
Siapa sangka, bahwa kekasih misterius yang membuat Penyair Gemala menulis syair-syair tiada tanding, ia adalah Fana Ismi. Tiada yang menyangka, baik Kumal maupun Fana ismi sendiri.
Gemala memiliki rupa rupawan, hidung mancung, dan rambut panjang seperti tali tampar. Ia adalah penyair gelandangan yang mengembara guna mencari cinta sejati. Ia telah berjalan melintasi kampung ke kampung lain, desa ke desa lain, bahkan kota ke kota lain. Ia selalu disambut hangat oleh warga di wilayah yang ia kunjungi, sebab, ia tiada bosan melontarkan syair-syair cinta yang begitu indah. Syair-syair itu, mampu membuat para gadis senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Syair-syair Gemala membuat para gadis tergila-gila padanya.
Hingga akhirnya, Gemala pun terpaut di desa tempat Fana Ismi tinggal. Ia pertama kali melihat perempuan itu di ujung desa, Fana Ismi bersama perempuan-perempuan lain hendak mencuci pakaian ke sungai. Gemala melihat itu, melihat langkah gemulai seorang perempuan dengan wajah bak purnama. Segeralah Gemala pergi dan menghalangi langkah mereka. “Ada banyak bintang di langit sana, dan aku memilih jatuh di pangkuan purnama,” Gemala memberikan sebait syair pada perempuan-perempuan itu.
Perempuan-perempuan itu cekikikan melihat lagak seorang penyair gelandangan yang baru menginjakkan kaki di tanah ini. “Siapa purnama itu, wahai Penyair?” tanya salah satu perempuan itu.
“Purnama itu adalah kamu,” ucap Gemala syahdu sembari menyentil dagu Fana Ismi dengan jari. Fana Ismi terperanjat juga tersipu malu, mengingat syair indah itu diperuntukkan kepadanya.
“Hus,” salah satu perempuan lain tetiba menghempas tangan dan tatapan Gemala. “Jangan ganggu perempuan ini, sebab, perempuan ini telah memiliki seorang suami.”
Seketika Gemala celingak-celinguk dan bertanya, “Benarkah?”
Fana Ismi mengangguk pelan.
“Sungguh beruntung lelaki itu,” balas Gemala lirih dan sendu. Para perempuan cekikikan melihat perubahan raut penyair itu yang berubah cukup drastis. Hati Gemala yang sebelumnya penuh bunga-bunga saat melihat Fana Ismi, kini hati Gemala penuh duri-duri, saat tahu Fana Ismi telah memiliki seorang suami.
***
Gemuruh ombak di suatu malam.
Menghantam hatiku yang terdalam.
Melalui percikan kenangan.
Kau membasahiku perlahan.
Tulis Gemala. Ia hendak melupakan wajah bak rembulan itu, mengingat Fana ismi adalah perempuan bersuami. Namun, segigih apa pun ia mencoba, senyum Fana Ismi terus memburu kepalanya. Ia tidak bisa tidur nyenyak, kini hidupnya telah bergantung pada cinta yang tidak seharusnya. Saat teman bertanya, kenapa ia selalu bergadang. Ia pun menjawab, “Bagaimana bisa kupejamkan mata? Mata tertutup, wajah perempuan itu pun muncul. Mata terbuka, aku pun ngantuk.”
Teman-temannya tertawa mendengar itu. Mereka kira, Gemala sedang melawak.
Gemala benar-benar tidak bisa melupakan senyum Fana Ismi. Ia pun menyerah. Ia mengambil kertas dan pena tuk menulis secarik surat. Lantas, ia memanggil salah satu temannya yang asli desa sini, dan memerintahkan temannya itu tuk mengantar surat yang ia tulis pada Fana Ismi. “Apa kamu sudah gila? Perempuan itu telah bersuami,” serang sang teman sembari menggeleng-gelengkan kepala.
“Aku tahu, tapi aku sudah tergila-gila pada perempuan itu,” balas Gemala begitu santai.
Sang teman hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban itu. “Baiklah, aku akan mengantar surat ini, tapi jangan bawa-bawa aku bila kamu mendapat sebuah masalah.”
Gemala pun bersujud di kaki sang teman, dan berterima kasih puluhan kali.
***
Rindu. Apa rindu? Jangan-jangan rindu adalah jantungku yang berdegup tidak menentu. Tertulis dalam surat itu, dari: Gemala.
Surat itu datang lagi dan datang lagi saban malam. Surat itu bagaikan peluru yang menghujani Fana Ismi terus menerus. Awalnya, Fana Ismi merasa risih sendiri mendapat surat dari penyair itu, mengingat dirinya telah bersuami. Ia tidak mau menghianati suaminya, meski suaminya terlalu pendiam dan sedikit membosankan.
__ADS_1
Namun, surat itu selalu datang, meski Fana Ismi tidak berniat untuk membalasnya. Diam-diam ia membaca surat itu. Surat yang berisi syair-syair indah, lama-lama membuat Fana Ismi tersipu malu. Tiada mengira, ia pun mengharap surat itu datang saban malam. Sembari membaca syair-syair dalam surat itu, ia pun berani membayangkan lirikan Gemala yang begitu nakal.
Fana Ismi pun memutuskan untuk bertemu dengan Gemala. Malam itu dengan memakai jubah hitam dan kudung hitam, ia pun diam-diam menemui Gemala. Gemala sangat senang, dapat berjumpa dengan purnamanya kembali.
“Deg, deg, deg, suara tak asing kerap bertandang dari jantung, saat memandangmu,” sambut Gemala sembari tersenyum berseri-seri.
“Berhentilah berceloteh,” balas Fana Ismi agak kasar. “Aku ke sini hanya untuk bilang, berhentilah mengirimiku surat-surat bodoh itu.”
“Benarkah?”
Fana Ismi pun salah tingkah mendapat pertanyaan mendesak itu. Ia memang berbohong, bahwa ia tidak suka dengan surat-surat Gemala. “Ya, aku sudah bersuami.”
“Aku tidak peduli!” bentak Gemala acuh tidak acuh dengan keputusan Fana Ismi. Ia menekuk lutut, lantas meraih tangan perempuan itu. “Aku mencintaimu, Fi. Aku mencintaimu seperti perokok berat mencandukan tembakau atau pemabuk berat memuja-muja anggur.”
“Meski aku telah bersuami?”
“Sudah kubilang, aku tidak peduli.”
Malam pun menjadi hening, daun-daun kering terbawa angin, dan embun jatuh membasahi rerumputan. Malam itu, di lumbung jerami, mereka berdua berguling-guling, cekikikan, beradu bibir, dan menukar senyap dengan desah. Di atas bulan yang serupa perahu, mereka tidak mampu memendam hasrat seorang pecinta. Mereka menjadi sepasang kekasih dalam satu malam. Mereka bercinta, dan mengulangi lagi percintaan itu di malam-malam berikutnya tanpa merasa jenuh barang sejenak.
***
Dan di suatu malam yang ******, Fana Ismi tampak tergesa-gesa menghampiri Gemala. Ia berlari di antara rerumputan, dan tidak peduli bila seandainya harus menginjak beberapa duri. Kala ia mendapati tubuh Gemala, ia pun memeluk tubuh penyair gelandang itu dengan erat, seperti tidak ingin melepaskan barang sebentar. “Ada gerangan apa, Purnamaku, mengapa kamu menitikkan mutiara ke dadaku?” tanya Gemala dengan cemas.
“Bawa aku pergi, Kang. Bawa aku lari dari sini. Aku ingin lari dari suamiku dan kawin lari bersamamu,” desak Fana Ismi tiba-tiba, tidak kuasa menitikkan air mata.
“Aku hamil, Kang. Aku hamil anakmu.”
Mendengar kata hamil, tubuh Gemala seketika bergeming. Mungkinkah itu anakku? gumam Gemala, mengingat Fana Ismi telah bersuami.”Tunggu, apa kamu sudah memastikan janin itu adalah anakku?”
Fana Ismi menatap Gemala dengan nyalang, pertanyaan semacam itu menciptakan perih di hati perempuan itu. Ia pun menampar pipi Gemala, lantas berkata, “Apa kamu tidak percaya padaku?!”
“Tidak. Maksudku, kita baru melakukan itu beberapa kali,” balas Gemala jadi serba salah.
Tangis Fana Ismi pun semakin deras. Janji untuk selalu bersama itu hancur lebur oleh ketidakpercayaan. Fana Ismi tiada menyangka, bahwa lelaki yang sangat ia cintai, lelaki yang telah membawanya ke jurang perselingkuhan, ternyata hanyalah seorang pecundang yang tidak mau bertanggung jawab. “Beberapa kali katamu?” semprot Fana Ismi. “Bahkan, saat kita melakukan pertama kali, aku pun menjaga jarak dengan suamiku semenjak itu. Meski aku pun bercinta dengan suamiku, aku tidak akan mengandung, Kang. Sebab, suamiku mandul, tapi ia tidak pernah membuatku bersedih sampai saat ini. Suamiku memang pendiam, membosankan, dan mandul. Tapi, ia bukanlah pengecut dan tidak bertanggung jawab sepertimu.”
Cih! Fana Ismi pun dengan berani meludahi muka Gemala.
***
Dan semenjak Fana Ismi meludahi mukanya dan pergi, Gemala pun merasakan kehilangan. Saban malam, ia kerap menggigil dan menggigau nama Fana ismi. Ia ingin berjumpa dengan Fana Ismi lagi dan meminta maaf. Semestinya, tempo itu ia percaya, bahwa janin yang dikandung Fana Ismi adalah anaknya.
Fana Ismi tidak akan berbohong, ia tahu itu, sebab Fana Ismi adalah purnamanya yang dikirim Tuhan untuk menemaninya. Seharusnya, malam itu ia menyanggupi permintaan Fana Ismi tanpa bertanya lagi. Sehingga, mereka bertiga pun dapat hidup sebagai keluarga selamanya.
Sudah berbulan-bulan Gemala tidak bertemu dengan Fana Ismi, dan itu sangat menyakitkan. Ia ingin menghampiri Fana Ismi ke rumahnya, namun, lagi-lagi ia terlalu pecundang untuk melakukan hal tekad seperti itu.
__ADS_1
Hingga datang suatu waktu ia pun berjumpa dengan Fana Ismi di sebuah dermaga. Perut Fana Ismi mulai membesar dan ia tampak menunggu seseorang. Gemala berjalan menghampirinya, ia memegang bahu Fana Ismi dan berkata, “Maafkan aku, Purnamaku, maafkan aku. Maafkan aku yang telah tidak percaya padamu. Aku tahu, kamu tidak akan berbohong, aku tahu itu. Sekarang aku yakin, anak dalam perutmu itu adalah anak kita. Jika ia perempuan, mungkin ia akan secantik kamu. Jika laki-laki, ia juga akan memiliki hati yang lembut sepertimu. Maafkan aku, Purnamaku, maafkan aku. Kumohon, kembalilah ke dalam pelukanku, sebab aku tidak bisa hidup tanpamu.”
Antara bimbang dan bahagia Fana Ismi mendengar hal itu dari mulut kekasihnya. Namun, di satu sisi ia telah berjanji pada suaminya untuk kembali menjadi istri yang baik. Dan di sisi lain, tetap saja di dalam perut yang sudah membesar itu, terdapat janin hasil percintaan ia dengan Gemala.
Fana Ismi masih mencintai Gemala, maka ia pun bersedia tuk kawin lari bersama penyair itu dengan satu syarat. Ia tidak ingin pergi tanpa permisi terlebih dahulu pada suaminya. Sebab, akhir-akhir ini sang suami telah memberi cinta berlebih padanya, meski sang suami tahu, ia telah berselingkuh dan mengandung anak orang lain.
Gemala mengerti dan ia mengangguk pelan meski terasa berat.
Fana Ismi berjanji tuk kembali ke dermaga itu. Gemala akan menunggu sampai kapan pun. Namun, perempuan itu pun tak jua kunjung kembali. Dan mungkin, Fana Ismi memang takkan kembali.
***
Hingga rambut Gemala kian memanjang, kumisnya tumbuh lebat, begitu pula dengan berewoknya, Fana Ismi pun belum jua kembali. Mungkinkah Fana Ismi tak hendak menepati janji? pikir Gemal. Ia pun menepis pikiran itu, sebab, ia sangat percaya pada kekasihnya, purnamanya.
Dan di suatu waktu, di dermaga itu, saat Gemala kembali memeriksa kehadiran Fana Ismi, terdapat seorang lelaki menghampiri dan menyapanya, “Apa benar namamu Gemala?” tanya lelaki itu.
Gemala pun mengangguk pelan sedikit heran.
“Perkenalkan, aku adalah suami sah Fana Ismi, dan senang bertemu denganmu Gemala,” lelaki yang mengaku suami Fana Ismi itu pun mengulurkan tangan. Gemala menjabat tangan itu dengan sedikit ragu dan ternganga.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Di mana Fana Ismi? Di mana purnamaku?” Gemala menyerang lelaki itu dengan pertanyaan bertubi-tubi.
“Aku pun di sini karena istriku,” balas Suami Fana Ismi begitu santai.
“Apa maksudmu?”
“Istriku telah meninggal.”
“Ha?” Gemala tidak ingin percaya akan hal itu.
“Ya, Fana Ismi, perempuan yang kita cintai itu telah melayang ke surga.”
Gemala naik pitam, ia menarik kerah baju Suami Fana Ismi. “Apa maksudmu dengan mengatakan purnamaku telah meninggal?”
Bukan menjawab, Suami Fana Ismi malah tertawa terpingkal-pingkal.
“Kenapa kamu tertawa, ha?!” tanya Gemala seperti hendak dihina.
“Ha-ha, aku tertawa lantaran aku berjumpa denganmu. Berjumpa dengan selingkuhan istriku, ha-ha. Bodohnya, aku malah membiarkan istriku bercinta dengan orang lain. Ha-ha, aku melakukan itu karena aku sangat mencintai istriku. Bahkan, saat istriku mati, aku hanya bisa tertawa begini, ha-ha.”
Suami Fana Ismi tidak bisa berhenti tertawa, meski air matanya deras mengalir. Perihal itu membuat Gemala yakin, bahwa Fana Ismi benar-benar telah meninggal. Ia melepaskan cengkramannya pada kerah baju Suami Fana Ismi. “Bagaimana purnamaku meninggal?” Gemala memberanikan diri melontarkan pertanyaan, meski terasa berat dan menyedihkan.
Suami Fana Ismi bilang, istrinya meninggal saat melahirkan anak pertamanya. Ia mengalami pendarahan, ia begitu lemah, sehingga ia pun kehilangan nyawa. “Bagaimana dengan anakku?” tanya Gemala lagi. Suami Fana Ismi bilang, begitu pula dengan anaknya, ia juga menyusul Fana Ismi ke surga sana.
Sungguh menyedihkan, mereka—dua lelaki yang sangat mencintai Fana Ismi—bertemu satu sama lain dan saling bertukar cerita tentang rembulan yang pernah menghuni muka bumi ini. Hingga langit mulai petang, mereka pun memutuskan pulang.
__ADS_1
Mereka berjalan memunggungi satu sama lain. Suami sah Fana Ismi berjalan ke arah barat, tertawa terbahak-bahak tuk mengecoh air mata. Ia menganggap skenario hidupnya adalah drama komedi yang perlu ditertawakan. Maka, selepas pertemuan itu, ia pun tiada henti menertawakan kehidupan.
Sementara itu, penyair yang telah menjadi selingkuhan Fana Ismi berjalan ke arah timur, merunduk meratapi akhir cinta yang pedih. Ia tidak mau mendongakkan kepala, meski tubuhnya kerap menghantam tubuh orang lain yang berjalan berlawanan arah. Gemala sudah kalah. Kalah dihadapan cinta.