nyang...." | Apa?...| Kaluna bertanya karena dia tidak tahan di tatap terus-menerus oleh Leon.
Leon menatap Kaluna tanpa berkedip sekalipun, wajahnya tidak bergeming atau memberikan reaksi apapun.
| Bicaralah! Aku tidak suka jika kamu diam tanpa kata seperti itu. |
Tentu saja Kaluna tidak suka, dari pada diam lebih baik bersuara, agar Kaluna tahu apa yang di inginkan laki-laki di depannya.
Karena tidak ada pergerakan apapun dari Leon, Kaluna memutuskan untuk menjilat tubuhnya layaknya kucing.
Di membersihkan bulunya dengan lidahnya, dari pada dia diam melihat mata Leon yang menyala ke arahnya.
" ....Makan.." Setelah lama menatap kucing Kaluna, Leon akhirnya berbicara.
Kaluna menghentikan gerakan pembersih bulunya, lalu menatap Leon dan memiringkan kepalanya.
" Eong?..." | Apa katamu? | Tanya Kaluna masih dengan suara kucing.
" ....Apa makanan ini tidak sesuai dengan seleramu?...." Tanya Leon sembari melihat babi hutan yang ada di samping kaluna.
" Apa kau makan rumput? Buah-buahan? bunga? Kue?..." Leon yang menggaruk dagunya terlihat bingung, dia menanyakan makanan apa yang di sukai kucing.
" Aku memberi mu banyak, tapi kau tidak memakannya. " Ucap Leon heran.
" Eungg..." Kaluna hanya mendengus, dan membungkus dirinya.
| Apa kau kira aku itu macan? Buaya? Singa?! Kau memberiku bangkai hewan yang baru saja di buru, darahnya bahkan masih segar dan menetes. Tentu saja aku tidak memakannya. | Batin Kaluna kesal.
Ya, itulah kenapa Kaluna tidak mau memakannya. Leon berburu babi hutan, dia memberikannya untuk Kucing Kaluna langsung tanpa di potong atau di bersihkan.
Dia menyuruh pelayan tadi untuk membawa babi hutan itu ke hadap Kaluna.
" ...Apa ini kurang besar? Seharusnya ini cukup, perutmu kan kecil. " Ucap Leon datar.
| Kau sekarang paham kan, perutku kecil, mana mungkin bisa makan babi hutan sebesar sapi. | Kaluna hanya bisa membatin, jika dia bisa bicara, dia pasti sudah mengeluarkan kata-kata mutiara di depan wajah Leon.
" Baginda...." Suara pria memanggil dari luar tenda.
" Masuk. " Perintah Leon, tentu saja matanya masih menatap kucing di depannya.
" Baginda, maaf mengganggu waktu anda. " Pria yang sedang bicara ini adalah Lotus.
" Katakan sekarang, aku tidak tahu apa yang membawamu kemari. " Ucap Leon.
__ADS_1
" Sepertinya besok kita harus kembali Baginda, Teril mengirimkan pesan pada saya. Dia meminta saya agar membujuk anda untuk pulang. " Lotus mengatakan alasan dia ingin bertemu.
Kaluna yang mendengar percakapan mereka, dia hanya berkomentar dalam batinnya.
| Ya,ya. Pulanglah, kau lebih baik pulang. Jangan lupa lepaskan aku, ya. | Batin Kaluna.
" Baru beberapa hari aku cuti, dia sudah menyuruhku pulang. Sikap lancangnya memang tidak bisa di ubah. " Leon dengan wajah acuhnya menanggapi perkataan Lotus.
" Dia khawatir pada baginda. Anda sendiri tahu bagaimana Teril. " Timpa Lotus.
" Biarkan saja, dia pasti akan menyusulku ke sini. Ketika dia menyusulku ke sini, baru kita kembali. " Leon dengan rencana usilnya menyeringai.
| Ke kanak-kanakan sekali dia. Rasanya aku ingin berteriak dan mengatakannya langsung | Batin kucing Kaluna yang tidak tahan ingin bicara.
" Kau setuju denganku bukan? " Tanya Leon kepada Kaluna.
Melihat hal itu, Lotus merubah wajahnya yang tadinya datar menjadi mengerut datar.
" Ya, baginda? " Tanya Lotus, dia pikir Leon bertanya kepadanya.
" Aku bukan bertanya kepadamu, aku bertanya kepada kucing itu. " Jawab Leon.
" Ah. Saya kira anda bertanya pada saya. " Jawab Lotus, sedikit tersenyum.
" Lotus, kenapa kucing ini tidak mau makan? " Tanya Leon dengan wajah yang nampak penasaran.
Lotus melihat babi hutan yang tergeletak di atas meja. Dia pun sesekali mengangguk tanda paham dengan situasi saat ini.
| Akhirnya ada yang bisa menyadarkan Raja sok tahu ini. | Batin Kaluna senang.
| Di luar dugaanku. Ternyata dia sama-sama bodoh. | Ekspektasi kaluna seketika buyar, mendengar kata-kata Lotus.
| Tidak ada manusia yang benar di sini. Apa kewarasan manusia sekarang memang seperti ini. | Kaluna yang sudah hidup dua ratus tahun lebih, bertanya mengenai kewarasan manusia sekarang.
" Panggil pelayan. " Titah Leon.
" Saya mengerti. " Lotus pun pergi keluar untuk memanggil pelayan.
Leon berdiri dari duduk, dan dia menjulurkan tangan kanannya kearah Kaluna.
Pada saat itu Kaluna bersiap-siap untuk mengeluarkan cakarnya.
' Tep....
Baru Kaluna akan mencakar Leon, tangan besar itu segera menutup bagian kepala Kaluna.
" .....Sedikit lembut, tapi sedikit kasar. Aku harus merubahmu sebelum membawamu. " Leon terus berbicara, dia mengelus kepala Kaluna dengan tangan nya.
| A-apa ini?....| Batin Kaluna malu.
" Tapi sebelum itu, aku ingin memberimu nama. Sepertinya Leo sangat cocok denganmu...
" Eong, Meong.." | Leo, apa maksudmu, kau serius memberiku nama sebelum kau kuliti? | Walau tidak bisa di dengar Leon, Kaluna tetap bicara dengan mengeong beberapa kali.
__ADS_1
" Tidak, itu tidak cocok denganmu yang hitam ini. Selain itu Leo terlalu tidak sopan, karena namaku Leon, jadi tidak bisa. Bagaimana jika Kyu? Hmm..
| Apalagi Kyu....Tidak! namaku Kaluna, bukan Leo ataupun Kyu! | Tolakan keras batin Kaluna.
" Ya, cocok. Kyu, namamu Kyu. " Leon memberi nama Kaluna, tentu saja Kaluna tidak setuju.
Kaluna mulai mengeong dan mencakar alas yang dia duduki. Itu merupakan bentuk protes kepada Leon.
| Kaluna! Aku Kaluna! Jangan seenaknya memberi nama! Apalagi Kyu! Itu tidak terdengar hebat! | Kaluna terus protes dengan eongan yang dia buat.
Alih-alih sadar bahwa kucing hitam di depannya sedang mengamuk, Leon malah tersenyum, dan berkata.
" Sudah kuduga aku pandai dalam segala hal. Ketampanan, kepintaran jenius, kekuatan, dan kekayaan. Tidak ada yang kurang dariku. Lihat saja, kucing pun menyukai nama yang ku berikan. " Leon dengan omongan narsisnya.
| Kau gila? Apa aku yang gila mengharapkan pengertian mu ?...Ya aku gila. | Batin Kaluna menyerah.
Kaluna berjalan menjauh dari Leon, tiba-tiba Leon merangkulnya dan menggendongnya.
" Kemarilah Kyu, kau pasti kedinginan. " Ucap Leon, dia pun menaruh kembali Kaluna di atas alas tadi.
| Aku punya bulu! Mana mungkin kedinginan. | Teriakan batin kelas Kaluna.
Kaluna pun meringkuk lagi, dengan wajah merajuk, dan ekor yang bergoyang cepat ke kanan dan ke kiri.
Itu tandanya dia memang sangat marah.
...----------------...
Lorong Istana kerajaan.
Teril menerima pesan dari hutan Alika, pesan itu mengatakan bahwa Leon tidak akan pulang sesuai dengan keinginannya.
" Baginda memang keras kepala! Dia ingin aku mati muda karena memikirkannya. " Teril dengan suara yang lelah.
" Jika baginda ada di sini beliau pasti akan bilang, ekhem...
' Siapa suruh kau memikirkanku! Pergi sana urus pekerjaanmu! ' Lelaki yang sedikit berumur di samping Teril berbicara meniru kebiasaan Leon.
" Oho! Ternyata anda sudah pandai meniru baginda. Perkembangan macam apa itu, Butler Alfon?...." Ucap Teril.
Orang yang bersama dengan Teril adalah Butler Alfon, di sudah cukup tua dan lama mengabdi pada keluarga kerajaan.
Alfon bertanggung jawab terhadap makanan, minuman, alat makan, menyediakan pelayanan lain, dan kadang melakukan tugas-tugas lain.
" Saya hanya mengingat bagaimana cara baginda akan menanggapi perkataan anda. " Jawab Alfon sopan.
...----------------...
BERSAMBUNG....
" Apa kau babi? Kenapa kau hanya tidur meringkuk seperti itu? "
__ADS_1
| Diam! Atau nanti ku cabik! |