
“Kalian terlalu banyak memuja cinta, sehingga kalian lupa, bahwa luka juga bisa cemburu,” ungkap Gemala membuat para pecinta bersorak-sorak ria. “Kukatakan ini, lantaran aku sudah kalah,” lanjutnya, sebelum ia benar-benar menarik pelatuk.
***
Dan tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa memang Penyair Gemala yang membuat Kumal jatuh hati pada syair-syair. Terdapat banyak derita dalam syair-syairnya, sehingga membuat banyak orang terpesona juga membuat hati perempuan meleleh dalam kehangatan cinta. Sungguh memang, seni terlahir dari tangis yang tidak bisa ditangisi.
Ya, semua bermula dari tangis untuk tangis dan kembali pula pada tangis. Bagi Kumal sendiri, tangis pertama muncul, tatkala ia bersujud di hadapan Arin, guna menangisi kepencundangannya. Kumal kecil tidak ingin menjadi pecundang, ia ingin belajar membaca dan menulis namanya sendiri.
Untunglah Arin bersedia, ia menjadikan Kumal sebagai teman atau malah mungkin teman hidup. Ia membuat Kumal berdiri, menyeka air matanya, dan kemudian mengangguk kepala tanda setuju. Sungguh, betapa bahagia hati Kumal Kecil waktu itu. ia seperti melihat secercah cahaya di balik senyuman gadis kecil.
Arin mengulurkan tangan yang disambut Kumal dengan ragu-ragu. Kala tangan mereka telah berpaut satu sama lain, ia menarik Kumal dan berlari bersama melintasi dan keluar dari pemakaman umum itu. Kumal seperti lari dari kematian.
Gadis kecil itu mengajak Kumal ke rumahnya, rumah yang berjarak tidak terlalu jauh dari pemakaman umum tempat Kumal dan bapak tinggal. Arin mengenalkan Kumal pada ibunya. Waktu itu, tubuh Bu Yunit masih ramping dan ia adalah janda berperawakan serupa perawan. “Ini temanmu, Arin?” tanya Bu Yunit yang disambut anggukan cepat oleh Arin. “Siapa namamu, Nak.”
“Hem...,” Kumal ragu-ragu menyebutkan nama. Perempuan itu terlalu cantik meski sudah menjadi janda.
“Kumal, Bu. G. Kumal Aksara,” Arin mengambil alih guna memperkenalkannya. “Ia sangat pemalu, Bu. Kata Paman Anggi, ia juga seorang pecundang.”
“Hus!” Bu Yunit melerai ucapan anak gadisnya yang kurang sopan. “Kumal bukan pecundang, Nak. Ia hanya malu untuk menampakkan keberaniannya.”
Kumal cengengesan mendengar pujian itu. Dan semenjak itu, ia menyukai Bu Yunit, ibu cantik yang baik hati. Namun, tanggapan Arin berbeda, ia tidak mau Kumal terlalu berbesar hati. “Tapi tetap saja, Bu. Untuk sekarang Kumal masih tetap pecundang. Ia bahkan tidak bisa membaca dan menulis namanya sendiri sepertiku,” balas Arin kurang suka dengan pujian ibunya.
Bu Yunit mengacak rambut gadis kecilnya geregetan. “Baiklah, terserah kamu saja. Tapi ingat, Nak, jangan pernah berbuat jahat pada temanmu. Nanti, kamu malah tidak punya teman sama sekali.”
Arin mencibir mendengar kata-kata bijak itu.
__ADS_1
“Baiklah, ibu mau masak dulu. Hai Nak Kumal, nanti makan bersama di sini, ya,” Bu Yunit pamit pergi. Kumal pun mengangguk tanda menyetujui.
Sehabis Bu Yunit pergi, Arin mengajak Kumal ke sebuah ruangan di belakang rumahnya. Kumal mengira, Arin hendak berbuat yang aneh-aneh. Namun, setelah sampai di ruangan itu, ia melihat pemandangan yang belum ia temui di kuburan. Ruangan itu berisi rak-rak yang berderet rapi. Ratusan buku bersemayam dalam rak-rak itu. Sungguh menakjubkan, tapi sayang, Kumal tidak bisa membaca.
***
Ternyata Bu Yunit hobi membaca. Ia suka membeli buku, meski semua uangnya harus habis karena membeli buku tersebut. Ia sangat tergila-gila pada buku, melebihi kegilaannya pada lelaki. Baginya, buku tidak lihai berbohong seperti mulut para lelaki.
Ia mengumpulkan buku-buku yang ia beli di ruangan belakang, dan itu sangat membantu bagi Arin juga Kumal. Dengan dikelilingi deretan buku saban hari, membuat Kumal semangat untuk rajin belajar membaca. Ia sangat ingin membaca buku-buku dalam ruangan itu. Ia penasaran, petualangan apa yang ia dapat dalam buku-buku itu.
“A.R.I.N dibaca?” tanya Arin yang bertingkah seperti guru. Kumal pun mengejanya tanpa protes.
“Arin!”
“Cantik!”
“Kalau dua kata ini disatukan. Dibaca?”
__ADS_1
“Arin Jelek!” Kumal mencibir. Ia tidak ingin mengatakan Arin Cantik, karena itu akan membuat gadis kecil itu tersipu malu. Ya, tapi sebaliknya, sekarang Arin sangat kesal. Ia meninggalkan Kumal begitu saja dan membuat anak itu belajar sendiri. Ujung-ujungnya Kumal pun meminta maaf, dan Arin memaafkan.
Mereka belajar dan bermain bersama saban hari. Mereka sangat dekat dan mereka memutuskan untuk bersahabat. Mereka tidak mengira, bahwa suatu saat nanti, persahabatan mereka pun akan menjadi cinta. Ya, cinta.
Dan karena ketekunan Kumal dalam belajar, ia pun mahir dalam hal membaca dan menulis. Namun, Kumal Kecil lebih suka membaca daripada menulis. Impiannya untuk menjelajahi buku-buku di ruangan buku Bu Yunit terwujud, ia hanya perlu untuk memulai.
Hasilnya, Kumal sangat tertarik pada buku melebihi sang guru Arin itu sendiri. Kumal bolak-balik ke ruangan itu untuk membaca. Ia membaca banyak buku dan ia juga mengetahui banyak hal. Ia membaca banyak buku fiksi seperti novel dan kumpulan puisi. Dari situlah, ia pun dipertemukan oleh syair-syair penyair terkenal bernama Gemala.
Gemala, ia selalu menyebut nama itu dalam igau. Kumal jatuh hati pada syair-syair milik Penyair Gemala. Ia membaca semua kumpulan puisi cinta Gemala. Karena penasaran, ia pun mencari sebuah buku yang membahas kehidupan Gemala sewaktu hidup. Ia terpesona. Ia bermimpi untuk menjadi seorang penyair seperti Gemala.
Dan tentu saja, perihal itu membuat Anggi Kusuma cemas. Namun, ia sendiri tidak punya hak untuk melarang Kumal untuk berhenti membaca syair atau bahkan menjadi penyair. “Apa kamu ingin menjadi Penyair, Nak?” tanya bapak suatu ketika.
“Tentu saja, aku tidak akan berhenti mengejar purnama, hingga aku mati kedinginan sekalipun,” balas Kumal dengan mantap, ia mencoba mempraktekan salah satu bait syair milik Penyair Gemala yang telah ia baca.
Anggi kusuma pun tersentak mendengar syair itu, ampas kenangan pahit masih melekat jelas di kepala. Namun, lagi-lagi ia tidak memiliki hak guna mengatur hidup dan petualangan sang anak. Ujung-ujungnya ia pun berkata, “Baiklah, Nak. Tapi jadilah penyair yang baik, ya.”
Senyum pun tersungging di bibir Kumal, ia sangat senang bapaknya merestui impiannya.
Kumal pun bergegas berlari menemui Arin, untuk menceritakan soal restu itu, dan Kumal juga ingin membacakan Arin sebuah puisi cinta yang ia temui di buku kumpulan syair Gemala. Meski mereka anak-anak sekalipun, cinta yang Gemala tebarkan akan selalu mekar untuk siapa saja.
Tiap hari aku dimabukkan senyumanmu.
Senyum tiada, bertengkarlah aku dengan rindu.
Maka tercipta bekas memar pipiku merah jambu.
__ADS_1
Aku menderita, tak apalah, sebab kenakalanku penuh cinta.
—Gemala