PEREMPUAN DAN KUBURAN

PEREMPUAN DAN KUBURAN
IA MASIH PECUNDANG


__ADS_3

Kumal kecil telah mahir membaca dan menulis namanya sendiri. Bahkan, sekarang ia telah punya idola dan impian. Ia telah mengenal Penyair Gemala dan ia ingin menjadi penyair sepertinya.


Sebagai bapak, Anggi Kusuma pun memiliki kewajiban untuk menyekolahkan Kumal ke sekolah dasar. Ketika umur Kumal sudah dibilang cukup, Kumal dan Arin pun mulai masuk sekolah. Mereka bersama-sama menginjakkan kaki di sekolah dan memandang secercah cahaya harap bersama-sama.


“Baiklah, karena aku sudah gede, aku tidak akan lagi menjadi pecundang,” tutur Kumal suatu ketika, di taman sekolah, yang kemudian disambut cibiran oleh Arin.


Di depan mata mereka, seorang anak berkacamata diganggu oleh tiga anak dari kelas lima. Mereka adalah Bobi dan dua anak buahnya. Mereka adalah anak nakal, suka mengganggu anak gadis, suka mencontek, dan suka memalak uang adik kelas.


“Benar kamu sudah tidak mau menjadi pecundang lagi, Mal?” tanya Arin kemudian.


“Tentu saja, lagian aku sudah gede,” balas Kumal dengan sangat bangga. Ia tidak menyadari, bahwa Arin memiliki niatan yang cukup licik.


“Baiklah, setidaknya buatlah aku percaya,” ujar Arin membuat Kumal bertanya-tanya. “Kamu lihat anak malang itu. Ia lagi diganggu oleh Bobi dan kawan-kawannya. Tolonglah dia, dan buktikan bahwa kamu bukan pecundang!”


Kumal menelan ludah memperhatikan tiga anak nakal itu. Ia tidak percaya dapat mengalahkan tiga anak sekaligus, apalagi nakal dan juga anak kelas lima seperti mereka. Namun di sisi lain, mana mungkin Kumal menarik kata-katanya untuk tidak akan menjadi pecundang lagi, itu lebih pecundang daripada pecundang.


“Baiklah, a..aku akan me... me... menolong anak malang itu,” Kumal menyanggupi meski ia sendiri kurang berani.


Dari kejauhan, Arin melihat keberanian Kumal yang setengah-setengah itu. Kumal berjalan perlahan menuju tempat eksekusinya sediri. Ia berteriak lantang pada Bobi. Ia mendekat dan disambut hangat oleh Bobi dan kawan-kawan. Bobi menarik kerah baju Kumal ke sebuah ruangan kosong.


Arin cemas, dari sini ia tidak dapat melihat Kumal lagi. Ia mencari Kumal juga Bobi. Ia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Kumal. Ia juga memasuki ruangan itu, di sana, Kumal merintih kesakitan lantaran ditendang-tendang oleh Bobi dan kawan-kawan. “Cukup!” pekik Arin menghentikan tendangan Bobi untuk sejenak.

__ADS_1


“Wah, sepertinya pahlawan kesiangan bertambah satu lagi, nih, ” ledek Bobi disambut dengan tawa para kawan-kawannya.


Arin kesal diperlakukan sedemikian, ia menghampiri Bobi, lantas menampar pipi Bobi dengan Keras. Perihal itu membuat Bobi geram, ia tidak terima ditampar oleh anak gadis, ia pun balik menampar. Arin masih menatap Bobi dengan sangar. Bobi mendorong Arin hingga terjatuh, gadis itu pun dikeroyok oleh tiga anak nakal itu.


Kumal hanya dapat terisak-isak melihat Arin dikeroyok. Ia tidak berniat menolong Arin, ia terlalu ketakutan untuk menolong sahabatnya. Kumal meringsut ke belakang dan semakin ke belakang. Saat ada cela, ia pun lari terbirit-birit meninggalkan ruangan itu, meninggalkan sekolah, juga meninggalkan Arin yang telah menyelamatkannya dan membiarkan sahabatnya itu dikeroyok oleh tiga anak nakal.


***


Kumal merasa sakit pada tubuhnya lantaran tendangan Bobi dan kawan-kawannya, lebih sakit lagi bila ia mengingat, telah meninggalkan Arin dan membiarkannya dikeroyok begitu saja. Ia tidak kuasa untuk menolong dan malah lari.


Dan dari kejauhan, Anggi Kusuma melihat sang anak duduk menunduk di atas nisan. Ia melihat arloji di tangannya, dan ia pun menyadari, anaknya pulang sebelum jam pulang. Ia pun mencoba menghampiri sang anak dan menanyakan perihal apa yang telah terjadi. “Ada masalah apa, Nak, hoho? Kenapa kamu pulang jam segini, hoho?” tanya Anggi Kusuma sembari membenarkan seragam anaknya yang kusut juga menyeka air matanya.


Kumal pun mendekap tubuh bapak erat-erat. Ia tampak ketakutan. Ia pun berkata sembari terisak-isak, “Maafkan aku, Pak. Maafkan aku. Aku masihlah seorang pecundang.”


Kumal pun menyeka sisa air matanya sendiri. Ia menenangkan diri dan mulai bercerita perihal yang sudah terjadi di sekolah. Perihal kejahatan Bobi dan kawan-kawannya. Perihal ia yang hendak melawan anak-anak nakal itu. Perihal Arin yang datang membantu. Dan perihal Arin yang telah dikeroyok dan ia tinggalkan.


Plok! Anggi Kusuma lantas menggasak kepala sang anak dengan kepalannya. “Aku sungguh malu memiliki anak sepertimu, hoho. Lelaki macam apa yang rela meninggalkan perempuan demi keselamatan dirinya sendiri, hoho. Hoho, kamu memang anak yang pecundang, Nak!” bentak bapak geram.


Bapak sungguh malu terhadap kepengecutan anaknya, itu terlihat ketika mata Anggi Kusuma memerah mendengar cerita Kumal di sekolah. Bapak pun meninggalkan Kumal, membiarkan anak itu menangis dan menangis, hingga ia puas untuk menangis, dan menyadari bahwa ia sangat-sangat pecundang. Lelaki yang tidak dapat melindungi perempuan, lebih pecundang dari pecundang.


***

__ADS_1


Sore hari, tatkala sinar matahari mulai meredup, Kumal mengepalkan tangan dan menghampiri Bobi dan kawan-kawan yang sedang bermain kelereng di lapangan. Ia masih terisak-isak, namun, ia tidak bisa berdiam diri saja dan bersembunyi dalam jurang bernama ketakutan.


Kumal tidak ingin menjadi pecundang, dan ia sudah berjanji tentang hal itu. Tadi pagi, ia telah membiarkan Arin, sahabatnya, babak belur. Sekarang ia ingin membalas prilaku kurang ajar itu. Lelaki tidak bisa disebut lelaki bila tidak bisa melindungi perempuan, kata bapaknya tadi membuat ia menekadkan diri untuk menghajar anak-anak nakal itu.


“Mau apa lagi kamu, Bocah. Belum puas kubuat kamu dan temanmu itu merengek ketakutan,” tanggap Bobi setelah mengetahui seseorang mendekat.


“aku bukan pecundang! Aku bukan pecundang! Aku bukan pecundang!” berkali-kali Kumal melafalkan kata itu. Bagai sihir, kata itu telah membangkitkan amarah Kumal. Matanya memerah, tangannya mengepal kuat, urat-urat menegang, dan ia mencoba menyerang Bobi.


Mulut Bobi berdarah karena pukulan Kumal. Perihal itu membuat Bobi marah. Dua teman Bobi, secepat mungkin membekam tangan Kumal. Kumal tidak bisa bergerak, Bobi bangkit dan hendak membalas pukulan itu. Melihat wajah Bobi yang menakutkan, Kumal ingin menangis, tapi ia menahan tangis itu, karena ia bukan pecundang.


Berkali-kali pukulan melayang ke wajah Kumal. Kumal meringis kesakitan. Darah mengalir cukup deras. Luka-luka di sekujur tubuh Kumal menciptakan sedikit perih. Belum lagi luka di hati. Kumal lemas, matanya linglung dan ribuan kunang-kunang menghampiri penglihatannya.


Untung bapak datang, ia menggampar anak-anak nakal itu sehingga tubuh mereka terhuyung-huyung. Kini giliran mereka yang ketakutan. “Dasar tukang ngadu!” umpat Bobi sebelum akhirnya lari terbirit-birit bersama kawan-kawannya.


“Jangan pernah ganggu anakku dan teman anakku lagi, hoho!” pekik Anggi Kusuma pada anak-anak nakal itu.


Sementara itu, Kumal yang kehilangan banyak darah, berjalan tergontai-gontai menghadap bapak. Ia pun mengeluarkan air mata, ia menangis, dan memeluk tubuh bapak cukup erat. “Maafkan aku, Pak. Maafkan aku. Aku jadi pecundang lagi. Aku jadi pecundang lagi, pak.”


“Tidak, Nak, hoho. Kamu bukan pecundang lagi, hoho,” balas bapak, sembari memeluk tubuh Kumal lebih erat. Ia mengelus-elus kepala Kumal. Ia seperti merasakan rasa pedih anaknya dalam dirinya.


“Keberanian bukanlah prilaku seorang pecundang, Nak, hoho. Tindakan beranimu barusan, melawan untuk melindungi temanmu, menandakan bahwa kamu bukan lagi pecundang, hoho. Jangan menangis, Nak, hoho, kalah pun tidak apa, yang penting jangan pernah mau jadi pecundang, hoho.”

__ADS_1


Bapak pun menjadi pecundang, lantaran tidak kuasa menahan air matanya lebih lama lagi. Ia ikut-ikutan menangis. Menangis bangga, lantaran sang anak telah membuktikan diri bahwa ia memang bukan pecundang.


__ADS_2