PEREMPUAN DAN KUBURAN

PEREMPUAN DAN KUBURAN
BERKENCAN DI KUBURAN


__ADS_3

Di dahan pohon mangga, burung hantu bertengger tenang dengan tatapan tajam ke sekeliling. Burung itu mendengkur. Bulu tebalnya bak selimut, melindungi tubuhnya dari angin yang membawa hawa dingin. Malam ini memang cukup dingin juga menyebalkan.


Lebih menyebalkan lagi, tatkala koak gagak terus menggema di sepanjang daerah pemakaman umum. Gagak itu terbang mengitari pemakaman, seakan-akan pemakaman itu adalah wilayah kekuasannya. Atau mungkin, gagak itu hanya sekadar hendak mencari mangsa untuk santapan malam ini.


Tidak hanya burung hantu dan gagak, para binatang malam seperti jangkrik dan kodok ikut serta bernyanyi guna memecah keheningan malam. Malam ini memang sungguh menyebalkan. Sorot lampu yang menerangi pemakaman sudah mulai redup, rumput-rumput liar dibuat menari oleh angin, dan beberapa nisan meretak dimakan waktu.


Malam ini pemakaman memang terlihat mencekam, namun, sepasang remaja malah datang mendekat. Mereka bergandengan tangan, menerobos belukar, dan menerangi jalan dengan senter. Oh, apa yang dipikirkan sepasang kekasih itu? dan apa yang hendak mereka lakukan berduaan di tanah kuburan yang sunyi dan menakutkan?


Perihal itu pun mulai mendapat jawaban, setelah si perempuan mengajukan sebuah pertanyaan. “Kita mau ke mana, Mal? Bukankah malam ini kita hendak berkencan?” demikian tanya si perempuan dengan getir. Tampaknya, kegelapan telah merangsang bulu kuduknya untuk berdiri.


Kumal tidak langsung menjawab pertanyaan kekasihnya itu, pemakaman umum sudah kian dekat, ia ingin menjawab pertanyaan kekasihnya di tempat itu. Ia menarik tangan kekasihnya, lantas berjalan lebih tergesa-gesa. Sesampai di deretan kuburan, Kumal pun memberikan jawaban yang sempat tertunda. “Ya, kita memang sedang berkencan.”


“Apa maksudmu kita sedang berkencan? Bukankah ini kuburan.”


Perempuan itu kian bergidik ngeri, deretan kuburan dengan sorot lampu remang-remang, nyaris membuat ia hendak kencing di celana. Ia ingin lari dari tempat itu. Namun, ia masih ingin mendengar balasan Kumal, lelaki yang ia incar selama ini, dan sekarang telah menjadi kekasihnya.


“Ya, ini memang kuburan, dan kita akan berkencan di kuburan,” balas Kumal begitu dingin.


Perempuan itu seperti sudah dipermainkan. Perempuan mana yang mau diajak kencan di tanah kuburan, meski laki-laki itu pun sangat ia sukai. Mustahil. Tidak ada satu pun perempuan di muka bumi ini yang mau diperlakukan demikian. Begitu pula dengan perempuan itu, dadanya terasa sesak, dan aroma cinta dalam dirinya telah menjelma menjadi benci.


Lantaran tidak kuasa membendung sakit karena dipermainkan, perempuan itu pun melayangkan tamparan ke pipi Kumal. “Buaya edan! Kukira kamu adalah lelaki romantis, ternyata kamu hanya pecundang dengan obsesi aneh.” Perempuan itu pun berlalu dari hadapannya.


Kumal tengah mengelus-elus pipinya kala perempuan itu pergi, tamparan itu cukup keras, dan hal itu terlihat amat menyakitkan. Ditampar dan ditinggal pergi, perihal itu sungguh menyebalkan. Namun siapa kira, memang itulah yang diinginkan oleh lelaki itu. Bila diingat-ingat lagi, perempuan barusan adalah perempuan kedua puluh dua yang telah Kumal ajak kencan ke pemakaman umum. Dan seperti yang kalian duga, dua puluh dua kali pula Kumal ditampar dan dicampakkan.


Ah, Kumal tidak benar-benar suka pada perempuan itu. sebab, ia hanya mencintai perempuan yang dapat ia ajak kencan di tanah kuburan. Entahlah, mengapa ia memiliki ambisi aneh seperti itu? tiada yang tahu, kecuali Kumal itu sendiri.


Dan sekarang—karena ambisi konyolnya itu—Kumal berdiri seorang diri di tanah kuburan ini. Ia memandang ke sekeliling dengan mata sendu, bunga kamboja bergoyang, tikus sesekali melintas, koak gagak terus menggema, dan terkadang angin menyerupai tentakel meraba tubuhnya dengan halus.


Ada banyak kenangan di pemakaman umum ini, mungkin lantaran itu pula Kumal memilih kontrakan tidak jauh dari pemakaman. Meski bulan sesekali ditelan awan hitam, ia masih melihat jelas bayangan anak kecil berlari di antara nisan-nisan. Ia tersenyum, potret kanak-kanak telah bergentayangan di kepalanya.

__ADS_1


Kumal ingin kembali ke masa itu, masa di mana ia menganggap kuburan sebagai rumah. “Kita semua akan mati, Nak, dan kuburan adalah rumah terakhir kita,” kata-kata itu kembali terngiang, membuatnya tidak kuasa membendung air mata. Lekas-lekas ia menyeka air mata itu, sebelum jatuh dan sebelum ada orang yang melihatnya. Seperti yang dikatakan orang itu di masa lalu, pantang bagi lelaki untuk menangis!


Dan di tengah-tengah Kumal meratapi kenangan masa kecil, terdengar suara tepuk tangan dari arah punggung. Siapa dia? Ia membatin. Betapa tepuk tangan itu kian waktu kian nyaring, menandakan bahwa sosok tidak dikenal itu sudah melangkah kian dekat. Dan seketika suasana menjadi hening, tepuk tangan itu berhenti bersamaan dengan lenyapnya nyanyian binatang malam.


Siapa dia sebenarnya? Kumal kembali membatin. Sosok tidak dikenal itu kini berada tepat di hadapannya, ia menunjukkan rupa, pak tua dengan pakaian serba hitam dan kumis tebal. “Hebat juga aneh, kamu mengajak perempuan tadi berkencan di tanah kematian ini,” puji pak tua itu.


Tampaknya, pak tua itu sudah lama berada di tempat ini, diam-diam dari balik pohon, ia menyaksikan pertunjukan dua sejoli yang sedang bercekcok satu sama lain. “Siapa kamu? Kenapa kamu ada di tempat ini? Mengapa kamu malah mengintip kami?” beberapa pertanyaan melayang dari mulut Kumal.


Pak Tua malah tertawa, menampakkan deretan gigi jarang-jarang. “Siapa namamu anak muda?”


“Kumal,” jawab pemuda itu. “G. Kumal Aksara”.


“Nama yang cukup indah untuk orang aneh sepertimu.”


“Siapa yang kau panggil aneh?!” Kumal naik pitam, Pak Tua yang datang entah dari mana itu telah memanggil ‘aneh’ dan membuatnya marah.


“Kamu,” balasnya tenang, terlihat seperti orang tidak bersalah.”Ya, tentu kamu yang aneh.”


“Kamu cukup pemberani wahai anak muda aneh,” lanjut Pak Tua karena tidak mendapat balasan. “Dan kenapa pula kamu sangat terobsesi untuk berkencan di kuburan bersama perempuan-perempuanmu?”


Kumal memalingkan muka, dari perkataan Pak Tua barusan, ia pun tahu bahwa Pak Tua itu bukan kali ini saja mengintip hubungan Kumal bersama perempuan-perempuannya. “Bukan urusanmu!” balas Kumal dengan lagak cuek bebek.


“Apa kamu tidak takut?”


“Takut?” Kumal terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan semacam itu, ia baru tahu, bahwa Pak Tua menyebalkan itu juga bisa melawak. “Apa yang harus kutakutkan, Pak Tua?”


“Hantu.”


Lagi-lagi jawaban itu mengocok perut Kumal, ia tidak bisa berhenti tertawa, meski air mata terus menitik dan perutnya mulai sakit. Pak Tua itu sungguh lucu.

__ADS_1


Namun, dari ekspresi datar Pak Tua itu, tampaknya ia tidak sedang melawak. Apa mungkin ia berbicara serius, lamun kutanggapi dengan bercanda? Pikir Kumal. Ia berhenti tertawa dan memulai pembicaraan yang cukup serius. “Pak Tua, tidak ada hantu di muka bumi ini. Hantu hanya ada untuk para penakut.”


“Apa kamu pernah melihatnya?”


“Melihat apa?”


“Hantu.”


“Tentu saja tidak. Sepanjang hidupku, meski aku menganggap kuburan sebagai rumah sendiri, tidak pernah sekali pun aku melihat hantu. Hantu itu tidak ada.”


Sejenak mereka diam, Pak Tua menatap tajam ke arah Kumal, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia mendekat, lantas berbisik di telinga Kumal. “Apa kamu ingin?”


“Ingin apa?”


“Melihat”


“Melihat apa?”


“Hantu”


“Lawakanmu sungguh tak lucu, Pak Tua,” balas Kumal, ia merasakan aura aneh mengelilingi tubuhnya. Ia juga merasa, Pak Tua itu lebih aneh daripadanya.


Pak Tua mendekat dan seketika ia menutup mata Kumal dengan tangannya, sontak Kumal pun meronta. “Apa yang kau lakukan, Pak Tua sialan!” umpat Kumal sembari terus meronta.


“Berhentilah bergerak wahai anak muda aneh.”


“Jangan panggil aku ‘anak muda aneh’ lagi!” pekik Kumal amat kesal.


Karena Pak Tua tak jua melepas tangannya, Kumal memilih untuk pasrah. Mungkin ia akan mengikuti cara main Pak Tua. Pak Tua itu mana mungkin hendak berbuat jahat, untuk berjalan pun ia susah, pikir Kumal mencari alasan.

__ADS_1


Kumal mulai bersikap tenang. Gelap. Ia tidak bisa melihat ke sekeliling lantaran Pak Tua menutup mata Kumal dengan tangannya yang keriput. Cukup lama hal itu berlangsung, sampai akhirnya Pak Tua melontarkan kata menyebalkan yang membuat hidup Kumal jauh lebih-lebih menyebalkan. “Aku akan membuka mata batinmu.” Sungguh kata itu sangat menyebalkan.


__ADS_2